search
top

Pendidikan Pusaka untuk Sekolah di Indonesia

Gaya hidup pelestari pusaka budaya dan alam sebagai karakter bangsa dimulai sejak dini

Oleh: Laretna T. Adishakti

Pusaka alam, budaya maupun saujana (natural, cultural and cultural landscape heritage) ada di mana-mana. Kasat mata ataupun dalam jiwa. Ada pusaka dunia dan nasional seperti Candi Borobudur, Pulau Komodo atau Taman Nasional Bukit Barisan. Tidak sedikit pusaka lokal, dari provinsi hingga kota dan desa seperti misalnya rumah tradisional, seni tari, bahasa, musik dan lagu, dll.. Setiap waktu bisa pula melihat dan merasakan pusaka masyarakat/komunitas, di antaranya pohon, bangunan, upacara lokal, dll. Belum lagi pusaka keluarga, yang sering kali tanpa disadari, selalu diupayakan untuk dilestarikan seperti rumah/tanah, foto keluarga, keris, dll. Bahkan tiap insanpun sebenarnya punya ”pusaka saya” yang sangat personal, apapun ragamnya.

Sejatinya mencegah kerusakan, memelihara dan melestarikan pusaka merupakan bagian dari gaya hidup. Bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Tua maupun muda, dan anak-anak sekalipun. Mengenal untuk kemudian memahami keragaman, makna dan fungsi pusaka dalam kehidupan memang perlu diupayakan sejak dini. Pendidikan di Sekolah Dasar merupakan media yang sangat penting dalam upaya ini.

Untuk itulah program Pendidikan Pusaka untuk Sekolah di Indonesia yang digalakkan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) diawali dengan proyek percontohan di Sekolah Dasar di Daerah Istimewa Yogyakarta mulai Januari 2008 hingga Januari 2010.  Bekerjasama dengan Erfgoed Netherland/EN (the Netherlands Institute for Heritage)  dan Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional, BPPI  membentuk Tim Pendidikan Pusaka. Serangkaian program telah dirancang dan dilaksanakan. Memang kerja sama dengan EN berakhir bulan Januari 2010, namun BPPI dan Pusat Kurikulum DEPDIKNAS akan terus menumbuh kembangkannya.

 

I. PUSAKA (ALAM & BUDAYA) – KARAKTER BANGSA INDONESIA

Indonesia sangat kaya dengan limpahan pusaka alam dan budaya yang bernilai tinggi, beraneka ragam dan unik. Pusaka alam dan budaya yang menyatu membentuk pusaka saujana menyiratkan kearifan manusia dalam mengolah kelestarian alamnya. Pusaka-pusaka tersebut memiliki kekuatan untuk menjadi media bagi bangsa Indonesia mempelajari masa lalunya. Ini semua merupakan kekayaan yang tiada tara  menyebar ke berbagai pelosok tanah air. Meskipun kenyataan menunjukkan pula bahwa tidak sedikit pusaka yang terusik, terusak, dirusak hingga dihancurkan. Banyak pula pusaka yang memusnah, yang bisa jadi generasi mendatang sudah tidak akan menemui dan menikmatinya. Sementara itu dicermati dari mekanisme pengelolaan pusaka serta dukungan peraturan yang memproteksi masih sangat terbatas. Bahkan pada dasarnya pusaka belum secara sistematik terkelola. Pengelolaan pusaka masih pula dibedakan/terpisah antara budaya dan alam. Padahal kenyataan menunjukkan pula bahwa budaya tradisi di berbagai penjuru tanah air umumnya didedikasikan untuk keseimbangan dan kelestarian alam. Pada tahun 2000, sejumlah pelestari pusaka dari banyak daerah di Indonesia sepakat membentuk Jaringan Pelestarian Pusaka Indonesia demi menyelamatkan pusaka alam dan budaya Indonesia serta gabungan antara keduanya.

Tahun 2003, dalam rangka Tahun Pusaka Indonesia, Jaringan Pelestarian Pusaka Indonesia/JPPI bekerjasama dengan International Council on Monuments and Sites/ICOMOS Indonesia dan Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia  mendeklarasikan Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia 2003. Dinyatakan bahwa pusaka Indonesia adalah pusaka alam, pusaka budaya, dan pusaka saujana. Pusaka alam (natural heritage) adalah bentukan alam yang istimewa. Pusaka budaya (cultural heritage) adalah  hasil cipta, rasa, karsa, dan karya yang istimewa dari lebih 500 suku bangsa di Tanah Air Indonesia, secara sendiri-sendiri, sebagai kesatuan bangsa Indonesia, dan dalam interaksinya dengan budaya lain sepanjang sejarah keberadaannya. Pusaka saujana (cultural landscape heritage) adalah gabungan pusaka alam dan pusaka budaya dalam kesatuan ruang dan waktu.
Tahun 2004, Badan Pelestarian Pusaka Indonesia didirikan dan berkedudukan di Jakarta. Program utama BPPI adalah:

  1. a. Menyiapkan masukan untuk kebijakan, strategi, program, panduan dan mekanisme pelestarian;
  2. b. Membantu peningkatan kapasitas dan gerakan pelestarian, bekerjasama dengan berbagai lembaga, komunitas, dan dunia usaha melalui bantuan teknis, pendidikan dan pelatihan, lokakarya, seminar, pengembangan database dan website, publikasi, dan promosi;
  3. c. Mengembangkan sistem pendanaan pelestarian pusaka Indonesia bekerjasama dengan lembaga nasional dan internasional, dunia usaha dan komunitas, mengusulkan insentif, peringanan pajak, dan dukungan dari berbagai lembaga,

 

Menjadi bagian dari program utama tersebut adalah mempersiapkan generasi mendatang  yang mampu menghargai dan bertindak untuk memelihara, melestarikan dan mengelola pusaka dengan tepat. Menjadi manusia pelestari, apapun profesinya, hendaklah menjadi gaya hidup bagi setiap insan di Indonesia yang dilingkupi dengan kekayaan pusaka alam dan budaya. Gaya hidup ini merupakan karakter bangsa yang nyata. Suatu tindakan keseharian yang mendarah daging, sebagaimana telah ditunjukkan oleh nenek moyang bangsa Indonesia dengan segala kearifannya dan sepenuh hati.mengelola alam raya.
Anak-anak melalui wadah pendidikan sekolah sudah saatnya dipersiapkan menjadi pelestari budaya dan alam melalui gaya hidupnya, apapun profesi mereka nantinya. Tahun 2007, BPPI mempersiapkan program Pendidikan Pusaka untuk Sekolah di Indonesia, diawali dengan mengutamakan program di Sekolah Dasar.

 

II. MEMBANGUN PENDIDIKAN PUSAKA UNTUK SEKOLAH

1. Mulai dari Sekolah Dasar di Daerah Istimewa Yogyakarta

Pada tanggal 5 Mei 2005, di Kedutaan Belanda Jakarta, Memorandum of Understanding (MOU) tentang ”Heritage Education in Primary Schools in Indonesia” ditandatangani oleh DR. Setyanto P. Santosa (Ketua, Badan Pelestarian Pusaka Indonseia) dan Richard Hermans (Direktur, Erfgoed Netherland). Tujuan proyek ini  adalah membuat anak-anak di Indonesia peduli terhadap kekayaan pusaka yang beragam yang terdapat di sekelilingnya, serta mereka akan mampu menilainya dengan lebih baik. Melalui hal ini pula, generasi mendatang akan menjadi lebih perhatian terhadap tanggung jawab bersama untuk mewariskan pusaka ke generasi masa datang. Kepedulian publik merupakan faktor kunci dalam pelestarian pusaka masa depan. Namun, pusaka hendaknya juga merupakan sesuatu yang menyenangkan untuk dipelajari dan dapat digunakan dengan banyak cara yang berbeda dalam pendidikan baik secara umum maupun di sekolah dasar pada khususnya.

Pendidikan pusaka merupakan pendekatan dalam ajar mengajar yang menggunakan informasi pusaka alam, budaya bendawi maupun tak bendawi, serta pusaka gabungan alam & budaya (saujana) yang tersedia sebagai sumber daya pembelajaran. Melalui pendidikan pusaka anak-anak dapat mengembangkan perhatian terhadap kesejarahan. Kontak dengan keaslian yang masih ada memberikan kedekatan pada masa lalu. Bekerja bersama pusaka anak-anak dapat meningkatkan respek terhadap apa yang ditinggalkan pendahulunya dan mereka menjadi peduli terhadap nilai pelestarian suatu pusaka untuk masa depan mereka.

Pendidikan pusaka untuk anak-anak adalah penting karena mereka merupakan generasa masa datang, mereka akan menetapkan keputusan masa datang tentang pelestarian pusaka. Untuk membuat keputusan penting ini anak-anak perlu memiliki kepedulian terhadap pusaka di sekelilingnya. Oleh karena itu, pusaka di lingkungan langsung anak-anak akan menantang mereka untuk menyelidiki dan cara memandang mereka akan berbeda pula terhadap pusaka-pusaka tersebut. Sebagai hasil dari pendidikan pusaka anak-anak dapat melihat pusaka dengan cara yang berbeda karena mereka memahami apa yang dilihatnya.

BPPI dan EN yang kemudian bekerjasama dengan Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional menetapkan kasus percobaan untuk Sekolah Dasar di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pertimbangannya adalah karena Yogyakarta memiliki pusat pelestarian pusaka yang aktif. Kemudian banyak pusaka budaya yang tersebar di Yogyakarta maupun daerah di sekelilingnya. Mulai dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, kompleks candi Prambanan yang terkenal, hingga pusaka budaya seperti batik, gamelan dan wayang kulit. Terlebih Yogyakarta merupakan kota yang relatif besar yang dikelilingi dengan desa-desa kecil. Dengan menyertakan sekolah-sekolah dari kota hingga desa, metode pembelajaran mungkin akan berbeda di setiap sekolah. Pengalaman dan material yang dikembangkan dalam proyek percontohan di Yoyakarta ini akan disebarluaskan ke berbagai tempat di Indonesia. BPPI akan bertanggung jawab terhadap diseminasi hasil proyek ini secara khusus dan promosi pendidikan pusaka secara umum.

2. Skema Pelaksanaan Pendidikan Pusaka untuk Sekolah Dasar di DIY

Proyek percontohan BPPI, EN dan PUSKUR (2008 – 2009) ini dipersiapkan dan dilaksanakan melalui serangkaian program, yaitu:

  • Pembentukan Tim Pendidikan Pusaka BPPI
  • Penyusunan Buku Panduan Guru SD dalam Pendidikan Pusaka
  • Penetapan SD untuk proyek percontohan Pendidikan Pusaka
  • Pelatihan untuk Guru SD tentang Pendidikan Pusaka, dan penyusunan rencana pelaksanaan Pendidikan Pusaka di sekolah masing-masing
  • Pembentukan Forum Guru Pendidikan Pusaka DIY
  • Pelaksanaan Pendidikan Pusaka di tiap sekolah
  • Kunjungan Tim Pendidikan Pusaka BPPI ke EN dan Pembelajaran Pendidikan Pusaka di Belanda
  • Penyusunan Buku Seri Pendidikan Pusaka untuk Anak dan  Pembentukan Tim Kreatif
  • Monitoring dan Evaluasi pelaksanaan Pendidikan Pusaka di sekolah dan Pertemuan rutin Forum Guru Pendidikan Pusaka DIY
  • Diseminasi

 

a. Pembentukan Tim Pendidikan Pusaka BPPI
Pada akhir Desember 2007,  Tim Pendidikan Pusaka BPPI (Tim PP-BPPI) mulai dibentuk. Anggota tim terdiri dari para pelestari pusaka dengan ragam pusaka yang digeluti berbeda-beda.

b. Penyusunan Buku Panduan Guru SD dalam Pendidikan Pusaka
Panduan Pendidikan Pusaka pada dasarnya belum ada. Demikian pula referensi tentang pusaka secara komprehensif terkait dengan keseluruhan ragam pusaka juga belum ditemui. Tim PP-BPPI memulai penyusunan panduan ini dari mencari kesepakatan keseluruhan Tim tentang pemahaman pusaka dan ragamnya yang sangat banyak serta kedalaman panduan hingga kesesuaian dengan target kompetensi murid.

Draft awal panduan diselesaikan dalam waktu 10 bulan dan digunakan pertama sebagai bahan ajar pelatihan Guru SD tentang Pendidikan Pusaka. Setelah para guru peserta pelatihan mencoba melaksanakan program Pendidikan Pusaka di sekolah masing-masing, banyak masukan dan bahan untuk penyempurnaan panduan ini menjadi Draft Final Panduan.  Sebelum naik cetak sebagai hasil penyusunan yang Final, buku Draft Final Panduan ini akan disebarluaskan dalam Seminar Internasional tentang Pendidikan Pusaka yang akan diselenggarakan tgl. 23 Januari 2010 di University Club, Universitas Gadjah Mada serta pameran dari tgl. 22 – 29 Januari 2010 di Pusat Kebudayaan Indonesia-Belanda  Karta Pustaka. Diharapkan peserta seminar dan pengunjung pameran memberikan masukan tertulis untuk buku panduan ini.

Buku Panduan Guru SD untuk Pendidikan Pusaka berisikan:

 

Bab I. PELESTARIAN PUSAKA

  1. 1.1 Latar Belakang
  2. 1.2 Pengertian Pusaka dan Pelestarian
  3. 1.3 Jenis-jenis Pusaka
  4. 1.3.1 Pusaka Budaya (pusaka bendawi dan tak bendawi)
  5. 1.3.2 Pusaka Alam
  6. 1.3.3 Pusaka Saujana
  7. 1.4 Tingkat Pusaka dan Pengelolaannya
  8. 1.5 Perkembangan Pelestarian Pusaka
  9. 1.6 Manfaat Fisik, Ekonomi, dan Sosial Budaya
  10. 1.7 Upaya dan Bentuk Pelestarian Pusaka
  11. 1.8 Organisasi dan Peraturan Perundangan

 

Bab II. KERANGKA PENDIDIKAN PUSAKA

  1. 2.1    Murid sebagai Pelaku dan Penerus Pelestarian
  2. 2.2    Tujuan dan Sasaran Pendidikan Pusaka
  3. 2.3    Pendekatan dan Alat Bantu
  4. 2.4    Dua Jalur Pembelajaran
  5. 2.5    Urutan Pembelajaran dan Alokasi Waktu
  6. 2.6    Standar Kompetensi
  7. 2.7    Uji kemampuan
  8. 2.8    Tindak lanjut
  9. 2.9    Catatan

 

Bab III. MATERI PENDIDIKAN PUSAKA

  1. 3.1. Pusaka Budaya Bendawi
  2. 3.1.1. Pusaka Budaya Bendawi Bergerak
  3. 3.1.2. Pusaka Budaya Bendawi Tak Bergerak
  4. 3.2. Pusaka Budaya Non Bendawi
  5. 3.2.1. Sastra Lisan
  6. 3.2.2. Aksara dan Sastra Tertulis
  7. 3.2.3. Musik
  8. 3.2.4. Tari
  9. 3.2.5. Teater Tradisional
  10. 3.2.6. Teater Boneka
  11. 3.2.7. Seni Rupa
  12. 3.2.8. Seni Kriya
  13. 3.2.9. Seni Busana
  14. 3.2.10. Pusaka Kuliner
  15. 3.2.11. Obat dan Pengobatan Tradisional
  16. 3.2.12. Seni Bela Diri
  17. 3.2.13. Dolanan (Permainan Anak-anak)
  18. 3.2.14. Upacara Tradisional
  19. 3.3. Pusaka Alam dan Saujana
  20. 3.3.1. Sistem Ekologi
  21. 3.3.2. Pusaka Alam
  22. 3.3.3. Pusaka Saujana

 

Bab IV.  CONTOH-CONTOH PEMBELAJARAN

Bab V.    SUMBER-SUMBER INFORMASI LAIN

Lampiran:

  1. 1. Jelajah Pusaka Saujana Yogyakarta
  2. 2. Jelajah Pusaka Saujana Prambanan

 

c. Penetapan SD untuk proyek percontohan Pendidikan Pusaka
Keragaman alam dan budaya Yogyakarta merupakan salah satu penentu penetapan Sekolah Dasar yang akan menjadi peserta proyek percontohan. Lokasi yang beragam dari kota, desa hingga gunung akan berpengaruh pula dengan metoda pembelajaran Pendidikan Pusaka. Untuk itu kriteria juga mengikuti kondisi lokasi. Selain itu Tim PP-BPPI berkonsultasi juga ke Dinas Pendidikan  DIY. Sekolah Dasar peserta Pendidikan Pusaka adalah:

  • - Kota Yogyakarta: SDN Ungaran I, SDN Kotagede I
  • - Kab. Sleman: SD Tarakanita Tritis, SD Budi Mulia Dua
  • - Kab. Bantul: SDN Bantul Manunggal, MI Ma’arif Giriloyo I, Imogiri, MI Ma’arif Giriloyo II, Imogiri
  • - Kab. Kulon Progo: SDN Kembang Malang, SDN Wonorejo I, SDN Wonorejo II
  • - Kab. Gunung Kidul: SDN Jragum, SDN Selang

 

d. Pelatihan untuk Guru SD tentang Pendidikan Pusaka, dan penyusunan rencana pelaksanaan Pendidikan Pusaka di sekolah masing-masing

Pelatihan dilaksanakan di Hotel Galuh, Prambanan pada bulan November 2008 secara intensif selama 4 hari: pagi, siang, sore dan malam. Pembelajaran dilaksanakan di ruang kelas maupun kunjungan dan jelajah lapangan (lihat lampiran). Dalam pelatihan tersebut peserta diberi tugas untuk menyusun rencana pelaksanaan Pendidikan Pusaka di sekolah masing-masing. Rencana tersebut dipresentasikan di akhir pelatihan

e. Pembentukan Forum Guru Pendidikan Pusaka DIY
Ketika pelatihan berakhir, Forum Guru Pendidikan Pusaka DIY dibentuk sebagai sarana komunikasi, ajang diskusi ilmu dan silaturahmi. Disepakati Forum bertemu secara rutin.

g. Pelaksanaan Pendidikan Pusaka di tiap sekolah
Sesuai rencana Pendidikan Pusaka yang disusun ketika mengikuti pelatihan, masing-masing mencoba melaksanakan rencana tersebut. Hasil dari pelaksanaan tersebut dilaporkan ketika diselenggarakan pertemuan Forum Guru Pendidikan Pusaka. Pada awal pelaksanaan, beberapa sekolah merasa canggung dan belum mencapai sasaran yang diharapkan. Namun ketika melihat hasil dari sekolah lain yang mantab melaksanakannya tumbuh semangat baru dari para guru.

h. Penyusunan Buku Seri Pendidikan Pusaka untuk Anak & Pembentukan Tim Kreatif
Pada dasarnya partisipasi dan semangat luar biasa para guru SD anggota Forum telah ditunjukkan dalam pelaksanaan pendidikan pusaka di sekolah masing-masing. Melihat  tersebut Tim PP-BPPI menawarkan kepada para guru untuk juga menulis sendiri bahan bacaan pendidikan pusaka untuk murid-muridnya, yang kemudian dapat pula menjadi bahan bacaan bagi sekolah-sekolah lain di DIY. Untuk mendukung pekerjaan ini dibentuk pula Tim Kreatif  yang terdiri para ilustrator muda berbakat. Bersama Tim PP-BPPI mengolah naskah dari para guru menjadi buku Seri Pendidikan Pusaka untuk Anak (SPPA) lengkap dengan ilustrasi gambar berwarna dan menarik. Secara bertahap pusaka didata, diungkapkan dan diceritakan. Di awali dengan 21 buah buku, SPPA akan terus diproduksi. Masih ribuan pusaka di DIY yang perlu ditunjukkan dan dijelaskan.

Judul Seri Pendidikan Pusaka untuk Anak yang sementara ini sudah dihasilkan:

  1. 1. Selokan Mataram
  2. 2. Jumputan, Seni Celup Ikat
  3. 3. Gobag Sodor
  4. 4. Tari Kraton Putri
  5. 5. Bakpia, Kelezatan dari Jogja
  6. 6. Jelajah ke Bukit Turgo
  7. 7. Ayo Belajar Membatik
  8. 8. Apotik Hidup
  9. 9. Panatacara
  10. 10. Gumbregan
  11. 11. Aku dapat Menganyam
  12. 12. Dakon
  13. 13. Tiwul Makanan Kesukaanku
  14. 14. Tamansiswa
  15. 15. Sejarah SDN Ungaran
  16. 16. Belalang, Makanan Khas dari Wonosoari
  17. 17. Geplak
  18. 18. Kipo
  19. 19. Makanan Tradisional Gunung Kidul
  20. 20. Tempe
  21. 21. Sejarah Masjid Syuhada

 

i. Kunjungan Tim Pendidikan Pusaka BPPI ke EN dan Pembelajaran Pendidikan Pusaka di Belanda
Untuk mempelajari perkembangan Pendidikan Pusaka di Belanda, Tim PP-BPPI berkunjung ke beberapa lembaga pusaka dan kasus pelestarian pusaka di Belanda.

j. Monitoring dan Evaluasi pelaksanaan Pendidikan Pusaka di sekolah
Selama pelaksanaan uji coba Pendidikan Pusaka di masing-masing sekolah, selain evaluasi diselenggarakan saat pertemuan Forum Guru Pendidikan Pusaka DIY, Tim PP-BPPI melakukan road-show untuk melihat langsung ke masing-masing SD. Hasil detil MoNev sedang diselesaikan.

k. Diseminasi
Diseminasi dilaksanakan melalui Newsletter, Website, Pameran, Diskusi Terbuka dan Seminar Internasional.

  • - Newsletter:  Diterbitkan bekerjasama dengan Majalah Gong
  • - Website sedang dipersiapkan dengan alamat http://pendidikanpusaka.org.
  • - Pameran akan diselenggarakan tgl. 22 – 29 Januari 2010, di Karta Pustaka, Pusat Kebudayaan Indonesia Belanda, Yogyakarta
  • - Diskusi Terbuka akan diselenggarakan tgl. 22 Januari di UC UGM, Yogyakarta
  • - International Seminar on Heritage Education in Primary Schools in Indonesia akan diselenggarakan pada tgl. 23 Januari 2010 di UC UGM, Yogyakarta

 

III. TANTANGAN KE DEPAN

Upaya Pendidikan Pusaka untuk Sekolah di Indonesia memang baru dimulai dari Jogja ini.. Walau di bulan Januari 2010 kerjasama BPPI & EN berakhir, BPPI dan Pusat Kurikulum Depdiknas, termasuk para guru dari 13 SD yang telah tergabung dalam Forum Guru Pendidikan Pusaka DIY, akan terus menggelorakan Pendidikan Pusaka di Yogyakarta maupun seantero Indonesia. Persoalannya adalah apa yang telah diupayakan ini baru setitik embun di antara belantara pusaka yang sering kali tidak tersentuh bahkan banyak pula yang menuju ke kerusakan. Jalan masih panjang.

Kolaborasi dengan banyak pihak seperti para guru, pemerintah daerah, pihak swasta, penggiat pelestarian pusaka, masyarakat sangat diperlukan. Di samping itu  masukan, kritik membangun hingga koreksi dari semua pihak yang terkait juga dibutuhkan.  Sementara itu apa yang telah diuji cobakan, dikerjakan, dan dihasilkan diharapkan  mampu pula memberikan inspirasi dalam mengembangkan Pendidikan Pusaka untuk Sekolah di Indonesia maupun untuk Siapa Saja! Karena pusaka memang di mana-mana, perlu peran serta semua kalangan. Semoga Pusaka Indonesia lestari adanya.

—-

Tulisan ini disampaikan dalam seminar pendidikan pusaka yang digelar di Departemen Pendidikan Nasional di Jakarta pada 14 Januari 2010.

Laretna T. Adishakti – Ketua Tim Pendidikan Pusaka, Badan Pelestarian Pusaka Indonesia/BPPI bekerjasama dengan Erfgoed Netherland dan Pusat Kurikulum DEPDIKNAS; Staf pengajar & peneliti, Center for Heritage Conservation, Jur. Arsitektur dan Perencanaan FT, UGM; Anggota Dewan Pimpinan BPPI; Ketua, Jogja Heritage Society. Email: adishakti.sita@gmail.com;

Badan Pelestarian Pusaka Indonesia – Indonesian Heritage Trust yang berkedudukan di Jakarta adalah sebuah organisasi nirlaba bergerak dalam bidang pelestarian yang bertujuan melakukan penguatan upaya pelestarian pusaka di Indonesia. Visi BPPI adalah mengawal kelestarian pusaka Indonesia yang diaplikasikan melalui beragam misi kegiatan pelestarian baik alam, budaya dan saujana dengan pelibatan semua pemangku kepentingan terkait baik di pemerintah dan masyarakat sendiri.

Leave a Reply

top