<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pendidikanpusaka.org</title>
	<atom:link href="http://pendidikanpusaka.org/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pendidikanpusaka.org</link>
	<description>Pendidikan Pusaka untuk Anak Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sun, 20 Mar 2011 12:23:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Pendidikan Pusaka untuk Anak</title>
		<link>http://pendidikanpusaka.org/column/pendidikan-pusaka-untuk-anak.html</link>
		<comments>http://pendidikanpusaka.org/column/pendidikan-pusaka-untuk-anak.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 07:44:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elanto Wijoyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Bantul]]></category>
		<category><![CDATA[BPPI]]></category>
		<category><![CDATA[EN]]></category>
		<category><![CDATA[Gunungkidul]]></category>
		<category><![CDATA[Kulon Progo]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen program]]></category>
		<category><![CDATA[muatan program]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[Sleman]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendidikanpusaka.org/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[Membangun Strategi Pelestarian Pusaka melalui Jalur Sekolah¹ oleh: Elanto Wijoyono² dan Laretna T. Adishakti³ &#8221;Apresiasi adalah modal bagi konservasi (pelestarian). Tanpa pendidikan maka konservasi akan berhenti. Pendidikan tanpa dasar budaya maka akan tidak punya makna dan warna. Sangat disayangkan, pendidikan di Indonesia saat ini dibangun dan dikembangkan tanpa didasari budaya yang kita miliki sendiri.&#8221; Prof. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Membangun Strategi Pelestarian Pusaka melalui Jalur Sekolah</strong>¹</p>
<p style="text-align: justify;"><em>oleh: Elanto Wijoyono² dan Laretna T. Adishakti</em>³</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="../"><img title="Pendidikan Pusaka untuk Sekolah Dasar di Indonesia" src="http://lh4.ggpht.com/_qi6lEl1QApI/S2b-oq4r2BI/AAAAAAAAAHU/bKr5z6oPA_Y/2010-02-01_231200.png" alt="" width="306" height="104" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8221;Apresiasi  adalah modal bagi konservasi (pelestarian). Tanpa pendidikan maka  konservasi akan berhenti. Pendidikan tanpa dasar budaya maka akan tidak  punya makna dan warna. Sangat disayangkan, pendidikan di Indonesia saat  ini dibangun dan dikembangkan tanpa didasari budaya yang kita miliki  sendiri.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Prof.  Wuryadi, Dewan Pendidikan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta,  menyampaikan pesan itu pada hari keempat Pelatihan Pendidikan Pusaka  untuk Guru Sekolah Dasar di Hotel Galuh, Prambanan, pada awal bulan  November 2008 lalu. Dalam kesempatan itu beliau menekankan bahwa  pelestarian pusaka adalah penting sebagai dasar pembentuk karakter  manusia bangsa. Pendidikan pusaka pun menjadi langkah penting, yang  dalam penerapannya harus dilakukan dengan pendekatan dan metode yang  memungkinkan munculnya apresiasi atas dasar rasa yang kemudian dapat  membangun kepahaman.</p>
<p style="text-align: justify;">Penerapan  pendidikan nasional Indonesia yang lebih cenderung mengukur pengetahuan  dan kognitif justru dikhawatirkan dapat mengurangi atau bahkan  menghilangkan nilai pusaka itu sendiri ketika coba diintegrasikan dalam  pembelajaran di jalur sekolah formal. Model standardisasi yang masih  digunakan dalam penerapan pendidikan nasional adalah situasi yang  berlawanan dengan semangat pengembangan kebebasan berapresiasi dan  berekspresi. Sentuhan dalam pendidikan nasional Indonesia lebih banyak  memberikan porsi pada proses pembelajaran yang memerdekakan pikiran.  Sementara, hal itu berbeda dengan prinsip proses pendidikan yang  bertujuan memerdekakan nurani; rasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat potensi pusaka (<em>heritage</em>)  Nusantara yang sangat beragam tersebar di seluruh pelosok ini maka  memang akan sangat sayang jika pusaka kemudian hanya bisa berhenti  sebagai pengetahuan. Pusaka, yang terdiri dari kesatuan ragam pusaka  alam, budaya, dan saujana itu, pada saat ini semakin lama menghadapi  tantangan agar dirinya dapat lestari. Tantangan dan ancaman kelestarian  pusaka itu muncul baik dari pengaruh kejadian alam maupun akibat  pengaruh dinamika kebudayaan manusia Indonesia dan dunia. Dari sisi  tersebut, muncul desakan kuat bagi kita untuk dapat membangun strategi  pendidikan pusaka dengan semangat prinsip pendidikan yang membebaskan  nurani dengan lebih banyak memberikan porsi membangun rasa, yang  kemudian secara otomatis dapat membangun pengetahuan itu sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pendidikan Pusaka di Sekolah Dasar di Daerah Istimewa Yogyakarta; sebuah upaya ujicoba</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Praktis  selama periode tahun 2009, sebanyak 13 sekolah dasar (SD) di wilayah  Daerah Istimewa Yogyakarta mulai coba menerapkan proses pendidikan  pusaka di jalur sekolah formal. Langkah ini merupakan perjalanan sebuah  program ujicoba yang digelar oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia  (BPPI)4 dengan dukungan dana dari Erfgoed Nederland (EN) dan dukungan  kepakaran dari Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan  Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia (Puskur Depdiknas).  Program yang bertajuk Pendidikan Pusaka untuk Sekolah Dasar di Indonesia  ini menjadi awal dari program pengembangan model serupa di tingkat  nasional; dengan Yogyakarta sebagai percontohannya. Dimulai dari sebuah  seminar sosialisasi mengenai pendidikan pusaka pada akhir bulan Juli  2008 di Benteng Vredeburg, Yogyakarta, kemudian ditindaklanjuti dengan  penyelenggaraan Pelatihan Pendidikan Pusaka untuk Guru SD yang  dilaksanakan pada bulan November 2008 itu. SD yang diundang dalam  pelatihan ini diambil dari peserta seminar sosialisasi yang dinilai  memiliki potensi untuk menerapkan pendidikan pusaka di sekolahnya.  Sekolah yang dipilih beragam, dua atau tiga dari setiap kabupaten/kota  di Daerah Istimewa Yogyakarta, yang masing-masing memiliki  karakteristik. Sekolah-sekolah tersebut antara lain:</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter" title="Peta Sebaran SD Peserta Program (per 2009)" src="http://lh4.ggpht.com/_qi6lEl1QApI/S1nj28GnhmI/AAAAAAAAAD8/nTsEsTC6YOE/s640/Peta%20Sebaran%20SD%20HE%20-%20BPPI.png" alt="" width="436" height="297" /></p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kota Yogyakarta        :</strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>
<ol>
<li>1. SDN Ungaran I</li>
<li>2. SDN Kotagede I</li>
<li>3. Taman Muda Ibu Pawiyatan (Tamansiswa)</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kabupaten Sleman    :</strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>
<ol>
<li>1. SD Tarakanita Tritis, Pakem</li>
<li>2. SD Budi Mulia Dua, Depok</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kabupaten Gunungkidul    :</strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>
<ol>
<li>1. SDN Selang, Wonosari</li>
<li>2. SDN Jragum, Semanu</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kabupaten Bantul    :</strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>
<ol>
<li>1. MI Giriloyo I, Imogiri</li>
<li>2. MI Giriloyo II, Imogiri</li>
<li>3. SDN Bantul Manunggal, Bantul</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kabupaten Kulon Progo    :</strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>
<ol>
<li>1. SDN Kembangmalang, Panjatan</li>
<li>2. SDN I Wonorejo, Nanggulan</li>
<li>3. SDN II Wonorejo, Nanggulan</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Pelatihan  tersebut menjadi titik pembekalan para guru sebelum mencoba menerapkan  program pendidikan pusaka di sekolahnya masing-masing selama dua  semester di tahun 2009.</p>
<p style="text-align: justify;">Pelatihan  yang diikuti oleh kepala sekolah dan dua guru dari setiap sekolah itu  menghasilkan sebuah rencana program penerapan pendidikan pusaka bagi  sekolah masing-masing. Rencana program itu kemudian disosialisasikn oleh  guru yang mengikuti pelatihan kepada guru-guru yang lain di sekolahnya  masing-masing untuk mendapatkan masukan. Rencana program pendidikan  pusaka di setiap sekolah itu kemudian dibahas dalam pertemuan pembuka di  akhir bulan Januari 2009 dan ditetapkan untuk diujicobakan selama satu  semester hingga bulan Juni 2009. Pada pertengahan tahun 2009, kemudian  disepakati bersama bahwa program percontohan ini diteruskan hingga genap  satu tahun hingga Desember 2009.</p>
<p style="text-align: justify;">Muatan  pengetahuan alam dan budaya sebenarnya sudah diajarkan kepada para  siswa di setiap sekolah sejak sebelum mengikuti program ini. Bahkan,  beberapa sekolah, seperti SDN Ungaran I dan SDN Kembangmalang telah  diakui sebagai sekolah adiwiyata yang memiliki program pendidikan  lingkungan hidup bagi para siswanya. Sekolah dengan fasilitas kesenian  dan budaya yang lengkap seperti Taman Muda Ibu Pawiyatan dan SDN Bantul  Manunggal juga telah lama menerapkan beragam kegiatan bernuansa seni  tradisional bagi siswa didiknya. Namun, muatan pentingnya mengetahui  beragam potensi itu sebagai pusaka dan bagaimana langkah untuk mendorong  siswa mampu melestarikan dengan caranya masing-masing secara umum belum  ada.</p>
<p style="text-align: justify;">Rumusan  metode memperkenalkan ragam pusaka Indonesia itu dilatihkan terlebih  dahulu kepada para guru yang kemudian diharapkan dapat merumuskan metode  pendidikan pusaka yang lebih khusus di sekolahnya masing-masing. Selain  melalui mekanisme pelatihan, tim Pendidikan Pusaka BPPI juga  menerbitkan sebuah buku panduan, modul, Pendidikan Pusaka untuk Guru.  Buku yang ditulis oleh tim yang beranggotakan para pakar dan praktisi  pelestarian pusaka di Yogyakarta ini memuat penjelasan mengenai ragam  pusaka dan bagaimana cara menilai potensi pusaka tersebut. Lebih penting  lagi, disampaikan pula dalam buku itu bagaimana prinsip-prinsip untuk  memperkenalkan potensi pusaka yang ada di sekitar kepada anak didik,  dari jenjang sekolah dasar tingkat awal hingga tingkat akhir. Buku  itulah yang kemudian dijadikan salah satu bahan acuan para guru SD  peserta program untuk merumuskan dan menerapkan program pendidikan  pusaka di sekolah masing-masing pada semester pertama tahun 2009;  semester genap tahun ajaran 2008/2009.</p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan  pengalaman menerapkan pendidikan pusaka selama paruh pertama tahun  2009, kemudian di awal paruh kedua tahun 2009 sebuah langkah pendalaman  pun dilakukan. Para guru didorong untuk menuliskan kembali pengalaman  penerapan pendidikan pusaka, pada tema/topik yang dikuasainya, ke dalam  sebuah buku. Buku ini kemudian diolah menjadi semacam modul panduan yang  ditujukan bagi siswa SD. Langkah itu pun dikuatkan dengan sebuah  pelatihan kembali pada awal bulan Juli 2009, fokus pada penulisan modul  pendidikan pusaka yang kemudian disebut sebagai Buku Seri Pendidikan  Pusaka untuk Anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam  pelatihan di Wisma Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada Yogyakarta  saat itu, para guru telah diminta untuk merencanakan topik yang akan  ditulisnya menjadi buku. Topik-topik itu kemudian didalami dengan  bantuan beberapa fasilitator selama pelatihan. Kemudian, topik yang  telah diolah itu, usai pelatihan, akan diolah oleh sebuah tim penyunting  dan tim kreatif yang akan mewujudkan buku tersebut menjadi buku dengan  kemasan dan tampilan yang menarik untuk anak usia SD. Tim Pendidikan  Pusaka BPPI pun telah menyiapkan satu tim kreatif yang terdiri dari para  ilustrator dan desainer grafis muda yang ditugaskan untuk mengolah  perupaan seluruh buku hasil karya guru dan tim Pendidikan Pusaka BPPI.  Hingga akhir tahun program di bulan Desember 2009, akhirnya berhasil  diproduksi sejumlah 21 judul buku Seri Pendidikan Pusaka untuk Anak.  Buku-buku itu ditampilkan dalam rupa cerita bergambar dan/atau komik.</p>
<p style="text-align: justify;"><img title="SPPA - Dhakon" src="http://lh3.ggpht.com/_qi6lEl1QApI/S2cSziqhvCI/AAAAAAAAAIE/TJrU8OQHygs/2010-02-02_004002.png" alt="" width="203" height="284" /> <img title="SPPA - Selokan Mataram" src="http://lh6.ggpht.com/_qi6lEl1QApI/S2cSzre0sQI/AAAAAAAAAII/G83F6_8DUXQ/2010-02-02_004103.png" alt="" width="200" height="283" /></p>
<p style="text-align: justify;">Buku Seri Pendidikan Pusaka untuk Anak (per Januari 2010) itu meliputi:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>
<ol>
<li>1. Aku Dapat Menganyam</li>
<li>2. Apotek Hidup</li>
<li>3. Ayo Belajar Membatik</li>
<li>4. Belalang, Makanan Khas dari Wonosari</li>
<li>5. Bakpia, Kelezatan dari Yogya</li>
<li>6. Dhakon</li>
<li>7. Geplak</li>
<li>8. Gobag Sodor</li>
<li>9. Gumbregan</li>
<li>10. Jelajah ke Bukit Turgo</li>
<li>11. Jumputan (Seni Celup Ikat)</li>
<li>12. Kipo</li>
<li>13. Makanan Tradisional Gunungkidul</li>
<li>14. Panatacara</li>
<li>15. Sejarah Masjid Syuhada</li>
<li>16. Sejarah SD Ungaran</li>
<li>17. Selokan Mataram</li>
<li>18. Tamansiswa</li>
<li>19. Tari Kraton Putri</li>
<li>20. Tempe</li>
<li>21. Thiwul, Makanan Kesukaanku</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Sejumlah  18 buku ditulis oleh guru dari SD peserta program. Dua buku ditulis  oleh Tim Pendidikan Pusaka BPPI, yakni Gobag Sodor dan Tari Kraton  Putri. Menarik, satu buku (komik) dibuat oleh siswa SD Budi Mulia Dua  sendiri, yakni Yurna Nudesia yang menggambar komik Bakpia. Penulisan  hingga pembuatan seri buku ini mendapatkan supervisi dari beberapa  pakar, seperti Dr. Indria Laksmi Gamayanti (psikolog klinis anak RSUP  Dr. Sardjito dan Fakultas Kedokteran Univesritas Gadjah Mada  Yogyakarta), Nasarius Sudaryono (Dinamika Edukasi Dasar), Erry Utomo  (Puskur Balitbang Depdiknas), dan Agung &#8216;Leak” Kurniawan (seniman).</p>
<p style="text-align: justify;">Lima  judul draft buku-buku tersebut sebelumnya telah coba dibagikan pada awal  bulan Oktober 2009 ketika pertemuan Forum Guru Pendidikan Pusaka  digelar di SD Budi Mulia Dua, Seturan, Sleman. Selama satu bulan,  guru-guru diminta untuk mengujicobakan buku-buku berwujud komik dan  cerita bergambar itu kepada para siswanya. Kemudian, pada bulan November  2009, tim Pendidikan Pusaka melakukan evaluasi terhadap ujicoba  penggunaan buku cerita bergambar dan komik untuk memperkenalkan pusaka  kepada anak usia SD.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><br />
Catatan Kaki Pelaksanaan Program</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Belanda,  sebagai negara yang telah memiliki kemampuan pengelolaan pusaka yang  baik, ternyata baru membangun program pendidikan pusaka secara nasional  sejak empat tahun terakhir dan diikuti oleh sekitar 200 SD. Dalam  prosesnya hingga kini, jaringan yang terdiri dari lembaga swadaya  masyarakat, sekolah, dan pemerintah di Belanda terus menggali strategi  yang lebih optimal untuk menjamin keberlangsungan program tersebut.  Indonesia, yang memiliki kekayaan pusaka jauh lebih melimpah daripada  negeri Belanda, baru memulai dalam waktu satu tahun, dengan diikuti  hanya sejumlah 13 SD di satu wilayah provinsi, Daerah Istimewa  Yogyakarta. Dikelola secara gotong-royong oleh sebuah tim yang bekerja  paruh waktu, yang dalam perjalananya giat berkoordinasi dengan tim BPPI  di Jakarta dan tim EN di Belanda, program ini telah berhasil  menyelesaikan kegiatan percontohannya dengan beragam catatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara  umum, seluruh sekolah peserta program menyambut baik program pendidikan  pusaka ini. Hal itu tercermin dari hasil evaluasi, sejak dari seminar  sosialisasi pendidikan pusaka dan pelatihan pendidikan pusaka di tahun  2008 silam, hingga dalam evaluasi akhir program di bulan Desember 2009  lalu. Pertambahan pengetahuan dan kemampuan untuk menguatkan muatan  pusaka dalam proses pendidikan di sekolah menjadi satu hal utama yang  diapresiasi oleh seluruh sekolah peserta program. Namun, rata-rata  sekolah merasa selama satu tahun program berjalan, pendampingan,  monitoring, dan evaluasi atas kegiatan penerapan pendidikan pusaka di  sekolah belum cukup optimal. Tim Pendidikan Pusaka BPPI hanya bisa  melakukan kunjungan ke setiap sekolah dalam waktu 2 – 3 bulan sekali  dalam satu tahun program. Setiap kunjungan pun hanya berlangsung paling  lama 2 – 3 jam, yang lebih banyak diisi dengan pembahasan perkembangan  program bersama para guru. Rata-rata sekolah berharap tim Pendidikan  Pusaka BPPI bisa lebih sering melakukan pendampingan dan kegiatan di  lapangan, termasuk terjun langsung memberikan materi pendidikan pusaka  kepada para anak didik.</p>
<p style="text-align: justify;">Tim  Pendidikan Pusaka ini sendiri memang merupakan sebuah kelompok kerja  yang dibentuk khusus sebagai pelaksana program percontohan ini. Semua  pegiat di dalamnya adalah gabungan dari staf pengajar di universitas,  praktisi pelestarian, seniman, penulis, dan pegiat lembaga swadaya  masyarakat yang meluangkan waktunya beberapa hari setiap minggu untuk  melaksanakan program pendidikan pusaka ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Pendampingan  langsung di lapangan dirasa penting oleh para guru karena tidak semua  sekolah memiliki bahan dan perangkat peraga pendidikan pusaka yang  dianggap mencukupi. Di sisi lain, ada beberapa sekolah yang mampu secara  kreatif mengoptimalkan sumberdaya yang ada di sekitar sekolah untuk  digunakan dalam penerapan program pendidikan pusaka yang murah, tetapi  tepat guna. Misal, SD Tarakanita Tritis yang secara geografis berada di  kaki Bukit Turgo di kaki Gunungapi Merapi menggelar sebuah kegiatan  jelajah alam ke puncak Bukit Turgo untuk para siswa kelas 4 dan 5,  dipandu oleh sejumlah guru. Tidak perlu biaya banyak untuk melaksanakan  kegiatan tersebut karena dilakukan di lingkungan sekitar sekolah.  Bahkan, pengalaman jelajah itu mampu didokumentasikan oleh guru SD  tersebut menjadi sebuah komik, dengan bantuan seorang ilustrator, yang  dapat digunakan sebagai buku bacaan pendidikan pusaka untuk siswa SD.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak  awal program digulirkan melalui pelatihan pendidikan pusaka untuk guru,  para pegiat pelestarian pusaka yang aktif di lembaga swadaya masyarakat  juga dilibatkan. Ditegaskan sejak pelatihan di bulan November 2008 lalu  bahwa sekolah dapat membangun jejaring dengan pihak-pihak di luar  sekolah untuk bisa menerapkan pendidikan pusaka bersama-sama. Sebagai  misal, MI Giriloyo I dan II yang berdiri di desa perajin batik di  Giriloyo, Imogiri mendapatkan pendampingan intensif dari paguyuban  perajin batik setempat dalam mengelola kegiatan ekstrakurikular membatik  untuk siswa. Strategi berbagi peran seperti itu cukup membantu pihak  sekolah dalam penerapan pendidikan pusaka untuk siswa.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain  itu, jaringan antar sekolah pun diharapkan sejak awal mampu  dimanfaatkan untuk membantu penerapan pendidikan pusaka di wilayah  masing-masing. Pada akhir pelatihan untuk guru di bulan November 2008  pula disepakati terbentuknya Forum Guru Pendidikan Pusaka Daerah  Istimewa Yogyakarta yang beranggotakan para guru peserta pelatihan dari  setiap sekolah peserta program. Dalam perjalanan program percontohan  selama tahun 2009 kemarin, setiap sekolah dapat saling bantu dan  mendukung kegiatan pendidikan pusaka. SD Budi Mulia Dua yang bertempat  di Sleman misalnya; mereka bekerja sama dengan MI Giriloyo I dan II  untuk menggelar workshop membatik bagi siswa SD Budi Mulia Dua yang  berkunjung ke Giriloyo langsung pada bulan Februari 2009 lalu. Kegiatan  ini dapat terwujud berkat pemanfaatan informasi dari jaringan guru yang  telah terbentuk dalam program pendidikan pusaka ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Peran  lembaga pemerintah dalam pelaksanaan ujicoba pendidikan pusaka di  wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta selama tahun 2009 juga belum  cukup tampak dan optimal. Koordinasi antara Tim Pendidikan Pusaka BPPI  lebih banyak dilakukan dengan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olah Raga di  tingkat provinsi. Sementara, lembaga turunannya di tingkat  kabupaten/kota dan unit pelaksana teknis daerah (UPTD) setempat tidak  dilibatkan secara intensif. Pertemuan dengan pemerintah kota Yogyakarta  dan beberapa kota lain dalam diskusi terbuka mengenai Pendidikan Pusaka  untuk Sekolah Dasar pada hari Jumat, 22 Januari 2010 diharapkan dapat  membuka peluang kerjasama yang lebih terbuka untuk menjamin  keberlangsungan program ini di Yogyakarta. Tim Pendidikan Pusaka BPPI  sendiri berencana untuk membangun model yang sama di beberapa kota lain  di Indonesia, usai program percontohan di Daerah Istimewa Yogyakarta  ini. Kota lain yang tertarik untuk menerapkan program ini antara lain  Sawahlunto di Sumatera Barat, Denpasar di Bali, dan Ternate di Maluku  Utara. Selain itu, diundang pula kehadiran pemerintah kota Jakarta,  Solo, dan Nias untuk menjajagi kemungkinan penerapan program pendidikan  pusaka di tempat-tempat itu di masa mendatang.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Membangun Model Pendidikan Pusaka di Sekolah </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pengalaman  dan hasil evaluasi penerapan program percontohan Pendidikan Pusaka di  Sekolah Dasar di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta memunculkan sebuah  model pengelolaan (management) program yang dapat dibangun ulang di  banyak tempat di Indonesia. Dalam sebuah kerangka program, ada dua hal  utama yang harus diperhatikan untuk dikelola oleh tim pelaksana  pendidikan pusaka, yakni:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>
<ol>
<li>1. Manajemen program, dan</li>
<li>2. Muatan program</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Manajemen  program mewadahi anasir-anasir kegiatan yang bersifat pelaksanaan  teknis, operasional. Sementara, muatan program mewadahi anasir-anasir  isi dan nilai kegiatan yang dilakukan dalam operasional program. Setiap  proses dalam manajemen program dan muatan program itu dikelola dalam  sebuah tahap yang saling terkait.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><strong>I. Manajemen Program</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1. Sosialisasi<br />
Sosialisasi merupakan langkah awal pengelolaan program. Ranah  pelestarian pusaka dapat dipahami sebagai isu yang tak begitu populer di  sebagian besar wilayah Indonesia, apalagi menggabungkan isu ini ke  dalam ranah pendidikan formal. Secara khusus, ketika sebuah program  pendidikan pusaka akan diterapkan di suatu sekolah formal maka kita bisa  dengan cukup mudah memetakan siapa saja target sosialisasi program.  Selain sekolah tujuan program, sosialisasi perlu dilakukan dalam satu  paket terhadap lembaga pemerintah yang berwenang mengurusi ranah  pendidikan dan pengelolaan pusaka di daerah. Penting pula melibatkan  kelompok, komunitas, dan lembaga swadaya masyarakat yang memiliki  perhatian dan kegiatan di bidang pelestarian pusaka. Kelompok masyarakat  seperti itu biasanya banyak yang telah memiliki pengalaman pengelolaan  program pendidikan non-formal yang cukup kreatif. Langkah sosialisasi  ini bisa dilakukan secara bertahap, yang ditujukan untuk kelompok yang  berbeda; sekolah, pemerintah, dan masyarakat umum.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlu  diperhatikan pula pemilihan waktu dan durasi sosialisasi agar rencana  penerapan program usai sosialisasi mendapatkan jadwal yang tepat. Misal,  jika langkah sosialisasi bisa dilakukan sejak semester genap tahun  ajaran saat ini maka diharapkan program pendidikan pusaka dapat secara  resmi dimulai pada semester ganjil pada tahun ajaran berikutnya.  Strategi seperti itu tentunya akan lebih memudahkan pihak sekolah untuk  merencanakan kurikulum di sekolah masing-masing ketika dimasuki oleh  rencana program tambahan.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Pelatihan/Persiapan<br />
Tim Pendidikan Pusaka BPPI tidak akan bisa selamanya mendampingi  pelaksanaan program pendidikan pusaka di setiap sekolah di setiap  daerah. Juga, bahwa proses belajar mengajar antara guru dengan anak  didik telah biasa dilakukan antara kedua belah pihak tersebut.  Bagaimanapun, guru sekolah yang bersangkutan adalah agen pendidikan  pusaka yang utama. Seperti pengalaman yang diterapkan di Yogyakarta,  pelatihan mengenai pusaka itu ditujukan pertama kali kepada guru dan  kepala sekolah. Guru adalah agen pendidik yang punya kemampuan  berkelanjutan untuk meneruskan pengetahuan dan ilmunya kepada anak  didiknya. Kepala sekolah memiliki peran dalam penentuan kebijakan  program di sekolah yang dipimpinnya, berkoordinasi dengan guru yang  mengikuti program pelatihan pendidikan pusaka.</p>
<p style="text-align: justify;">Langkah  pelatihan ini juga penting untuk dilakukan dengan mempertimbangkan  waktu pelaksanaannya. Semester genap tahun ajaran saat ini akan menjadi  waktu yang cukup baik untuk memulai mengadakan pelatihan, sebagai muara  dari proses sosialisasi. Usai pelatihan di semester ini, guru dapat  menyusun rencana program pendidikan pusaka di sekolahnya yang akan  diterapkan mulai pada semester ganjil tahun ajaran berikutnya di  pertengahan tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">3. Pelaksanaan<br />
Pelaksanaan program akan baik dirancang untuk dilakukan mengikuti agenda  kegiatan belajar mengajar yang telah ditetapkan Departemen Pendidikan  Nasional kepada seluruh sekolah di Indonesia. Sangat baik jika guru  dapat dibantu untuk merencanakan program pendidikan pusaka untuk setiap  tahun ajaran; dua semester. Program pendidikan pusaka, dengan demikian,  dapat dikembangkan dengan strategi diintegrasikan pada beragam mata  pelajaran dan kegiatan yang dilangsungkan di sekolah sesuai jadwal yang  ada. Pada setiap akhir semester dan tahun ajaran, kualitas dan dampak  pelaksanaan program pendidikan pusaka dapat dievaluasi bersama.</p>
<p style="text-align: justify;">4. Pendampingan<br />
Secara khusus, tim Pendidikan Pusaka BPPI akan fokus pada pendampingan  terhadap para pelatih (guru), bukan secara langsung mengajarkan pusaka  kepada para siswa. Pendampingan yang dilakukan akan fokus pada strategi  perencanaan, dan metode penerapan program, serta metode penilaiannya  karena program ini dilakukan dalam kerangka jalur pendidikan formal di  sekolah.</p>
<p style="text-align: justify;">Tim  Pendidikan Pusaka yang aktif dapat memantau perkembangan penerapan  program melalui berbagai cara. Cara pertama adalah dengan melakukan  kunjungan langsung; pendampingan tatap muka. Model pendampingan ini akan  sangat intensif, tetapi tidak bisa dilakukan setiap hari. Pendampingan  secara langsung dapat dilakukan dengan membuat jadwal yang disepakati  bersama. Cara kedua adalah dengan memanfaatkan teknologi informasi. Tim  Pendidikan Pusaka saat ini juga telah menyiapkan sistem online di alamat  <a title="http://pendidikanpusaka.org" href="../" target="_blank">http://pendidikanpusaka.org</a> yang dapat dimanfaatkan sebagai media bertukar informasi; termasuk  informasi mengenai pelaksanaan program. Setiap daerah akan memiliki  akses ke media tersebut, sehinga dapat mengunggah data dan informasi  mengenai penerapan pendidikan pusaka di sekolah atau di daerahnya. Tim  Pendidikan Pusaka BPPI pun dapat memantau sistem online tersebut dan  melakukan pendampingan dari dunia maya. Fitur-fitur interaktif akan  dikembangkan dalam rangka mempermudah proses komunikasi antara pelaksana  program dengan tim Pendidikan Pusaka BPPI, serta masyarakat umum  pemerhati program ini. Penyediaan basis data dalam sebuah sistem pusat  sumberdaya yang berisi banyak dokumen dan referensi dapat menjadikannya  sebuah sistem pendampingan mandiri.</p>
<p style="text-align: justify;">5. Monitoring dan Evaluasi<br />
Monitoring dan evaluasi idealnya dilakukan secara rutin, tidak hanya  pada akhir program. Monitoring akan dilakukan secara berkala sejak awal  penerapan program hingga seterusnya. Monitoring dapat dilakukan melalui  dua cara pula, yakni monitoring langsung di lapangan dengan melakukan  kunjungan, serta monitoring melalui media pertukaran informasi yang  telah disiapkan di <a title="http://pendidikanpusaka.org" href="../" target="_blank">http://pendidikanpusaka.org</a>.  Monitoring langsung di lapangan dapat diagendakan secara rutin,  disesuaikan dengan jadwal pelaksanaan dan pendampingan program di atas.  Selain itu, tim fasilitator dari tim Pendidikan Pusaka BPPI dapat  memantau perkembangan program dari situs yang telah dikembangkan. Dalam  setiap pelaksanaan program, setiap sekolah di setiap wilayah akan  diwajibkan mengirimkan informasi perkembangan terkini penerapan program  di sekolahnya ke dalam sistem yang telah disiapkan. Sistem ini akan  disesuaikan dengan situasi dan kondisi lapangan, mengingat tidak semua  sekolah memiliki sumberdaya berbasis internet. Melalui media tersebut  pula, hasil penilaian dari monitoring dan evaluasi rutin dapat diunggah,  sehingga dapat dipelajari bersama.</p>
<p style="text-align: justify;">Penting  pula dalam pelaksanaan sebuah program adalah melakukan uji atau  evaluasi dampak penerapan program. Langkah evaluasi dampak kegiatan ini  dapat dilakukan secara bertahap sejak program masih berjalan maupun  ketika program telah selesai. Evaluasi dampak ini dapat dilakukan  terhadap para siswa sekolah peserta program, guru, dan juga masyarakat  umum di sekitar sekolah yang terimbas kegiatan pendidikan pusaka yang  dilakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><strong>II. Muatan Program </strong></p>
<p style="text-align: justify;">1. Materi Sosialisasi<br />
Dalam langkah yang bertahap, sosialisasi akan sangat mungkin harus  dimulai dari sangat awal, yakni pengenalan dan pemahaman terlebih dahulu  mengenai konsep pusaka. Kemudian, setelah pengetahuan mengenai pusaka  ada, dapat ditindaklanjuti dengan pengenalan konsep pelestarian. Dari  hal itu diharapkan para peserta sosialisasi dapat memahami kerangka  dasar dari seluruh program pendidikan pusaka yang akan dijalankan  setelahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sangat  penting kemudian untuk menginformasikan pengalaman-pengalaman baik dari  beragam sekolah dan lembaga lain yang telah menerapkan pendidikan  pusaka, baik dari dalam maupun luar negeri. Ragam contoh seperti itu  bisa menjadi pemicu inspirasi dan memacu semangat kelompok sasaran agar  mereka dapat merasa mampu untuk bisa melakukan hal yang serupa; bahkan  lebih baik daripada contoh yang diberikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sosialisasi  secara rutin dilakukan melalui media, seperti website dan penerbitan  materi cetak. Proses penerapakan pendidikan pusaka berjalan yang  terdokumentasikan dalam media-media yang ada dapat secara otomatis  menjadi media sosialisasi pendidikan pusaka kepada khalayak. Sosialisasi  ini nantinya termasuk pula di dalamnya materi mengenai hasil evaluasi  dan dampak pelaksanaan program pendidikan pusaka, sehingga masyarakat  umum dapat mengetahui sisi baik penerapan program ini seterusnya ke  depan.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Materi Pelatihan (buku panduan untuk guru)<br />
Bahan-bahan mengenai ragam pusaka dan metode untuk memperkenalkan dan  upaya untuk melestarikannya adalah utama untuk dipelajari oleh para guru  sebelum mereka terjun sebagai pendidik pusaka di sekolahnya  masing-masing. Harap diingat dan dipahami bahwa rata-rata guru sekolah  telah punya pengalaman dalam mengajarkan materi yang terkait dengan  lingkungan alam dan budaya. Namun, sisi penting potensi alam dan budaya  dari sudut pandang pelestarian belum banyak muncul dan dipahami oleh  para pendidik di sekolah. Upaya untuk menekankan perbedaan antara  pengajaran mengenai lingkungan alam dan budaya dengan pendidikan pusaka  harus benar-benar ditekankan. Pada beberapa kasus, rencana program yang  bisa dijalankan bisa jadi bukan sama sekali baru, tetapi merupakan  penguatan terhadap muatan mata ajar yang biasanya telah disampaikan  kepada para anak didik.</p>
<p style="text-align: justify;">Buku  panduan untuk guru akan dikembangkan oleh tim Pendidikan Pusaka BPPI  untuk tingkat nasional dan tingkat lokal. Akan ada buku panduan  pendidikan pusaka nasional yang berisi panduan umum pendidikan pusaka.  Buku ini dapat digunakan sebagai panduan prinsip umum di seluruh wilayah  Indonesia. Selain itu, para guru kemudian akan dilengkapi dengan  beragam buku panduan yang bersifat lokal; terkait dengan potensi pusaka  setempat. Buku panduan ini akan disusun oleh tim Pendidikan Pusaka BPPI  dengan fasilitator lokal di wilayah program yang akan disiapkan atau  ditunjuk oleh BPPI. Dengan demikian, ke depan, akan ada beragam buku  panduan pendidikan pusaka lokal yang dapat dijumpai di setiap wilayah di  Nusantara. Buku panduan ini tentu saja dapat secara berkala ditinjau  kembali dan disempurnakan isinya, bersama-sama dengan para guru yang  menerapkan program pendidikan pusaka secara langsung di lapangan.</p>
<p style="text-align: justify;">3. Materi Pendampingan (buku panduan/bacaan untuk siswa)<br />
Selain pembelajaran yang dapat dialami secara langsung oleh siswa di  dalam atau di luar kelas atas panduan guru, siswa juga dapat mempelajari  pusaka melalui beragam media. Salah satu media peraga yang akan terus  dikembangkan adalah buku Seri Pendidikan Pusaka untuk Anak. Seri buku  bacaan ini akan menjadi media belajar mandiri para siswa. Muatan dalam  setiap buku akan dibuat oleh para guru di wilayah program pendidikan  pusaka itu berlangsung. Seperti halnya yang telah berhasil diterapkan di  Yogyakarta, usai para guru telah memiliki pengalaman menerapkan program  pendidikan pusaka selama satu semester, mereka akan didorong untuk coba  menuliskan pengtahuan dan pengalamannya ke dalam bentuk buku bacaan  untuk siswa. Isi buku tersebut tentu saja meliputi ragam jenis pusaka  yang ada di wilayah setempat.</p>
<p style="text-align: justify;">Pendekatan  pengemasan tampilan buku untuk anak dalam bentuk cerita bergambar dan  komik, dengan ragam tokoh binatang akan tetap dipertahankan. Strategi  itu akan terus coba dilakukan pula di wilayah-wilayah program  berikutnya. Berdasarkan hasil evaluasi penggunaan buku Seri Pendidikan  Pusaka untuk Anak di Yogyakarta, semua siswa yang mengikuti proses  evaluasi menyatakan bahwa komik, cerita bergambar, dan tokoh binatang  sangat menarik bagi mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">4. Materi Monitoring dan Evaluasi<br />
Sesuai dengan gambaran perencanaan program ini maka hal yang harus  dimonitoring dan dievaluasi meliputi dua hal besar ini, yakni ranah  pengelolaan program dan ranah muatan program. Pada ranah pengelolaan  program maka akan dievaluasi semua hal yang terkait dengan perencanaan  dan pelaksanaan kegiatan di tataran manajerial secara praktis.  Sementara, terhadap muatan program maka akan dievaluasi semua hal yang  terkait dengan isi kegiatan; apakah hal yang disampaikan memiliki  konteks yang tepat atau tidak, serta bagimana kualitas bahan yang  disampaikan kepada par peserta program.</p>
<p style="text-align: justify;">Semua  materi hasil monitoring dan evaluasi ini akan didokumentasikan oleh tim  Pendidikan Pusaka BPPI dalam laporan program. Dalam bentuk populer,  rekaman itu akan disimpan di beberapa media yang dikelola oleh tim  Pendidikan Pusaka BPPI, antara lain buletin cetak dan website  http://pendidikanpusaka.org. Muatan monitoring dan evaluasi yang tidak  hanya akan fokus pada teknis pelaksanaan, tetapi juga pada dampak  kegiatan ini akan dipublikasikan setelah diolah, sehingga bisa menjadi  bagian dari pembelajaran bagi khalayak yang berminat menerapkan  pendidikan pusaka.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pendidikan untuk Pelestarian </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Membawa  guru ke dalam peran sebagai agen pelestarian pusaka adalah startegi  utama yang digelorakan dalam program ini. Pendidikan Dasar sendiri  menjadi fokus utama Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) sebagai  tingkat usia yang harus dikenai tindakan serius, mempersiapkan anak-anak  bangsa yang memiliki perasaan dan pemahaman kelestarian pusaka yang  baik. Selama enam tahun di sekolah dasar dan tiga tahun di sekolah  tingkat menengah pertama, anak akan mulai membentuk dirinya berdasarkan  lingkungan tempat dia hidup dan berkegiatan. Guru yang menjadi  pendamping separuh jam kehidupan anak pada setiap harinya selama  bertahun-tahun itu tentu saja menjadi penting untuk dikuatkan perannya;  membantuk karakter anak atau manusia seutuhnya. Kelestarian pusaka  bangsa di masa depan akan ditentukan oleh keberhasilan pendidikan di  tingkat dasar ini karena di masa depan, merekalah yang akan menjadi  pengelola beragam pusaka yang mempengaruhi hajat hidup bangsa itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin  banyak tak disadari sebelumnya bahwa ragam potensi dan kekayaan pusaka  alam, budaya, dan saujana itu ternyata dapat dengan mudah ditemui di  sekitar kita. Menyadarkan bahwa ada begitu banyak ragam pusaka itu, yang  harus dilestarikan, kepada masyarakat melalui peran guru di sekolah  adalah visi yang harus dijaga keberlangsungannya. Peran aktif banyak  pihak pemangku kepentingan tentu saja sangat diharapkan agar proses ini  terus berlajut dan semakin optimal. Ada banyak langkah yang bisa  dilakukan untuk menuju visi tersebut. Penggabungan pendidikan pusaka ke  dalam ranah pendidikan sekolah juga merupakan satu strategi, yang bisa  jadi tidak cukup optimal dan harus diperkuat dengan beragam strategi  lainnya. Hal itu akan bisa ditemukan untuk kemudian dipelajari dan  diterapkan dalam proses pelaksanaan program pendidikan pusaka ini  seterusnya ke depan. Satu tahun saja program ini diinisiasikan di  Indonesia, masih banyak pekerjaan rumah dan tantangan di depan yang  menghadang untuk disikapi dan ditanggulangi.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li style="padding-left: 30px;"><em>1. Tulisan  ini disampaikan dalam rangka Seminar Internasional Pendidikan Pusaka  untuk Sekolah Dasar di Indonesia yang diselenggarakan pada hari Sabtu,  23 Januari 2010 di University Club Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.</em></li>
<li style="padding-left: 30px;"><em>2. Koordinator  Lapangan Tim Pendidikan Pusaka – Badan Pelestarian Pusaka Indonesia  (BPPI);Koordinator Peta Hijau Yogyakarta dan Peta Hijau – Green Map  Indonesia, Staf Manajemen Pengetahuan Combine Resource Institution –  Yogyakarta, mahasiswa Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas  Gadjah Mada Yogyakarta. Weblog: <a title="http://elantowow.wordpress.com " href="http://elantowow.wordpress.com/" target="_blank">http://elantowow.wordpress.com </a>. </em></li>
<li style="padding-left: 30px;"><em>3. Ketua  Tim Pendidikan Pusaka, Badan Pelestarian Pusaka Indonesia/BPPI  bekerjasama dengan Erfgoed Netherland dan Pusat Kurikulum DEPDIKNAS;  Staf pengajar &amp; peneliti, Center for Heritage Conservation, Jur.  Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada;  Anggota Dewan Pimpinan BPPI; Ketua, Jogja Heritage Society. e-mail: <a title="Sita Adishakti" href="mailto:adishakti.sita@gmail.com" target="_blank">adishakti.sita@gmail.com </a></em></li>
<li style="padding-left: 30px;"><em>4. Badan Pelestarian Pusaka Indonesia/Indonesian Heritage Trust  (<a title="http://bppi-indonesianheritage.org" href="http://bppi-indonesianheritage.org/" target="_blank">http://bppi-indonesianheritage.org</a>)  yang berkedudukan di Jakarta adalah sebuah organisasi nirlaba bergerak  dalam bidang pelestarian yang bertujuan melakukan penguatan upaya  pelestarian pusaka di Indonesia. Visi BPPI adalah mengawal kelestarian  pusaka Indonesia yang diaplikasikan melalui beragam misi kegiatan  pelestarian baik alam, budaya dan saujana dengan pelibatan semua  pemangku kepentingan terkait baik di pemerintah dan masyarakat sendiri.</em></li>
</ol>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendidikanpusaka.org/column/pendidikan-pusaka-untuk-anak.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keynote Speech on Heritage Education in Primary Schools in Indonesia</title>
		<link>http://pendidikanpusaka.org/column/keynote-speech-on-heritage-education-in-primary-schools-in-indonesia.html</link>
		<comments>http://pendidikanpusaka.org/column/keynote-speech-on-heritage-education-in-primary-schools-in-indonesia.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2010 08:07:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[heritage education]]></category>
		<category><![CDATA[Peh Kayee]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[UNESCO]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendidikanpusaka.org/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[by Masanori Nagaoka, programme Specialist for Culture, UNESCO Office, Jakarta Government of the Special Territory of Yogyakarta Bapak Suyanto, Director General for the Directorate General of Primary and Secondary Education, Ministry of National Education of the Republic of Indonesia Ibu Diah Harianti, Head of the Center for Curriculum of the Ministry of National Education of [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>by Masanori Nagaoka, programme Specialist for Culture, UNESCO Office, Jakarta </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Government of the Special Territory of Yogyakarta<br />
Bapak Suyanto, Director General for the Directorate General of Primary and Secondary Education, Ministry of National Education of the Republic of Indonesia<br />
Ibu Diah Harianti, Head of the Center for Curriculum of the Ministry of National Education of the Republic of Indonesia<br />
Head of Office of National Education of the Special Territory of Yogyakarta<br />
Bapak Setyanto P. Santosa, Chairman of the Indonesian Heritage Trust<br />
Mr Richard Hermans, Head of the Netherland Institute for Heritage (Erfgoed Netherlands)<br />
Ibu Catrini Kubontubuh, Executive Committee, International National Trust Organisation (INTO)<br />
Distinguished Guests</p>
<p style="text-align: justify;">Ladies and Gentlemen,</p>
<p style="text-align: justify;">Selamat Pagi,</p>
<p style="text-align: justify;">I am pleased to join you this morning at the event of which will no doubt contributes to the successful implementation of World Heritage education in schools.</p>
<p style="text-align: justify;">Firstly, I would like to express our sincere appreciation to the Indonesian Heritage Trust, the Netherland Institute for Heritage (Erfgoed Netherlands), the Centre for Curriculum of the Ministry of National Education, the Centre for Heritage Conservation of the Department of Architecture and Planning, Faculty of Engineering of University of Gadjah Mada, and International National Trust Organization for the successful implementation of the Heritage Education Programme implemented in 2008-2009 to promote and develop heritage education in Indonesia starting with primary school; to develop a pilot ‘toolkit for heritage education’ in Indonesia; and, to stimulate further exchange of ideas and experiences in the field of cultural heritage.</p>
<p style="text-align: justify;">Heritage education is one of the commitments stipulated in the Article 27, Paragraph 1 of 1972 UNESCO Convention concerning the Protection of the World Cultural and Natural Heritage, that ‘the State Parties to this Convention shall endeavor by all appropriate means, and in particular by educational and information programmes, to strengthen appreciation and respect by their peoples of cultural and natural heritage.’</p>
<p style="text-align: justify;">In addition, other UNESCO Culture Conventions confirm the necessity of giving priority to education, of taking account of cultural diversity, of recognizing intangible heritage.</p>
<p style="text-align: justify;">For example, the 2001 UNESCO Universal Declaration on Cultural Diversity states that ‘respect for diversity of cultures, tolerance, dialogue and cooperation, in a climate of mutual trust and understanding are the best guarantees of peace and security while ‘preserving cultural diversity as a living treasure guarantees the survival of humanity’. The Universal Declaration makes it clear that each individual must acknowledge not only otherness in all its forms but also the plurality of his or her own identity, within societies that are themselves plural. In this regard, we have been implementing a number of actions concerning heritage education, and allow me to share with you briefly of some of our<br />
activities done recent years for your reference and for our future possible collaboration.</p>
<p style="text-align: justify;">Our recent activity in the field of heritage education came just last December in the form of Peh Kayee, an illustrated children book, aimed at promoting the intangible cultural heritage in post-conflict/post-disaster situations of Aceh in Indonesia. Printed for 1000 copies in local language in close collaboration with the Aceh Cultural Institute, this book features a popular traditional game called peh kayee, which serves as reading supplement for elementary school students and story book to be introduced by teachers.</p>
<p style="text-align: justify;">The book follows the serial publications made in the previous years as addition to a set of six illustrated children’s books, presenting the shared local legends, moral tales and simple collections of daily-life of the Acehnese people, aiming at not only preserving a rich oral stories and intangible cultural heritage which is on the verge of disappearance, but also acknowledging and respecting the indigenous folklore/tales rich in moral values and transmit them to the younger generations.</p>
<p style="text-align: justify;">On another occasion, we organized together with the Indonesian World Heritage Youth Network (INDOWYN) and other partners, Youth World Heritage Campaign in May 2008 in five major cities such as Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta and Medan as well as at the Borobudur World Heritage site. This event involved youth in the 17 campaign points involving 17 universities, cultural officials and community representatives as well as media. At the end of the event, 14,125 youth handprints were collected to show commitment of the Indonesian youth to safeguard Borobudur Temple Compounds.</p>
<p style="text-align: justify;">We also supported the Sacred Bridge Foundation on an event entitled GAUNG: 21st Century Global Music Education held in Bali in April-May, 2009, inviting participants from 8 countries such as Australia, France, Indonesia, Japan, Malaysia, Singapore, Thailand and the US, in order to promote cultural dialogue through respective music. About 400 people gathered this event from children to the elders consisting of the village people, local government, artists, international and domestic tourists.</p>
<p style="text-align: justify;">The introduced activities are some examples of UNESCO programme that gives young people a chance to voice their concerns and to become involved in the protection of the tangible and intangible cultural heritage.</p>
<p style="text-align: justify;">Let me also introduce to you, for your future possible reference, an initiative of UNESCO World Heritage Centre of an educational kit on the World Heritage programme entitled World Heritage in Young Hands, which is an educational resource kit for teachers containing an innovative concept to share knowledge about heritage conservation with young people.</p>
<p style="text-align: justify;">This World Heritage Kit project is at a stage of evolutionary development with the content to be expanded for additional teaching ideas based on the experiences of teachers and students. The Kit is becoming more nationally and regionally focused, and more resource materials are being produced to complement the Kit, which we have now 30 national language versions and 1 regional adaptation (Pacific) produced in cooperation with National Commissions for UNESCO, UNESCO Field Offices and other partners.</p>
<p style="text-align: justify;">Most importantly, the Kit promotes discussion and listening to others, resulting in re-affirmation of identity, while promoting mutual respect and respect for diversity. It serves as a valuable bridge for young people, teachers, heritage specialists and other stakeholders in a situation in which they learn together from each other, and which results in knowledge and appreciation for local and world heritage. This kit is downloadable from the website of the UNESCO World Heritage Centre if you are interested.</p>
<p style="text-align: justify;">Please also be informed that we are open to encourage youth to work in the UNESCO Office in Jakarta as an intern to pursue these objectives with us and to give them working experience within UN system. It is our utmost pleasure to assist the today’s students in being tomorrow’s leaders to safeguard our common heritage, by working together practically in our office daily basis. Please visit our website for application if you are interested.</p>
<p style="text-align: justify;">We have also committed ourselves to preserving and promoting cultural heritage together with international community. To this end and to start our joint programming, we have prepared a number of project proposals and would highly appreciate receiving any kind attention for possible future collaboration in this regard from international community.</p>
<p style="text-align: justify;">Finally, we fully support the ongoing and future efforts of the Indonesian Heritage Trust in promoting heritage education together with the local, national and international partners. In this regard, it is our pleasure and honor to inform you today that we decided to assist them in printing of student’s heritage educational books and teacher’s module with our humble financial contribution. We sincerely hope that this important initiative is well acknowledged in particular by the Ministry of Education so that, the action is fully contributing to promote the Ministry’s current strategy for formal and non-formal education of official curriculum concerning &#8220;Education for All&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">We are looking forward to our collaboration in this field with you all to ensure safeguarding tangible and intangible cultural heritage of humanity and their transmission onto our future generation.</p>
<p style="text-align: justify;">Thank you for your attention.</p>
<p style="text-align: justify;">*presented at the occasion of the International Seminar on Heritage Education in Primary Schools in Indonesia at the Universitas Gadjah Mada, 23 January 2010, Yogyakarta, Indonesia</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendidikanpusaka.org/column/keynote-speech-on-heritage-education-in-primary-schools-in-indonesia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>International Seminar on Heritage Education for Schools in Indonesia</title>
		<link>http://pendidikanpusaka.org/column/international-seminar-on-heritage-education-for-schools-in-indonesia.html</link>
		<comments>http://pendidikanpusaka.org/column/international-seminar-on-heritage-education-for-schools-in-indonesia.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2010 08:00:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[heritage education]]></category>
		<category><![CDATA[INTO]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendidikanpusaka.org/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[Address by Simon R. Molesworth AM QC (Chairman; International National Trusts Organization &#8211; INTO) Hello, I’m Simon Molesworth, the Chairman of INTO, the International National Trusts Organisation. I am sorry that I’m not there in person with you at this very important seminar, the International Seminar on Heritage Education in Schools in Indonesia. It is [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Address by Simon R. Molesworth AM QC (Chairman; International National Trusts Organization &#8211; INTO)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hello, I’m Simon Molesworth, the Chairman of INTO, the International National Trusts Organisation.</p>
<p style="text-align: justify;">I am sorry that I’m not there in person with you at this very important seminar, the International Seminar on Heritage Education in Schools in Indonesia. It is a very important project, a very important project for Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Now first, INTO. INTO is the International National Trusts Organisation, comprising heritage trusts and National Trusts from around the globe. We have about 42 members at the moment representing about 5.5 million people who all share a vision about the better understanding and protection of cultural heritage. And one of our members is BPPI, the Indonesian Heritage Trust. We are very glad to have Indonesia as one of the earliest members of INTO.</p>
<p style="text-align: justify;">I would like to congratulate BPPI and the Netherlands Institute for Heritage on the initiative of this programme, this Project. Education is such an important part of heritage conservation.</p>
<p style="text-align: justify;">Now the Dutch have had a very long tradition of valuing and safeguarding their heritage. From the Netherlands, the Gelderland Trust has been one of the founding members of INTO and the Gelderland Trust itself has a proud tradition of caring for a magnificent portfolio of properties.</p>
<p style="text-align: justify;">I understand that the Indonesian Government through the Centre for Curriculum, Department of National Education, and the Department of Culture and Tourism have both been enthusiastic supporters of this Project. Also at the regional level, the Education Agency Yogyakarta Special Territory is also a supporter. To all these agencies of Government may I convey our congratulations for their participation.</p>
<p style="text-align: justify;">Now as part of my speech today I want to address three themes: (1) Intergenerational Equity; (2) the concept of a “Sense of Place”; and (3) Inspirational Education. Let me deal first with Intergenerational Equity.</p>
<p style="text-align: justify;">Intergenerational Equity: that is one of the cornerstone principles of sustainability. In essence it means that we the present generation have inherited the world, the environment, from our forebears – those that have come before us – and we hold it in trust now for future generations, so that we can hand over to those that follow. This principle calls for decision makers to consider, have regard to, all the impacts on and implications for the future.</p>
<p style="text-align: justify;">Now the primary focus of this principle has always been on the current generation, how we today can go about our business, how we do things today; but it is nevertheless very much a “two-way” concept. Just as we today have obligations to the future, so too the generation that follows must be ready to take on the responsibility to be the future custodians. For this to work, we today have to prepare the way for the future. We can’t expect much of those who follow, if we do not assist them to be aware of the values – the value of heritage. This means that education is essential; we today must pass on our knowledge; pass on our enthusiasm for our heritage. We must help those that follow us to open their eyes, their ears, all their senses – their minds – to all the reasons why we believe our heritage deserves to be safeguarded, indeed cherished.</p>
<p style="text-align: justify;">I now want to address the principle of “A Sense of Place”. The term “A Sense of Place” is a wonderful concept. It is basically about connectivity – the connection of a person, and their community, to their place. It is about allowing a person to understand their origins, their cultural roots – where they came from. Heritage education is all about helping people to find their Sense of Place.</p>
<p style="text-align: justify;">It helps people to find their “place” in this world – in time – in their moment in history. I sincerely believe that an understood Sense of Place truly assists communities to find stability – to arrive at a position of knowing their place from which to plan their futures. Heritage education in schools has great potential to assist young people to achieve this knowledge which is so important – their Sense of Place.</p>
<p style="text-align: justify;">Now I finally want to address Inspirational Education. Heritage education has every opportunity to inspire people – to ignite that flame for learning more – because heritage, told the right way, the interesting way, is all about stories. Human history is full of excitement, challenge, achievement, adversity and triumph. The history which is built in to every item of heritage can be as good as the best story, the best film. It can be colourful; it can be inspiring. It is all in the telling – in heritage education. Do it well and win a young heart for ever; do it particularly well and win a community ready to take the custodianship of our heritage – when their time comes.</p>
<p style="text-align: justify;">So when all of you attending this Seminar think about the presentations, and debate the concepts and consider the good advice you will hear – remember that what you are focussing on could not be more important. Indeed, in human terms, you are laying the foundations for the future.</p>
<p style="text-align: justify;">I now close by wishing you all, the conference participants, every best bit of good luck for a successful conference. I trust your discussions will be effective and that the outcomes will be of great benefit to all Indonesians, but most of all to the younger generation, the school students, who will one day have passed on to them the responsibility to care for Indonesia’s heritage.</p>
<p style="text-align: justify;">Thank you very much for giving me this opportunity, as chairman of INTO, to address your conference albeit from a very far distant point on this globe. But I feel as though I’m there with you and I know that the outcomes will make a difference for us all: for Indonesian heritage, for global heritage.</p>
<p style="text-align: justify;">Good luck and thank you for convening this very important Seminar. Good bye.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendidikanpusaka.org/column/international-seminar-on-heritage-education-for-schools-in-indonesia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siaran Pers &#8211; Pendidikan Pusaka untuk Sekolah Dasar di Indonesia</title>
		<link>http://pendidikanpusaka.org/agenda/siaran-pers-pendidikan-pusaka-untuk-sekolah-dasar-di-indonesia.html</link>
		<comments>http://pendidikanpusaka.org/agenda/siaran-pers-pendidikan-pusaka-untuk-sekolah-dasar-di-indonesia.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 09:30:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendidikanpusaka.org/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Pameran: 22 – 29 Januari 2010 di Karta Pustaka (Pusat Kebudayaan Indonesia-Belanda) Jl. Bintaran Tengah 16, Yogyakarta Seminar Internasional: 23 Januari 2010,pukul 10.00 – 13.00 wib di University Club UGM, Jl. Pancasila Bulaksumur, Yogyakarta Membekali anak-anak Indonesia dengan ilmu pengetahuan dan teknologi sudah dilakukan Indonesia . Cukupkah? Penguasaan teknologi dan sains yang hebat tanpa diimbangi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Pameran</strong>: 22 – 29 Januari 2010 di Karta Pustaka (Pusat Kebudayaan Indonesia-Belanda) Jl. Bintaran Tengah 16, Yogyakarta<br />
<strong>Seminar Internasional</strong>: 23 Januari 2010,pukul 10.00 – 13.00 wib di University Club UGM, Jl. Pancasila Bulaksumur, Yogyakarta</p>
<p style="text-align: justify;">Membekali anak-anak Indonesia dengan ilmu pengetahuan dan teknologi sudah dilakukan Indonesia . Cukupkah? Penguasaan teknologi dan sains yang hebat tanpa diimbangi dengan pemahaman akan identitas budaya akan menghasilkan generasi yang cerdas namun kering dari spirit keIndonesiaannya. Generasi anak-anak Indonesia akan menjadi asing terhadap lingkungannya, terhadap eksistensinya karena Indonesia adalah kumpulan gugusan budaya dan keberagaman yang saling berkait dan membentuk sebuah bangsa. Maka, sejak dini anak-anak Indonesia perlu diperkenalkan dengan akar budayanya, dengan identitasnya, sambil mengolah kemampuan logika dan penguasaan teknologi, agar kelak mereka menjadi generasi yang cerdas, berwawasan luas, mandiri, namun tetap bermartabat karena  memiliki dan memelihara identitas budayanya, spirit keberagaman bangsanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pusaka budaya dan pusaka alam adalah kekayaan sekaligus identitas bangsa Indonesia . Begitu banyaknya ragam pusaka yang dimiliki Indonesia , begitu berlimpah sehingga sering kita lupa untuk menjaganya. Tak heran jika pelan-pelan satu demi satu pusaka-pusaka kita “dipinjam”, “dibeli”, bahkan “dicuri oleh bangsa lain. Berangkat dari kepedulian akan pelestarian pusaka alam dan budaya Indonesia, serta perlunya membangun kesadaran akan identitas budaya sejak dini, maka Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) berinisiatif untuk menyusun model pembelajaran tentang pengenalan pusaka budaya dna pusaka alam, serta membuat model pembelajarannya. Didukung oleh Departemen Pendidikan Nasional dan Pusat Kurikulum Nasional, BPPI bekerjasama dengan Erfgoed Nederland (Netherlands Heritage Trust/Badan Pelestarian Pusaka Belanda), dibuatlah pilot project untuk pembuatan modul pembelajaran pusaka untuk Sekolah Dasar di mana Yogyakarta dipilih sebagai lokasi proyek ini. Ada 13 SD di seluruh DIY yang dipilih untuk terlibat dalam pilot project ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasil dari pilot project ini adalah guru-guru yang telah terlatih dan 21 judul modul pembelajaran pusaka untuk anak-anak yang ditulis oleh para guru. Karya-karya inilah yang akan ditampilkan dalam Pameran Pendidikan Pusaka untuk Sekolah Dasar di Indonesia. Pameran ini terbuka untuk umum.</p>
<p style="text-align: justify;">Pembukaan Pameran dilaksanakan pada tanggal 22 Januari 2010, pukul 19.00 wib. oleh anak Yurna Nudesia, pelajar SD Budi Mulia 2. Selama pameran, ada workshop (membatik, membuat ikat celup, dll.) dan  aneka pertunjukan seni oleh murid-murid Sekolah Dasar.</p>
<p style="text-align: justify;">Seminar Pendidikan Pusaka untuk sekolah dasar di Indoensia akan dilaksanakan pada tanggal 23 Januari 2010 di UC UGM. Dalam seminar ini akan disampaikan kertas kerja hasil pilot project. Seminar akan diikuti oleh para guru SD, pemerhati pendidikan, pakar pendidikan, dan pemerhati kebudayaan. Seminar akan dibuka oleh Dirjen Dikdasmen, Prof. Dr. Suyanto mewakili Mendiknas.</p>
<p style="text-align: justify;">Masih ada ribuan bahkan jutaan pusaka di seluruh Indonesia yang perlu dikenal oleh seluruh anak Indonesia kelak. Ada banyak cara untuk berperan serta bagi pendidikan anak-anak Indonesia , dan bagi peletarian pusaka budaya Indonesia . Saatnya untuk melestarikan pusaka bduaya kita, dan membangun Indonesia yang modern tanpa kehilangan akar budayanya, tanpa menghancurkan identitasnya, tanpa mengabaikan sejarahnya. Mari kita lestarikan pusaka budaya dan alam Indonesia untuk masa depan yang lebih baik, untuk kita wariskan ke generasi berikutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yogyakarta , Januari 2010</p>
<p style="text-align: justify;">Kontak dan Informasi: Sinta Carolina 0816 4229 112<br />
Website: <a title="PendidikanPusaka.Org" href="http://pendidikanpusaka.org">http://pendidikanpusaka.org</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendidikanpusaka.org/agenda/siaran-pers-pendidikan-pusaka-untuk-sekolah-dasar-di-indonesia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Pusaka untuk Sekolah di Indonesia</title>
		<link>http://pendidikanpusaka.org/column/pendidikan-pusaka-untuk-sekolah-di-indonesia.html</link>
		<comments>http://pendidikanpusaka.org/column/pendidikan-pusaka-untuk-sekolah-di-indonesia.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 09:21:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan pusaka]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendidikanpusaka.org/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[Gaya hidup pelestari pusaka budaya dan alam sebagai karakter bangsa dimulai sejak dini Oleh: Laretna T. Adishakti Pusaka alam, budaya maupun saujana (natural, cultural and cultural landscape heritage) ada di mana-mana. Kasat mata ataupun dalam jiwa. Ada pusaka dunia dan nasional seperti Candi Borobudur, Pulau Komodo atau Taman Nasional Bukit Barisan. Tidak sedikit pusaka lokal, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Gaya hidup pelestari pusaka budaya dan alam sebagai karakter bangsa dimulai sejak dini</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Oleh: Laretna T. Adishakti</p>
<p style="text-align: justify;">Pusaka alam, budaya maupun saujana (<em>natural, cultural and cultural landscape heritage</em>) ada di mana-mana. Kasat mata ataupun dalam jiwa. Ada pusaka dunia dan nasional seperti Candi Borobudur, Pulau Komodo atau Taman Nasional Bukit Barisan. Tidak sedikit pusaka lokal, dari provinsi hingga kota dan desa seperti misalnya rumah tradisional, seni tari, bahasa, musik dan lagu, dll.. Setiap waktu bisa pula melihat dan merasakan pusaka masyarakat/komunitas, di antaranya pohon, bangunan, upacara lokal, dll. Belum lagi pusaka keluarga, yang sering kali tanpa disadari, selalu diupayakan untuk dilestarikan seperti rumah/tanah, foto keluarga, keris, dll. Bahkan tiap insanpun sebenarnya punya ”pusaka saya” yang sangat personal, apapun ragamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejatinya mencegah kerusakan, memelihara dan melestarikan pusaka merupakan bagian dari gaya hidup. Bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Tua maupun muda, dan anak-anak sekalipun. Mengenal untuk kemudian memahami keragaman, makna dan fungsi pusaka dalam kehidupan memang perlu diupayakan sejak dini. Pendidikan di Sekolah Dasar merupakan media yang sangat penting dalam upaya ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk itulah program Pendidikan Pusaka untuk Sekolah di Indonesia yang digalakkan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) diawali dengan proyek percontohan di Sekolah Dasar di Daerah Istimewa Yogyakarta mulai Januari 2008 hingga Januari 2010.  Bekerjasama dengan Erfgoed Netherland/EN (the Netherlands Institute for Heritage)  dan Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional, BPPI  membentuk Tim Pendidikan Pusaka. Serangkaian program telah dirancang dan dilaksanakan. Memang kerja sama dengan EN berakhir bulan Januari 2010, namun BPPI dan Pusat Kurikulum DEPDIKNAS akan terus menumbuh kembangkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>I. PUSAKA (ALAM &amp; BUDAYA) &#8211; KARAKTER BANGSA INDONESIA</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Indonesia sangat kaya dengan limpahan pusaka alam dan budaya yang bernilai tinggi, beraneka ragam dan unik. Pusaka alam dan budaya yang menyatu membentuk pusaka saujana menyiratkan kearifan manusia dalam mengolah kelestarian alamnya. Pusaka-pusaka tersebut memiliki kekuatan untuk menjadi media bagi bangsa Indonesia mempelajari masa lalunya. Ini semua merupakan kekayaan yang tiada tara  menyebar ke berbagai pelosok tanah air. Meskipun kenyataan menunjukkan pula bahwa tidak sedikit pusaka yang terusik, terusak, dirusak hingga dihancurkan. Banyak pula pusaka yang memusnah, yang bisa jadi generasi mendatang sudah tidak akan menemui dan menikmatinya. Sementara itu dicermati dari mekanisme pengelolaan pusaka serta dukungan peraturan yang memproteksi masih sangat terbatas. Bahkan pada dasarnya pusaka belum secara sistematik terkelola. Pengelolaan pusaka masih pula dibedakan/terpisah antara budaya dan alam. Padahal kenyataan menunjukkan pula bahwa budaya tradisi di berbagai penjuru tanah air umumnya didedikasikan untuk keseimbangan dan kelestarian alam. Pada tahun 2000, sejumlah pelestari pusaka dari banyak daerah di Indonesia sepakat membentuk Jaringan Pelestarian Pusaka Indonesia demi menyelamatkan pusaka alam dan budaya Indonesia serta gabungan antara keduanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tahun 2003, dalam rangka Tahun Pusaka Indonesia, Jaringan Pelestarian Pusaka Indonesia/JPPI bekerjasama dengan International Council on Monuments and Sites/ICOMOS Indonesia dan Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia  mendeklarasikan Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia 2003. Dinyatakan bahwa pusaka Indonesia adalah pusaka alam, pusaka budaya, dan pusaka saujana. Pusaka alam (natural heritage) adalah bentukan alam yang istimewa. Pusaka budaya (cultural heritage) adalah  hasil cipta, rasa, karsa, dan karya yang istimewa dari lebih 500 suku bangsa di Tanah Air Indonesia, secara sendiri-sendiri, sebagai kesatuan bangsa Indonesia, dan dalam interaksinya dengan budaya lain sepanjang sejarah keberadaannya. Pusaka saujana (cultural landscape heritage) adalah gabungan pusaka alam dan pusaka budaya dalam kesatuan ruang dan waktu.<br />
Tahun 2004, Badan Pelestarian Pusaka Indonesia didirikan dan berkedudukan di Jakarta. Program utama BPPI adalah:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>a. Menyiapkan masukan untuk kebijakan, strategi, program, panduan dan mekanisme pelestarian;</li>
<li>b. Membantu peningkatan kapasitas dan gerakan pelestarian, bekerjasama dengan berbagai lembaga, komunitas, dan dunia usaha melalui bantuan teknis, pendidikan dan pelatihan, lokakarya, seminar, pengembangan database dan website, publikasi, dan promosi;</li>
<li>c. Mengembangkan sistem pendanaan pelestarian pusaka Indonesia bekerjasama dengan lembaga nasional dan internasional, dunia usaha dan komunitas, mengusulkan insentif, peringanan pajak, dan dukungan dari berbagai lembaga,</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Menjadi bagian dari program utama tersebut adalah mempersiapkan generasi mendatang  yang mampu menghargai dan bertindak untuk memelihara, melestarikan dan mengelola pusaka dengan tepat. Menjadi manusia pelestari, apapun profesinya, hendaklah menjadi gaya hidup bagi setiap insan di Indonesia yang dilingkupi dengan kekayaan pusaka alam dan budaya. Gaya hidup ini merupakan karakter bangsa yang nyata. Suatu tindakan keseharian yang mendarah daging, sebagaimana telah ditunjukkan oleh nenek moyang bangsa Indonesia dengan segala kearifannya dan sepenuh hati.mengelola alam raya.<br />
Anak-anak melalui wadah pendidikan sekolah sudah saatnya dipersiapkan menjadi pelestari budaya dan alam melalui gaya hidupnya, apapun profesi mereka nantinya. Tahun 2007, BPPI mempersiapkan program Pendidikan Pusaka untuk Sekolah di Indonesia, diawali dengan mengutamakan program di Sekolah Dasar.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>II. MEMBANGUN PENDIDIKAN PUSAKA UNTUK SEKOLAH</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1. Mulai dari Sekolah Dasar di Daerah Istimewa Yogyakarta</p>
<p style="text-align: justify;">Pada tanggal 5 Mei 2005, di Kedutaan Belanda Jakarta, Memorandum of Understanding (MOU) tentang ”Heritage Education in Primary Schools in Indonesia” ditandatangani oleh DR. Setyanto P. Santosa (Ketua, Badan Pelestarian Pusaka Indonseia) dan Richard Hermans (Direktur, Erfgoed Netherland). Tujuan proyek ini  adalah membuat anak-anak di Indonesia peduli terhadap kekayaan pusaka yang beragam yang terdapat di sekelilingnya, serta mereka akan mampu menilainya dengan lebih baik. Melalui hal ini pula, generasi mendatang akan menjadi lebih perhatian terhadap tanggung jawab bersama untuk mewariskan pusaka ke generasi masa datang. Kepedulian publik merupakan faktor kunci dalam pelestarian pusaka masa depan. Namun, pusaka hendaknya juga merupakan sesuatu yang menyenangkan untuk dipelajari dan dapat digunakan dengan banyak cara yang berbeda dalam pendidikan baik secara umum maupun di sekolah dasar pada khususnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pendidikan pusaka merupakan pendekatan dalam ajar mengajar yang menggunakan informasi pusaka alam, budaya bendawi maupun tak bendawi, serta pusaka gabungan alam &amp; budaya (saujana) yang tersedia sebagai sumber daya pembelajaran. Melalui pendidikan pusaka anak-anak dapat mengembangkan perhatian terhadap kesejarahan. Kontak dengan keaslian yang masih ada memberikan kedekatan pada masa lalu. Bekerja bersama pusaka anak-anak dapat meningkatkan respek terhadap apa yang ditinggalkan pendahulunya dan mereka menjadi peduli terhadap nilai pelestarian suatu pusaka untuk masa depan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Pendidikan pusaka untuk anak-anak adalah penting karena mereka merupakan generasa masa datang, mereka akan menetapkan keputusan masa datang tentang pelestarian pusaka. Untuk membuat keputusan penting ini anak-anak perlu memiliki kepedulian terhadap pusaka di sekelilingnya. Oleh karena itu, pusaka di lingkungan langsung anak-anak akan menantang mereka untuk menyelidiki dan cara memandang mereka akan berbeda pula terhadap pusaka-pusaka tersebut. Sebagai hasil dari pendidikan pusaka anak-anak dapat melihat pusaka dengan cara yang berbeda karena mereka memahami apa yang dilihatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">BPPI dan EN yang kemudian bekerjasama dengan Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional menetapkan kasus percobaan untuk Sekolah Dasar di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pertimbangannya adalah karena Yogyakarta memiliki pusat pelestarian pusaka yang aktif. Kemudian banyak pusaka budaya yang tersebar di Yogyakarta maupun daerah di sekelilingnya. Mulai dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, kompleks candi Prambanan yang terkenal, hingga pusaka budaya seperti batik, gamelan dan wayang kulit. Terlebih Yogyakarta merupakan kota yang relatif besar yang dikelilingi dengan desa-desa kecil. Dengan menyertakan sekolah-sekolah dari kota hingga desa, metode pembelajaran mungkin akan berbeda di setiap sekolah. Pengalaman dan material yang dikembangkan dalam proyek percontohan di Yoyakarta ini akan disebarluaskan ke berbagai tempat di Indonesia. BPPI akan bertanggung jawab terhadap diseminasi hasil proyek ini secara khusus dan promosi pendidikan pusaka secara umum.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Skema Pelaksanaan Pendidikan Pusaka untuk Sekolah Dasar di DIY</p>
<p style="text-align: justify;">Proyek percontohan BPPI, EN dan PUSKUR (2008 – 2009) ini dipersiapkan dan dilaksanakan melalui serangkaian program, yaitu:</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li> Pembentukan Tim Pendidikan Pusaka BPPI</li>
<li> Penyusunan Buku Panduan Guru SD dalam Pendidikan Pusaka</li>
<li> Penetapan SD untuk proyek percontohan Pendidikan Pusaka</li>
<li> Pelatihan untuk Guru SD tentang Pendidikan Pusaka, dan penyusunan rencana pelaksanaan Pendidikan Pusaka di sekolah masing-masing</li>
<li> Pembentukan Forum Guru Pendidikan Pusaka DIY</li>
<li> Pelaksanaan Pendidikan Pusaka di tiap sekolah</li>
<li> Kunjungan Tim Pendidikan Pusaka BPPI ke EN dan Pembelajaran Pendidikan Pusaka di Belanda</li>
<li> Penyusunan Buku Seri Pendidikan Pusaka untuk Anak dan  Pembentukan Tim Kreatif</li>
<li> Monitoring dan Evaluasi pelaksanaan Pendidikan Pusaka di sekolah dan Pertemuan rutin Forum Guru Pendidikan Pusaka DIY</li>
<li> Diseminasi</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">a. Pembentukan Tim Pendidikan Pusaka BPPI<br />
Pada akhir Desember 2007,  Tim Pendidikan Pusaka BPPI (Tim PP-BPPI) mulai dibentuk. Anggota tim terdiri dari para pelestari pusaka dengan ragam pusaka yang digeluti berbeda-beda.</p>
<p style="text-align: justify;">b. Penyusunan Buku Panduan Guru SD dalam Pendidikan Pusaka<br />
Panduan Pendidikan Pusaka pada dasarnya belum ada. Demikian pula referensi tentang pusaka secara komprehensif terkait dengan keseluruhan ragam pusaka juga belum ditemui. Tim PP-BPPI memulai penyusunan panduan ini dari mencari kesepakatan keseluruhan Tim tentang pemahaman pusaka dan ragamnya yang sangat banyak serta kedalaman panduan hingga kesesuaian dengan target kompetensi murid.</p>
<p style="text-align: justify;">Draft awal panduan diselesaikan dalam waktu 10 bulan dan digunakan pertama sebagai bahan ajar pelatihan Guru SD tentang Pendidikan Pusaka. Setelah para guru peserta pelatihan mencoba melaksanakan program Pendidikan Pusaka di sekolah masing-masing, banyak masukan dan bahan untuk penyempurnaan panduan ini menjadi Draft Final Panduan.  Sebelum naik cetak sebagai hasil penyusunan yang Final, buku Draft Final Panduan ini akan disebarluaskan dalam Seminar Internasional tentang Pendidikan Pusaka yang akan diselenggarakan tgl. 23 Januari 2010 di University Club, Universitas Gadjah Mada serta pameran dari tgl. 22 – 29 Januari 2010 di Pusat Kebudayaan Indonesia-Belanda  Karta Pustaka. Diharapkan peserta seminar dan pengunjung pameran memberikan masukan tertulis untuk buku panduan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Buku Panduan Guru SD untuk Pendidikan Pusaka berisikan:</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Bab I. PELESTARIAN PUSAKA</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>1.1 Latar Belakang</li>
<li>1.2 Pengertian Pusaka dan Pelestarian</li>
<li>1.3 Jenis-jenis Pusaka</li>
<li>1.3.1 Pusaka Budaya (pusaka bendawi dan tak bendawi)</li>
<li>1.3.2 Pusaka Alam</li>
<li>1.3.3 Pusaka Saujana</li>
<li>1.4 Tingkat Pusaka dan Pengelolaannya</li>
<li>1.5 Perkembangan Pelestarian Pusaka</li>
<li>1.6 Manfaat Fisik, Ekonomi, dan Sosial Budaya</li>
<li>1.7 Upaya dan Bentuk Pelestarian Pusaka</li>
<li>1.8 Organisasi dan Peraturan Perundangan</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Bab II. KERANGKA PENDIDIKAN PUSAKA</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>2.1    Murid sebagai Pelaku dan Penerus Pelestarian</li>
<li>2.2    Tujuan dan Sasaran Pendidikan Pusaka</li>
<li>2.3    Pendekatan dan Alat Bantu</li>
<li>2.4    Dua Jalur Pembelajaran</li>
<li>2.5    Urutan Pembelajaran dan Alokasi Waktu</li>
<li>2.6    Standar Kompetensi</li>
<li>2.7    Uji kemampuan</li>
<li>2.8    Tindak lanjut</li>
<li>2.9    Catatan</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Bab III. MATERI PENDIDIKAN PUSAKA</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>3.1. Pusaka Budaya Bendawi</li>
<li>3.1.1. Pusaka Budaya Bendawi Bergerak</li>
<li>3.1.2. Pusaka Budaya Bendawi Tak Bergerak</li>
<li>3.2. Pusaka Budaya Non Bendawi</li>
<li>3.2.1. Sastra Lisan</li>
<li>3.2.2. Aksara dan Sastra Tertulis</li>
<li>3.2.3. Musik</li>
<li>3.2.4. Tari</li>
<li>3.2.5. Teater Tradisional</li>
<li>3.2.6. Teater Boneka</li>
<li>3.2.7. Seni Rupa</li>
<li>3.2.8. Seni Kriya</li>
<li>3.2.9. Seni Busana</li>
<li>3.2.10. Pusaka Kuliner</li>
<li>3.2.11. Obat dan Pengobatan Tradisional</li>
<li>3.2.12. Seni Bela Diri</li>
<li>3.2.13. Dolanan (Permainan Anak-anak)</li>
<li>3.2.14. Upacara Tradisional</li>
<li>3.3. Pusaka Alam dan Saujana</li>
<li>3.3.1. Sistem Ekologi</li>
<li>3.3.2. Pusaka Alam</li>
<li>3.3.3. Pusaka Saujana</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Bab IV.  CONTOH-CONTOH PEMBELAJARAN</p>
<p style="text-align: justify;">Bab V.    SUMBER-SUMBER INFORMASI LAIN</p>
<p style="text-align: justify;">Lampiran:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>1. Jelajah Pusaka Saujana Yogyakarta</li>
<li>2. Jelajah Pusaka Saujana Prambanan</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">c. Penetapan SD untuk proyek percontohan Pendidikan Pusaka<br />
Keragaman alam dan budaya Yogyakarta merupakan salah satu penentu penetapan Sekolah Dasar yang akan menjadi peserta proyek percontohan. Lokasi yang beragam dari kota, desa hingga gunung akan berpengaruh pula dengan metoda pembelajaran Pendidikan Pusaka. Untuk itu kriteria juga mengikuti kondisi lokasi. Selain itu Tim PP-BPPI berkonsultasi juga ke Dinas Pendidikan  DIY. Sekolah Dasar peserta Pendidikan Pusaka adalah:</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>- Kota Yogyakarta: SDN Ungaran I, SDN Kotagede I</li>
<li>- Kab. Sleman: SD Tarakanita Tritis, SD Budi Mulia Dua</li>
<li>- Kab. Bantul: SDN Bantul Manunggal, MI Ma’arif Giriloyo I, Imogiri, MI Ma’arif Giriloyo II, Imogiri</li>
<li>- Kab. Kulon Progo: SDN Kembang Malang, SDN Wonorejo I, SDN Wonorejo II</li>
<li>- Kab. Gunung Kidul: SDN Jragum, SDN Selang</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">d. Pelatihan untuk Guru SD tentang Pendidikan Pusaka, dan penyusunan rencana pelaksanaan Pendidikan Pusaka di sekolah masing-masing</p>
<p style="text-align: justify;">Pelatihan dilaksanakan di Hotel Galuh, Prambanan pada bulan November 2008 secara intensif selama 4 hari: pagi, siang, sore dan malam. Pembelajaran dilaksanakan di ruang kelas maupun kunjungan dan jelajah lapangan (lihat lampiran). Dalam pelatihan tersebut peserta diberi tugas untuk menyusun rencana pelaksanaan Pendidikan Pusaka di sekolah masing-masing. Rencana tersebut dipresentasikan di akhir pelatihan</p>
<p style="text-align: justify;">e. Pembentukan Forum Guru Pendidikan Pusaka DIY<br />
Ketika pelatihan berakhir, Forum Guru Pendidikan Pusaka DIY dibentuk sebagai sarana komunikasi, ajang diskusi ilmu dan silaturahmi. Disepakati Forum bertemu secara rutin.</p>
<p style="text-align: justify;">g. Pelaksanaan Pendidikan Pusaka di tiap sekolah<br />
Sesuai rencana Pendidikan Pusaka yang disusun ketika mengikuti pelatihan, masing-masing mencoba melaksanakan rencana tersebut. Hasil dari pelaksanaan tersebut dilaporkan ketika diselenggarakan pertemuan Forum Guru Pendidikan Pusaka. Pada awal pelaksanaan, beberapa sekolah merasa canggung dan belum mencapai sasaran yang diharapkan. Namun ketika melihat hasil dari sekolah lain yang mantab melaksanakannya tumbuh semangat baru dari para guru.</p>
<p style="text-align: justify;">h. Penyusunan Buku Seri Pendidikan Pusaka untuk Anak &amp; Pembentukan Tim Kreatif<br />
Pada dasarnya partisipasi dan semangat luar biasa para guru SD anggota Forum telah ditunjukkan dalam pelaksanaan pendidikan pusaka di sekolah masing-masing. Melihat  tersebut Tim PP-BPPI menawarkan kepada para guru untuk juga menulis sendiri bahan bacaan pendidikan pusaka untuk murid-muridnya, yang kemudian dapat pula menjadi bahan bacaan bagi sekolah-sekolah lain di DIY. Untuk mendukung pekerjaan ini dibentuk pula Tim Kreatif  yang terdiri para ilustrator muda berbakat. Bersama Tim PP-BPPI mengolah naskah dari para guru menjadi buku Seri Pendidikan Pusaka untuk Anak (SPPA) lengkap dengan ilustrasi gambar berwarna dan menarik. Secara bertahap pusaka didata, diungkapkan dan diceritakan. Di awali dengan 21 buah buku, SPPA akan terus diproduksi. Masih ribuan pusaka di DIY yang perlu ditunjukkan dan dijelaskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Judul Seri Pendidikan Pusaka untuk Anak yang sementara ini sudah dihasilkan:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>1. Selokan Mataram</li>
<li>2. Jumputan, Seni Celup Ikat</li>
<li>3. Gobag Sodor</li>
<li>4. Tari Kraton Putri</li>
<li>5. Bakpia, Kelezatan dari Jogja</li>
<li>6. Jelajah ke Bukit Turgo</li>
<li>7. Ayo Belajar Membatik</li>
<li>8. Apotik Hidup</li>
<li>9. Panatacara</li>
<li>10. Gumbregan</li>
<li>11. Aku dapat Menganyam</li>
<li>12. Dakon</li>
<li>13. Tiwul Makanan Kesukaanku</li>
<li>14. Tamansiswa</li>
<li>15. Sejarah SDN Ungaran</li>
<li>16. Belalang, Makanan Khas dari Wonosoari</li>
<li>17. Geplak</li>
<li>18. Kipo</li>
<li>19. Makanan Tradisional Gunung Kidul</li>
<li>20. Tempe</li>
<li>21. Sejarah Masjid Syuhada</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">i. Kunjungan Tim Pendidikan Pusaka BPPI ke EN dan Pembelajaran Pendidikan Pusaka di Belanda<br />
Untuk mempelajari perkembangan Pendidikan Pusaka di Belanda, Tim PP-BPPI berkunjung ke beberapa lembaga pusaka dan kasus pelestarian pusaka di Belanda.</p>
<p style="text-align: justify;">j. Monitoring dan Evaluasi pelaksanaan Pendidikan Pusaka di sekolah<br />
Selama pelaksanaan uji coba Pendidikan Pusaka di masing-masing sekolah, selain evaluasi diselenggarakan saat pertemuan Forum Guru Pendidikan Pusaka DIY, Tim PP-BPPI melakukan road-show untuk melihat langsung ke masing-masing SD. Hasil detil MoNev sedang diselesaikan.</p>
<p style="text-align: justify;">k. Diseminasi<br />
Diseminasi dilaksanakan melalui Newsletter, Website, Pameran, Diskusi Terbuka dan Seminar Internasional.</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>- Newsletter:  Diterbitkan bekerjasama dengan Majalah Gong</li>
<li>- Website sedang dipersiapkan dengan alamat <a title="PendidikanPusaka.Org" href="http://pendidikanpusaka.org">http://pendidikanpusaka.org</a>.</li>
<li>- Pameran akan diselenggarakan tgl. 22 – 29 Januari 2010, di Karta Pustaka, Pusat Kebudayaan Indonesia Belanda, Yogyakarta</li>
<li>- Diskusi Terbuka akan diselenggarakan tgl. 22 Januari di UC UGM, Yogyakarta</li>
<li>- International Seminar on Heritage Education in Primary Schools in Indonesia akan diselenggarakan pada tgl. 23 Januari 2010 di UC UGM, Yogyakarta</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>III. TANTANGAN KE DEPAN</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Upaya Pendidikan Pusaka untuk Sekolah di Indonesia memang baru dimulai dari Jogja ini.. Walau di bulan Januari 2010 kerjasama BPPI &amp; EN berakhir, BPPI dan Pusat Kurikulum Depdiknas, termasuk para guru dari 13 SD yang telah tergabung dalam Forum Guru Pendidikan Pusaka DIY, akan terus menggelorakan Pendidikan Pusaka di Yogyakarta maupun seantero Indonesia. Persoalannya adalah apa yang telah diupayakan ini baru setitik embun di antara belantara pusaka yang sering kali tidak tersentuh bahkan banyak pula yang menuju ke kerusakan. Jalan masih panjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Kolaborasi dengan banyak pihak seperti para guru, pemerintah daerah, pihak swasta, penggiat pelestarian pusaka, masyarakat sangat diperlukan. Di samping itu  masukan, kritik membangun hingga koreksi dari semua pihak yang terkait juga dibutuhkan.  Sementara itu apa yang telah diuji cobakan, dikerjakan, dan dihasilkan diharapkan  mampu pula memberikan inspirasi dalam mengembangkan Pendidikan Pusaka untuk Sekolah di Indonesia maupun untuk Siapa Saja! Karena pusaka memang di mana-mana, perlu peran serta semua kalangan. Semoga Pusaka Indonesia lestari adanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;-</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Tulisan ini disampaikan dalam seminar pendidikan pusaka yang digelar di Departemen Pendidikan Nasional di Jakarta pada 14 Januari 2010.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Laretna T. Adishakti &#8211; Ketua Tim Pendidikan Pusaka, Badan Pelestarian Pusaka Indonesia/BPPI bekerjasama dengan Erfgoed Netherland dan Pusat Kurikulum DEPDIKNAS; Staf pengajar &amp; peneliti, Center for Heritage Conservation, Jur. Arsitektur dan Perencanaan FT, UGM; Anggota Dewan Pimpinan BPPI; Ketua, Jogja Heritage Society. Email: adishakti.sita@gmail.com;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Badan Pelestarian Pusaka Indonesia &#8211; Indonesian Heritage Trust yang berkedudukan di Jakarta adalah sebuah organisasi nirlaba bergerak dalam bidang pelestarian yang bertujuan melakukan penguatan upaya pelestarian pusaka di Indonesia. Visi BPPI adalah mengawal kelestarian pusaka Indonesia yang diaplikasikan melalui beragam misi kegiatan pelestarian baik alam, budaya dan saujana dengan pelibatan semua pemangku kepentingan terkait baik di pemerintah dan masyarakat sendiri.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendidikanpusaka.org/column/pendidikan-pusaka-untuk-sekolah-di-indonesia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rekam Proses Pelatihan Penerapan Modul Seri Pendidikan Pusaka untuk Anak</title>
		<link>http://pendidikanpusaka.org/news/rekam-proses-pelatihan-penerapan-modul-seri-pendidikan-pusaka-untuk-anak.html</link>
		<comments>http://pendidikanpusaka.org/news/rekam-proses-pelatihan-penerapan-modul-seri-pendidikan-pusaka-untuk-anak.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Jul 2009 11:44:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elanto Wijoyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Liputan]]></category>
		<category><![CDATA[Bantul]]></category>
		<category><![CDATA[desain]]></category>
		<category><![CDATA[Gunungkidul]]></category>
		<category><![CDATA[Kulon Progo]]></category>
		<category><![CDATA[modul]]></category>
		<category><![CDATA[pelatihan]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi anak]]></category>
		<category><![CDATA[Sleman]]></category>
		<category><![CDATA[tim kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendidikanpusaka.org/?p=99</guid>
		<description><![CDATA[Tempat: Wisma Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Hari, tanggal: Sabtu &#8211; Minggu, 4 &#8211; 5 Juli 2009 Realisasi Agenda: Sabtu, 4 Juli 2009 - Presentasi Penyusunan Modul Pendidikan Pusaka untuk Anak oleh Nia Nugrahani dan Elanto Wijoyono - Presentasi Standard Kompetensi Kurikulum Pendidikan Nasional untuk Pendidikan Pusaka oleh Erry Utomo - Presentasi Modul Pendidikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tempat: Wisma Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada Yogyakarta<br />
Hari, tanggal: Sabtu &#8211; Minggu, 4 &#8211; 5 Juli 2009</p>
<p>Realisasi Agenda:</p>
<p><strong>Sabtu, 4 Juli 2009</strong><br />
- Presentasi Penyusunan Modul Pendidikan Pusaka untuk Anak oleh Nia Nugrahani dan Elanto Wijoyono<br />
- Presentasi Standard Kompetensi Kurikulum Pendidikan Nasional untuk Pendidikan Pusaka oleh Erry Utomo<br />
- Presentasi Modul Pendidikan Pusaka untuk Anak oleh guru, dimoderatori oleh Hairus Salim<br />
- Presentasi Hasil Studi Banding ke Belanda oleh Nia Nugrahani<br />
- Pendampingan Penyusunan Modul Pendidikan Pusaka untuk Anak oleh seluruh fasilitator</p>
<p><strong>Minggu, 5 Juli 2009</strong><br />
- Simulasi penerapan modul pendidikan pusaka untuk anak oleh guru, difasilitasi oleh Nia Nugrahani<br />
- Tinjauan simulasi oleh Bapak Nazarius dan Ibu Gamayanti, dimoderatori oleh Nia Nugrahani<br />
- Perencanaan program kegiatan Semester I Tahun 2009/2010, difasilitasi oleh Elanto Wijoyono<br />
- Persiapan peresmian Forum Guru Pendidikan Pusaka, difasilitasi oleh Elanto Wijoyono<br />
- Persiapan teknis tim kreatif, difasilitasi oleh Elanto Wijoyono</p>
<p><strong>Peserta:</strong><br />
guru dari 13 sekolah dasar peserta program di D.I. Yogyakarta, tim kreatif Pendidikan Pusaka</p>
<p><strong>Panitia dan Fasilitator:</strong><br />
Anggi Minarni<br />
Astrid<br />
D.S. Nugrahani (Nia)<br />
Dwita Hadirahmi<br />
Elanto Wijoyono<br />
Hairus Salim<br />
Melati Anastasia<br />
Sinta Carolina<br />
Sita Adishakti<br />
Suhadi Hadiwinoto<br />
Yeni Paulina</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p><strong>Sabtu, 4 Juli 2009</strong></p>
<p>Pukul 09.07</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Melati Anastasia</p>
<p>Pembukaan</p>
<p>Kita akan berkumpul selama dua hari, usai pertemuan di Imogiri.<br />
Pertama, Bu Anggi akan membuka pertemuan ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Anggi Minarni</p>
<p>Salam<br />
Semua gembira ya.<br />
Sebelumnya, mohon mengisi kursi di depan, agar kalau difoto bagus, ya.</p>
<p>Kita  bertemu lagi untuk memulai lebih nyata apa yang kita bahas dan angankan.  Kita mencapai tahap yang lebih jauh, yakni membuat modul. Sepertinya  agak tampak ribet, tapi sebenarnya tujuan kita sama, untuk jauh ke  depan. Selama ini sekolah dan pemerintah menerima modul atau bahan saja.  Sekarang saatnya guru dan masyarakat umum mencoba berperan lebih aktif,  menulis sendiri modul yang akan dipakai.</p>
<p>Sekarang  waktunya untuk melakukan inisiatif itu dan berperan lebih aktif untuk  memajukan pendidikan kita. Kita akan lebih produktif dan kualitas  pendidikan kita untuk siswa akan lebih maju jika kita sendiri bisa  memulainya. Pusaka anak adalah bekal penting untuk bekal anak kita di  masa depan agar bisa menjadi anak-anak indonesia yang paham betul akan  budaya dan identitasnya. Hal itu harus dimulai dari sekarang. Cara itu  juga dimulai dan sudah dilakukan oleh negara maju, sekolah dan  masyarakat semuanya berperan aktif. Semoga dua hari ini bisa memberikan  tambahan wawasan dan pencerahan bagi kita.</p>
<p>Kita  berharap akan semakin banyak yang berperan aktif. Langkah yang kita  siapkan bersama untuk mencapai tujuan itu, kita coba berbagi agar tahu  langkah-langkah yang lebih strategis lagi.</p>
<p>Semangat menjalani pelatihan. Ada beberapa pakar yang siap mendampingi dan kami pun akan belajar dari bapak dan ibu guru.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Melati Anastasia</p>
<p>Selanjutnya kita akan mendengarkan presentasi dari Mba Nia dan Mz Joyo</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Salam<br />
Semoga tidak bosan bertemu saya lagi. Saya lihat di sini ada wajah dan  semangat baru. Bapak dan ibu yang bosan melihat saya, saya ada bahan  yang bisa saya tampilkan agar tidak bosan. Rekan-rekan yang baru  bertemu, perkenalkan saya Nia.</p>
<p>Saya  duduk di sini bukan bermaksud menggurui, tapi justru ingin belajar. Kami  suka jalan-jalan juga, sampai ke banyak pelosok daerah, tidak hanya  dapat ilmu, tapi juga dapat mencicipi kulinarinya juga.</p>
<p>(presentasi dengan slide)</p>
<p>Kita  sudah lama tidak bertemu. Dalam pertemuan kali ini kami mencoba untuk  mengajak bapak dan ibu untuk berbagi cerita tentang modul di sekolah.  Kenapa modul? Ketika dulu kami berkunjung ke sekolah bapak dan ibu,  mungkin yang kita bayangkan mengenai modul itu bisa jadi berbeda dengan  yang dibayangkan oleh bapak dan ibu guru. Kami sendiri membayangkan  modul itu sebagai sesuatu yang sederhana.</p>
<p>Kami  merumuskan hasil diskusi dalam proses itu, kami menyatakan bahwa modul  seri pendidikan pusaka untuk anak itu adalah materi ajar untuk anak  sekolah dasar.  Hal itu bisa dimulai dari lingkungan sekitar anak-anak,  dan secara bertahap disampaikan ke anak-anak.</p>
<p>Tujuan  yang kami pikirkan waktu itu adalah untuk memberikan pengayaan  pengatahuan tentang pusaka, agar bisa menanamkan rasa bangga. Saya juga  tadi bicara bahasa Banyumasan, tidak malu kan. Dulu saya tidak mau  bicara bahasa Jawa, karena sering malu dengan aksen saya. Saya sering  ditertawakan dan mempertanyakan kenapa harus berbahsa Jawa. Pada  dasarnya orang Banyumas itu apa adanya, sehingga saya harus bangga.  Jadi, ada rasa kebanggaan di sana akhirnya. Alhamdulillah sekarang saya  sekarang tidak malu lagi.</p>
<p>Setelah  muncul rasa bangga maka kemudian akan muncul apresiasi. Walaupun kadang  sekarang hal itu bisa dianggap sebagai suatu lelucon, seperti bahasa  jawa dengan aksen banyumas itu. Setelah ada apresiasi, kemudian bisa  dilanjutkan dengan upaya menuju pelestarian, untuk anak sekolah dasar.  Misal, jika bahasa, bisa dimulai dengan membawa anak tidak malu  berbahasa daerah.</p>
<p>Kemudian,  kita mencoba untuk mengembangkan bahan pengajaran. Mungkin selama ini  materi pengajaran sudah jenuh, dan hal itu ternyata masih bisa  dikembangkan.</p>
<p>Modul  itu secara sifatnya harus sesuai dengan umurnya dan sesuai dengan  standard kompetensi. Selain itu juga penting bahwa modul harus aktual,  menarik, dan interaktif. Juga dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan  kreativitas. Setelah membaca modul, anak diharapkan bisa lebih aktif.  Seperti bertanya kepada guru, orang tua, atau membaca dan membeli buku.</p>
<p>Dari  keluhan bapak dan ibu guru, kami menemukan bahwa modul yang kami  pikirkan sedikit agak berbeda. Ada dua modul secara garis besar, yakni  bacaan yang bebas mandiri dan bacaan yang jadi suplmene dari mata   pelajaran.</p>
<p>Nanti kami akan sediakan pojok perpustakaan, sehingga bapak ibu guru dapat melihat contohnya langsung di sini.</p>
<p>Saya  bisa memulai dari suplemen mata pelajaran. Misal, suplemen mata  pelajaran sejarah. Jika di sekolah, pengajaran sejarah seperti apa?  Monggo Pak Yanto, sejarah kuno apa yang diajarkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sugiyanto</p>
<p>Terima  kasih. Kebetulan saya tidak mengampu pelajaran sejarah, tapi di  dalamnya bisa ada muatannya. Saya mengampu mata pelajaran Kebudayaan  Jawa yang di sekolah kami menjadi ganti dari mata pelajaran Bahasa Jawa.  Inti pelajaran ini, sebelum ada pendidikan pusaka ini, kami pun sudah  memuat elemen pendidikan pusaka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Ya, semoga cocok.<br />
Maaf, yang saya contohkan di sini sejarah karena bidang saya sejarah.  Misal, ada sejarah kuno, misal Mataram Kuno. Namun, selama ini banyak  yang diajarkan itu sejarah elit, seperti sejarah raja-rajanya. Padahal,  ada banyak hal yang bisa lebih dikembangkan, di sela jam yang sudah  dibatasi. Kalau tidak dikembangkan, anak akan cenderung tidak suka  dengan sejarah karena hanya berkutat di tokoh dan angka tahun. Kita bisa  kembangkan itu sebagai suplemen. Misal, dari sejarah Mataram Kuno, kita  tidak hanya akan bicara tokoh dan angka tahun. Kita bisa bicara  peristiwa penting, seperti pencapaian. Dari bukti material bisa pula  kita contohkan berbagai macam pusaka teraga dan saujananya. Dari  prasasti kita bisa mengungkap banyak hal. Guru tidak harus bisa baca  prasasti itu sendiri. Namun, guru bisa berkomunikasi dengan pakar untuk  mendapatkan referensinya.</p>
<p>Misal,  kita akan berkunjung ke candi. Kita bisa memberikan pembekalan sebelum  berkunjung ke candi. Bisa dimulai dengan memberikan pengertian apakah  itu candi, ada banyak hal yang bisa digali dari sana. Lalu mengajak  menggali apa yang bisa kita pelajari dari candi. Misal, dari keletakan  kita bisa melihat bukti kerukunan umat beragama. Jika bisa belajar  bersikap dengan sesama, antyara lain dari relief cerita. Juga bisa  mengenal lingkungan.</p>
<p>Ketika  berkunjung ke candi, agar guru tidak capai bicara sendiri dan siswa  hanya mendengarkan, bisa disiapkan lembar kerja siswa. Siswa bisa  menjadi aktif untuk melakukan penelitian sederhana. Apa yang ditugaskan  bisa disesuaikan dengan minat dan lingkungan siswa.</p>
<p>Sebenarnya,  sebagai penutup, bahwa dari satu topik itu bisa memberikan banyak  sekali pengetahuan. Itu bisa diberikan dalam bentuk bacaan bebas. Siapa  yang harus membuat? Itulah kenapa kita bertemu di sini. BPPI (Badan  Pelestarian Pusaka Indonesia) bisa menjadi jembatan untuk  memfasilitasinya. Bagaimana saya membuat modul untuk anak? Saya yakin  itu bisa karena sebelum ke sini kita akan membahasnya sendiri. Kita akan  menghadirkan beberapa pakar untuk meninjaunya juga. Modul-modul awal  dulu sudah kita sampaikan ke pakar psikologi, dinilai masih terlalu  sulit. Perlu kita kemas dengan bahasa anak-anak.</p>
<p>Kita juga mengundang teman-teman seniman muda untuk mengemas modul menjadi lebih menarik. Dipersilakan untuk berdiskusi.</p>
<p>Sebelum Joyo, saya akan menunjukkan beberapa contoh buku bacaan untuk anak.</p>
<p>(menunjukkan beberapa buku anak sebagai referensi)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Elanto Wijoyono</p>
<p>Terima kasih. Saya akan menyampaikan rencana teknis pelaksanaan kegiatan penyusunan modul Seri Pendidikan Pusaka untuk Anak ini.</p>
<p>(presentasi dengan slide)</p>
<p>Kegiatan  ini adalah kegiatan bersama antara tim Pendidikan Pusaka BPPI dengan  guru-guru pendidikan pusaka dari sekolah peserta program. Para guru dan  tim BPPI akan menjadi penulis modul tersebut. Penyuntingan isi akan  dikerjakan oleh Tim Pendidikan Pusaka BPPI. Kami juga telah  mempersiapkan sebuah tim artistik, teman-teman yang duduk di belakang  sana, untuk mengerjakan ilustrasi dan desain modul pendidikan pusaka  untuk anak ini. Selain itu, beberapa pakar pendidikan dasar dan/atau  pendidikan akan akan dilibatkan sebagai peninjau isi.</p>
<p>Seperti  yang telah kita ketahui, program ini diawali secara resmi pada bulan  Januari 2009 usai pelatihan pada bulan November 2008. Selama satu  semester, program pendidikan pusaka coba diterapkan di seluruh sekolah  peserta program, per Januari &#8211; Juni 2009. Kemudian, dari evaluasi  terakhir dan telah kami sampaikan dalam kunjungan ke setiap sekolah,  bahwa program ini akan coba kita teruskan pada semester gasal tahun  ajaran 2009 &#8211; 2010 ini. Perpanjangan program ini akan mewadahi proses  penerapan modul pendidikan pusaka yang penulisannya sudah dimulai oleh  para guru dan tim BPPI sejak bulan Mei lalu. Lalu, seluruh proses ini  akan dievaluasi pada akhir tahun ini dan dilaporkan kepada publik dalam  sebuah seminar internasional pada bulan Januari 2010 di Yogyakarta.</p>
<p>Secara  detail, program kegiatan pada tahap ini, dimulai dari penulisan bahan  atau isi modul pada bulan Mei &#8211; Juni 2009. Lalu, pada tanggal 4 &#8211; 5 Juli  2009, saat ini, isi draft moudl itu akan kita tinjau bersama dalam  sebuah pelatihan penerapan modul pendidikan pusaka. Pada Minggu I &#8211; II  Juli 2009, draft modul itu akan disunting oleh Tim BPPI dan selama  Minggu I &#8211; IV Juli 2009, tim kreatif akan mulai membuat ilustrasi dan  desain modul. Di sela kegiatan tersebut, pada Minggu IV Juli 2009, kami  mengagendakan akan menggelar sebuah seminar untuk sosialisasi kegiatan  berjalan kita ini kepada para pihak di Yogyakarta.</p>
<p>Memasuki  bulan Agustus 2009, pada Minggu I &#8211; II, kita targetkan dummy atau  contoh siap cetak modul sudah tersedia. Jadi, pada Minggu III &#8211; IV  Agustus 2009 proses cetak modul dapat dilakukan dan kemudian  didistribusikan ke seluruh sekolah peserta program.</p>
<p>Kemudian,  setiap sekolah akan mendapatkan contoh setiap judul modul, dan  mendapatkan jatah waktu ujicoba penerapannya selama bulan September &#8211;  November 2009. Pada bulan Desember 2009, hasil proses ujicoba itu akan  kita evaluasi, untuk kemudian kita publikasikan dalam simposium  internasional sebagai pelaporan kegiatan.</p>
<p>Dimana  rangkaian kegiatan itu dilakukan? Penulisan moudl oleh guru tentu saja  dilakukan di sekolah masing-masing. Kemudian, pelatihan penerapan modul  dilakukan di satu tempat bersama, saat ini, di Wisma MM UGM. Proses  penyuntingan isi draft modul akan dilakukan oleh Tim Pendidikan Pusaka  BPPI di Yogyakarta. Proses artistik modul tersebut akan dikerjakan oleh  tim kreatif dalam jadwal peninjauan pada setiap hari Senin, Rabu, Jumat  di Center for Heritage Conservation (CHC) Jurusan Arsitektur dan  Perencanaan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM). Kami  jadwalkan pula, dalam bulan Juli ini, ada agenda roadshow ke sekolah  atau wilayah untuk pengumpulan data referensi, seperti foto, oleh tim  kreatif.</p>
<p>Proses  ban berjalan dalam penyusunan modul ini, seperti yang telah terjadwal  di atas, akan melibatkan para guru dari sekolah peserta program sebagai  penulis modul, tim pendidikan pusaka BPPI, dan tim kreatif. Peninjauan  modul karya tim kreatif akan ditinjua secara rutin oleh Tim Pendidikan  Pusaka BPPI dengan berkonsultasi pada para pakar.</p>
<p>Selama  proses ini ke depan, kami juga telah mempersiapkan sebuah sitem  manajemen data dan dokumentasi. Ruang CHC di FT UGM akan dijadikan  sebagai tempat pengerjaan dan peninjauan modul karya Tim Kreatif selama  bulan Juli &#8211; Agustus 2009. Di sana juga akan dijadikan tempat induk  penyimpanan data digital dan tercetak program pendidikan pusaka hingga  tahun 2010 nanti. Selain itu, rekam proses dan sumberdaya acuan yang  terkait kegiatan ini akan disimpan dan ditampilkan dalam bentuk situs  internet. Saat ini, untuk sementara, kami mengerjakannya dalam format  web blog. Ada dua blog, pertama adalah   http://pendidikanpusaka.wordpress.com yang digunakan sebagai wadah  penyimpan data, seperti rekam proses, modul, dan sumberdaya acuan atau  referensi. Sistem ini nanti akan memungkinkan pula terjaringnya umpan  balik atau komentar dari publik terhadap penyelenggaraan program ini.  Sistem ini memungkinkan adanya beberapa user atau pengguna yang dapat  ikut aktif mengelola isi situs.</p>
<p>Sistem  blog kedua adalah di http://pendidikanpusaka.multiply.com. Ini adalah  situs online jejaring sosial yang digunakan pula untuk penyimpanan  dokumen. Data agenda kegiatan, foto, catatan lapangan, hingga video  pendek dapat disimpan dan ditampilkan di sini. Situs online ini tentu  saja akan dapat menjaring umpan balik atau komentar dari para  pengunjungnya.</p>
<p>Demikian detail rencana teknis kegiatan yang akan coba kita lakukan bersama-sama hingga awal tahun depan. Terima kasih</p>
<p>Pukul 09.50</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Erry Utomo</p>
<p>Terima kasih</p>
<p>Nama  saya Erry Utomo. Asli lahir di Jakarta, orang tua campuran antara  Pemalang dan Madiun. Istri dari Yogyakarta, juga saudara-sudara.</p>
<p>Saya  dari Pusat Kurikulum Nasional dan bertanggung jawab di bidang pendidikan  dasar, SD (sekolah dasar) dan SMP (sekolah menengah pertama). Untuk  bidang pelestarian pusaka di SD ini adalah salah satu upaya dari tim  BPPI dan Departemen Pendidikan Nasional untuk mencoba bagaimana  mengaitkan ini relevansinya dengan mata pelajaran di SD dan muatan  lokal. Jika guru bisa membuat modul maka harus sangat bermanfaat agar  bisa diterapkan. Modul itu harus hati-hati juga diterapkan karea  bersifat self instruction. Modul harus lengkap, ada bahan, cara  pembacaan, cara penilaian, dan jawaban dari pertanyaaan juga. Bapak dan  ibu guru akan lebih banyak disampaikan infomrasinya dalam sesi  berikutnya.</p>
<p>Dalam  ranah ini, dari pendekatan psikologi akan penting dilakukan. Anak harus  belajar bermakna di sekolah dasar. Mereka harus belajar secara  menyenangkan. Pemahaman konsep bisa belakangan, yang penting anak senang  dulu. Secara otomatis, anak akan memahami konsepnya. Dalam teori  belajar ada konstruktivis, dari pengalaman bisa ditarik menjadi suatu  konsep. Selain itu, bs dengan pendekatan progresif, yang  berkesinambungan. Belajar yang menyenangkan itu adalah hal yang utama  bagi anak di SD. terutama dikaitkan dengan konteks dengan budaya yang  memang lekat dan dekat dengan kehidupan anak. Alangkah ironis jika  anak-anak SD tidak bisa lagi mengenal dan melakukan budayanya.</p>
<p>Pengalaman  saya di semua provinsi, semua guru memang punya masalah dalam  menerapkan kompetensi, misalnya dalam KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan  Pendidikan), kurikulum yang dibuat oleh sekolah masing-masing.  Pemerintah hanya memberikan batas kompetensi dasar. Konteks pusaka  Indonesia ini adalah konteks yang perlu dikaitkan, untuk anak SD, 7 &#8211; 12  tahun.</p>
<p>(presentasi dengan slide)</p>
<p>Mengintegrasikan Standard Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) dengan Materi Pelestarian Pusaka Indonesia</p>
<p>Intergasi  dimulai dari identifikasi SKKD (Standard Kompetensi dan Kompetensi  Dasar), lalu menyusun silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran  (RPP), serta menyusun bahan ajar (yang dikemas sebagai modul).</p>
<p>Bagaimana mengidentfikasi SKKD yang dapat diintergasikan dalam materi pelestarian pusaka Indonesia?</p>
<p>Dalam  Permendiknas No. 22 tahun 2006 tentang Standard Isi untuk Pendidikan  Dasar dan Menengah, daerah bisa menentukan bahan ajar yang akan  disajikan kepada siswa dengan mengintegrasikan kekhasan dan adar  istiadatnya.</p>
<p>Kalau  ada waktu, nanti akan saya jelaskan pula bagaimana untuk mengembangkan  yang sifatnya tematik. Tema yang mengikat SKKD yang ada. Ada di kelas  rendah (1,2,3).</p>
<p>Untuk memenuhi harapan itu, beberapa SKKD yang terkait adalah sebagai berikut.</p>
<p>(contoh dalam slide)</p>
<p>Contoh untuk Bahasa Indonesia. Misal, ada KD mendengarkan dan bercerita. Itu ada di dalam SKKD.</p>
<p>Bagaimana kita menyusun silabus dan RPP yang mengintegrasikan pendidikan pusaka?</p>
<p>Guru  dapat mengintegrasikan SK dan KD dalam silabus dan RPP yang mereka  susun. Pengintegrasian teriataka akan terlihat dalam rumusan Materi  Pembelajaran dan Kegiatan Pembelajaran, SK dan SD dari Kelas V Semester  I.</p>
<p>Contoh,  ambil dari kemampuan mendengarkan, misal dengan mendengarkan cerita  rakyat secara lisan. Lalu, mengidentifikasi unsur cerita rakyat yang  diceritakan. Indikator penilaiannya adalah yang bs diamati secara  langsung dan bisa diukur. Misal, jika menari, bagaimana dia  menarikannya, jika mendeklamasi, bagaimana ekspresinya.</p>
<p>Lalu,  kita susun dalam silabus. Bapak dan ibu guru bisa melihat konteksnya  dengan materi pokok yang ada. Misal cerita rakyat setempat, indikatornya  penting untuk menilai (dalam modul). Cara menilai harus dapat diamati  dan diukur, dalam bentuk portfolio. Seperti mengidentifikasi  unsur-unsur, menanggapi isi cerita. Kegiatan belajar di sini adalah  kegiatan dari mana bapak dan ibu guru menulis modulnya. Dalam konteks  pertemuan ini maka yang akan dikembangkan adalah kegiatan belajar dan  mengajarnya.</p>
<p>Contoh cara mengembangkan RPP:</p>
<p>Di  sana dituliskan SK dan KD, juga tujuan pembelajaran, metode, dan  langkah2 pembelajaran. Semua materi pokok dan metode diintegrasikan  dalam modul.</p>
<p>Contoh  dalam bahan ajar: mengidentifikasi unsur dari cerita rakyat Si Batu.  Langkah ini bisa untuk beberapa kali pertemuan dan beberapa modul. Dalam  modul, nanti akan disampaikan bagaimana cara penyajian modul yang baik.</p>
<p>Dalam modul juga ada pertanyaan dan jawabannya, Harus lengkap.<br />
Pada intinya guru harus mengetahui SK dan KD, apakah terkait dengan mata pelajaran pokok atau muatan lokal.</p>
<p>Di  Sleman, Bantul, Gunungkidul, dan Kulon Progo saya memiliki tim  pengembang kurikulum. Tim itu yang menyusun kurikulum muatan lokal,  terdiri dari guru SD, pengawas, dari dinas, dan nara sumber. SKKD bisa  diintegrasikna dari kurkulum muatan lokal itu sendiri.</p>
<p>Apakah ada yang bertanya?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ani Sulistyawati (SD Tarakanita Tritis)</p>
<p>Kami  bertanya soal silabus dan RPP. Setiap kelas kita banyak mengupas tentang  silabus, per guru. Kebetulan saya guru Bahasa Inggris. Dari silabus itu  di belakang ada keterangan penilaian, apakah sesuai atau tidak. Lalu,  dalam penyusunan RPP, indikator dan penilaian itu sama. Namun, banyak  guru yangtidak paham dengan indikator. Kami hanya menulis yang ada di  silabus. Kemudian, yang jadi pertanyaan, jika satu materi untuk dua jam  pelajaran dalam muatan lokal, kami sudah melaksanakan pendidikan pusaka  terintegrasi dalam bahasa Jawa, IPA, dan IPS. Jadi, kami ikut pendidikan  pusaka, berbagi juga dengan teman-teman yang lain. Ada banyak  ketertarikan, juga dengan lembaga lain yang masuk ke sekolah kami,  seperti Kanopi. Jadi, saya tertarik ikut ini, semoga bisa dapat hasil  untuk dibagikan dengan teman-teman yang lain. Saya bangga juga bisa ikut  di sini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Erry Utomo</p>
<p>Apapun  informasi tambahan itu penting. Silabus itu dibuat oleh sekolah, dan  jika ada infomrasi tambahan itu dipersilakan. Kompetensi itu adalah  besarannya. Jika dibagi dalam beberapa pertemuan, lebih jelas diterakan  dalam indikator. Portfolio itu nanti akan jadi pelaporan, bisa lisan dan  tulisan. Jika siswa membuat hasil karya maka siswa berarti bisa  mendeskripsikan sesuatu. Harus jelas perilaku yang diharapkan apa yang  bisa dilakuan anak sesuai dengan tujuan yang ada, disesuaikan dengan  SKKD.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>M. Daim (eks SDN Kotagede I)</p>
<p>Salam,</p>
<p>Pada  Minggu III Juli 2009 ini kami akan mengadakan seminar khusus mengenai  KTSP di sekolah kami. Pusaka akan bisa masuk menjadi mata pelajaran  sendiri, dan bisa dua jam untuk masing-masing kelas. Kami belum tahu  hasil akhir nanti, sementara penataannya seperti itu. Masyarakat  mendukung dan dinas mengiyakan. Kendala pada kami, kami belum bisa  melihat ranah total pusaka dalam kurikulum terapan di SD nanti. Kami  mohon buatkan bahan yang sederhana untuk pengembangan KTSP nanti.   Pengembangan silabus dan selanjutnya itu bisa menyusul.</p>
<p>Mengenai  penerapan seri pusaka untuk anak dalam modul ini akan menyesuaikan  setelah itu. Itu yang kami mohonkan agar terobosan pendidikan pusaka  bisa segera dilanjutkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sari Wulandari (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Mba  Nia tadi menjelaskan akan ada dua tipe modul yang dibuat, satu yang  bersifat mandiri dan kedua yang bersifat suplemen. Bagaimana mengaitkan  dua sifat itu tadi? Jika modul yang mandiri akan lebih mudah, tapi yang  suplemen tadi bagaimana mengaitkannya,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Erry Utomo</p>
<p>Hal  yang ditanyakan Pak Daim itu substansi konteksnya. BPPI ada banyak  bahan. Itu memang baru bahan tapi belum dikaitkan dengan KTSP. Kita akan  mulai dengan melihat SKKD yang ada, baik mata peljaran yang nasional  maupun yang muatan lokal. Dalam muatan lokal, kita bisa nyatakan sangat  cocok di daerah tertentu, Secara umum, ada juga yang sifatnya sama.  Misal, dalam bahasa daerah ada banyak ceirta yang bisa diangkat di  daerah.</p>
<p>Jawaban  untuk Mba Wulan, memang modul yang bersifat mandiri lebih mudah. Jika  yang suplemen, bisa dikaitkan dengan mata pekajaran pokok. Bisa  disajikan untuk kelas rendah dan tematik misalnya. Modul bisa digunakan  untuk melengkapi buku. Buku yang dikemas secara modul itu akan lebih  memudahkan anak untuk belajar mandiri dan anak akan senang membaca. Anak  SD itu senang dengan buku yang jelas dan menarik gambarnya. Karikatur  itu menarik, juga layoutnya. Hal itu sangat perlu diprhatikan dalam  penyusunan modul.</p>
<p>Kita perlu tetap mengacu pada standard yang ada. Jika lepas, maka akan tidak kontekstual.</p>
<p>Nanti coba, waktu membuat contoh, kita lihat pula kaitannya dengan SKKDnya.</p>
<p>Mba Nia dan Mz Joyo nanti mungkin bisa menjelaskan bahan mana saja yang bisa digunakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Yang  tahu silabus dan RPP nya itu adalah guru. Jika guru memerlukan materi  yang belum dipunya maka peran BPPI untuk membantu menyediakannya. Kami  sudah membuat contoh modul dan sekarang kita coba kemas, baik dalam  bentuk bacaan bebas dan juga sebagai suplemen untuk mata pelajaran  masing-masing.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>M. Daim (eks SDN Kotagede I)</p>
<p>Dengan  demikian maka tampaknya kami yang harus mengejar pada Pak Erry karena  porsi Mba Nia adalah pada posisi setelah silabus jadi. Jadi, bagaimana  kami memasukkan pusaka dalam silabus dengan tepat. Oleh karenanya, perlu  menurunkan kurikulum dalam draft dan mengetahui titik mana yang bisa  dimasuki dan di sana kami baru akan membuat RPP dan pengalokasian waktu  di sana, baru kita sodorkan ke BPPI. Belahan mana dari kurikulum SD yang  bisa dikembangkan sebagai muatan pendidikan pusaka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Mungkin  perlu diingat lagi, pada pertemuan di Karta Pustaka, dulu guru pernah  membuat matriks, dikaitkan dengan silabus dan RPP. Memang belum semua  membuatnya. Dari 13 sekolah baru 5 yang membuatnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Erry Utomo</p>
<p>Modul itu akan dibuat guru dan akan dicoba oleh guru juga.</p>
<p>Contoh  penerapan dalam SKKD. Tema itu yang akan mengikat SKKD. Tentunya yang  bisa melakukannya adalah bapak dan ibu guru yang punya kemampuan melihat  konteks sekolah. Kami tidak bisa melihat konteks di sekolah itu. Di  mana materinya dan sumber-sumbernya, BPPI bisa menyediakan. Ini kita  balik, sumbernya sudah ada, lalu kita tarik mana yang akan cocok  digunakan. BPPI sekarang sudah ada sumbernya, tapi belum bermakna bagi  guru. Agar bermakna maka dibuat sebagai modul, yang akan dikaitkan pada  KTSP.</p>
<p>Semakin banyak variasi modul yang dibuat akan semakin baik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rumiyati (SDN Wonorejo I)</p>
<p>Benar  apa yang dikatakan Mba Nia, bahwa untuk menerapkan dan mengintegrasikan  SKKD, sudah dilakukan dalam pertemuan terdahulu. Sekarang kami membuat  keterampilan modul mengenai anyaman bambu. Dari Pak Erry dari, modul itu  bisa dimasukkan dalam intrakurikular dan muatan lokal. Modul kami  masukkan dalam silabus kelas V. Hal yang ingin saya perkenalkan di sini  adalah mengenal teknologi tradisional. Ini masuk ke intrakurikular.  Untuk pengembangan akan dimasukkan pada kegiatan sore, dengan membuat  bendanya langsung.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Erry Utomo</p>
<p>Ya,  seperti itu contohnya, bahwa dalam penerapannya bisa dibagi.  Pengenalannya bisa dilakukan di mata pelajaran dan praktiknya di waktu  yang berbeda.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Darojah (SDN Bantul Manunggal)</p>
<p>Saya  menanggapi pertanyaan Pak Daim. Untuk pendidikan pusaka yang  terintegrasi bisa masuk ke silabus per mata pelajaran. Untuk praktik,  bisa masuk ke kecakapan hidup.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Erry Utomo</p>
<p>Jadi,  memang tidak bisa kita katakan kita buat dulu silabusnya dan seterusnya.  Bisa dilakukan bersama, membantu guru membuat bahan ajar untuk siswa.  Kita bisa buat secara tematik, tema tertentu untuk kelas rendah  misalnya. Modul itu bisa diterapkan di beberapa mata pelajaran. Semuanya  bisa diintegrasikan dan tergantung kepiawaian guru. Sumber informasinya  sudah ada di tim PP BPPI.</p>
<p>Hal  ini menarik untuk dikembangkan. Belajar anak SD itu belajar secara utuh  dengan bermain, untuk mempelajari suatu konsep. Dari bermain dia bisa  menari, menari, mengucapkan, dan sebagainya. Hal itu tentu lebih menarik  lagi terutama untuk anak kelas rendah. Belajar dengan melakukan.</p>
<p>Nanti perlu ada sesi bagaimana mengembangkannya dari sisi psikologi anak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Puji Lestari (SDN Selang)</p>
<p>Saya  mau bertanya ke Pak Erry, pembuatan modul yang disesuaikan dengan SKKD.  Kemarin saya tidak mengikuti pertemuan di Giriloyo, jadi agak  ketinggalan. Kami mengangkat upacara adat Gumbregan di Gunungkidul. Saya  masukkan kenapa ada upacara, apa perlengkapannya, dan tugasnya. Di sini  apakah saya perlu masukkan SKKD-nya juga atau hanya materinya saja?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Erry Utomo</p>
<p>Modul  itu kan untuk siswa, nanti akan dilihat bagaimana menyusun modul. Lalu,  kedua, SKKD tidak perlu dituliskan, itu untuk pegangan guru. Dalam  silabusnya dan RPPnya, dalam sarana belajarnya, modul A dan modul B,  sesuai dengan SKKD materi pokok. Jika saya guru dan kebetulan ada contoh  uraian silabus, bahan ajarnya akan mengacu pada modul tertentu. Akan  menarik ketika membuat silabus akan bisa mengaitkan dengan silabus yang  ada. SKKD itu hanya untuk guru untuk membantu mengembangkan bahan ajar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sari Wulandari</p>
<p>Tanggapan  atas Pak Erry mengenai pembelajaran yang menyenangkan dan belajar  sambil melakukan. Konsep penyusunan kurikulum itu seperti itu, tapi  ketika dijalankan sepertinya guru terjebak dalam yang formal. Harapan  saya semoga dari langkah ini kita tidak terjebak di kurikulum yang  bersifat syariat tadi dan melupakan hakikat belajar yang menyenangkan.  Pendidikan pusaka ini saya rasa adalah hakikat pendidikan yang layak  untuk dilakukan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Erry Utomo</p>
<p>Pada  intinya, mengajar itu adalah seni (art). Kalau banyak dogma memang akan  membosankan. Jika bisa menjadikan anak secara integratif dan interaktif.  Guru harus bermain peran menjadi dalang yang baik, dan bisa menggugah  penonton untuk mencari tahu lebih lanjut. Dari sana, saya bisa  merencanakan bagaimana mengatur kelas. Mengatur kelas dalam lingkaran  kelompok akan lebih menarik dan menciptakan kompetisi. Itu juga akan  tertuang dalam modul Jika modul hanya berisi informasi saja maka akan  bisa, Anak SD suka gambar dan melakukan sesuatu. Jika ada sedikit  pertanyaan mengenai kemampuan, maka akan ditanya menurut pendapat dia  seperti apa. Untuk anak kelas tinggi bisa lebih naratif. Jika untuk anak  kelas rendah akan lebih sederhana, bahkan mungkin hanya gambar dan  warna. Modul yang kita buat akan sangat baik jika sesuai dengan konteks  SKKD. Juga akan disempurnakan dengan metode pengajaran yang  menyenangkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Ada  salah satu contoh yang menarik, buku yang bisa pop-up. Ada jawaban atas  pertanyaan, tapi tidak disebutkan sebagai kunci jawaban. Jika ada  istilah kunci jawaban maka biasanya anak akan langsung melihat kunci  jawabannya, sehingga tidak banyak belajar. Model buku yang menarik bisa  membuat anak lebih bisa bersemangat menjelajah isi modul.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Melati Anastasia</p>
<p>Hal yang penting ada materi yang ada di sekitar sekolah, dan jika perlu informasi lebih bisa dimintakan ke BPPI.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Erry Utomo</p>
<p>Modul  yang dilengkapi dengan alat permainan akan lebih menarik. Itu bisa  dijadikan satu suplemen, sebagai self learning. Sangat informatif.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Ada  contoh alat permainan ini dari Australia dan kontennya berbasis lokal,  aborigin. Jadi, sama dengan yang kita kembangkan, di Kulon Progo  misalnya, dengan kerajinan tangan yang bisa ditampilkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Erry Utomo</p>
<p>Ya, anak SD akan sangat senang dengan modul yang informatif dan menarik dengan permainan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rumiyati (SDN Wonorejo I)</p>
<p>Suplemennya menarik dan bagaimana kita membuat seperti itu, juga dengan jumlah siswa yang banyak?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Erry Utomo</p>
<p>Itu masuk dalam strategi dan pengelolaannya, misal satu modul untuk satu kelompok.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Melati Anastasia</p>
<p>Saya kira cukup. Selanjutnya akan diteruskan oleh Pak Salim.<br />
Applause untuk Pak Erry, Bu Nia, dan Mas Joyo</p>
<p>Pukul 10.59</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Mumpung Pak Erry ada di sini, kita coba setiap guru untuk mempresentasikannya. Silakan mempresentasikannya dengan menarik juga.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>M. Daim (eks SDN Kotagede I)</p>
<p>Karena paling berantakan, kami mencoba mempresentasikannya dulu.</p>
<p>Kami buat modul mulai dari asal usul Kotagede, dari situs batu di depan Masjid Gede dan Wringin Sepuh.</p>
<p>Kedua,  sentra kerajinan Perak yang diberi nuanasa budaya Mentawisan, yang  sederhana. Ki Ageng Pemanahan berusaha memisahkan diri dari pemerintahan  Pajang, dengan bahan kayu mentaos yang dikukir jadi bagus. Itu sebagai  bahan baku sebagai keris, dilengkapi dengan perak dan emas. Berkembang  sampai skearang sebagai sentra kerajinan perak. Berkembang kuat pada  abad XIX, karena pengaruh pemerintah Hindia Belanda yang suka perak  juga.</p>
<p>Karya  kedua dari Ki Ageng Pemanahan adalah Pasar Kotagede. Dulu dimulai dari  adanya jalan TransMajapahit, yang dulu berada di Jalan Karanglo sekarang  yang membujur timur barat. Pertemuan orang-orang Ki Ageng Pemanahan dan  orang-orang Karang Lo membentuk pasar. Sutawijaya, anaknya pun dikasih  peran mengelola pasar itu dan kemudian bergelar Panembahan Loring Pasar.</p>
<p>Pasar  Kotagede sekarang berkembang menjadi surga kulinari, yang kami kemas  pada modul ketiga. Ada klepon, kipa, jadah manten, nasi goreng,  ongol-ongol, peyek, dan sebagainya.</p>
<p>Seri  berikutnya adalah Masjid Gede Mataram. Kami detailkan adanya gapura  paduraksa, gabungan unsur Hindu, Buddha, dan Islam, karya Sultan Agung.  Ditutup dengan kuburan, sebagai seri modul keempat.</p>
<p>Selain itu, pada periode Mentaraman, kedaton dalem dan Hastorenggo belum bisa kami tulis.</p>
<p>Terima kasih</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Terima kasih Pak Daim.</p>
<p>Ada  empat materi, berapa lama waktunya diajarkan, dan bagaimana caranya  diajarkan, itu masih jadi pertanyaan. Jika terlalu banyak materi maka  siswa akan bete juga. Kita belum tahu apakah seperti itu, nanti bisa  dilengkapi dengan gagasan mengajarkannya. Kelengkapan bahannya bagaimana  pula. Lebih lengkap lagi, sehingga teman-teman yang mendengarkan bisa  tahu apakah sudah cukup kuat atau tidak untuk dijadikan modul.</p>
<p>Silakan siapa lagi yang lain?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ani Sulistyawati (SD Tarakanita Tritis)</p>
<p>Komik jelajah Bukit Turgo sebagai suplemen. Dilakukan bersama siswa kelas 5</p>
<p>Pukul 11.15</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Istinganah (MI Giriloyo II)</p>
<p>MI Giriloyo membuat modul mengenai batik.<br />
Modul sudah disusun dalam lima bab terlayout. Ada beberapa bab yang  mengenalkan mulai dari jenis-jenis motif, sampai proses pembuatan batik  tulis Giriloyo. Juga ada beberapa contoh kriya batik.</p>
<p>Modul  ini bisa diterapkan mulai dari kelas 1 hingga kelas 5 masuk dalam mata  pelajaran SBK (Seni Budaya dan Keterampilan) dan matematika. Dari kelas  I, anak diminta untuk mewarnai gambar batik yang belum diwarnai.  Anak-anak akan bebas mewarnai, bagi anak kelas 1 dan 2. Anak kelas 3  diminta menggambar batik dengan motifnya, di pelajaran SBK. Tidak hanya  mewarnai, tapi langsung menggambarkan batik itu.</p>
<p>Kelas 4 dan 5 langsung praktik membatik. Kelas 5 sudah melakukan sampai selesai jadi batik jadi.</p>
<p>Kenapa  bisa dimasukkan ke dalam mata pelajaran matematika? Di kelas 3 diminta  membatik, dan anak diminta untuk menghitung berapa batik yang sudah  dihasilkan. Antara anak-anak yang sudah membuat bisa dimasukkan dalam  mempelajari hitung menghitung, dengan menggunakan cerita di seputar  batik sebagai bahan.</p>
<p>Untuk  pelajaran ini, baik intra maupun ekstra, dalam pelajaran teorinya  dimasukkan ke dalam SBK, masuk ke dalam kurikulum. Karena waktu yang  terbatas maka dalam pelajarabn praktiknya tidak hanya dalam pejaran SBK,  juga dimasukkan ke dalam ekstrakurikular, karena proses membatik lama.</p>
<p>Kita bisa memperkenalkan macam-macam batiknya.</p>
<p>Dalam  modul ini ada beberapa contoh batik, misal batik sidomukti. Di sini,  makna filosofinya, bisa kita jelaskan. Orang Jawa yang menikah akan  menggunakan batik sidomukti dan baju borklat kuning gading. Batik  sidomukti ini saya sedikit tahu. Motif batik ini berbentuk belah ketupat  dan bercoark sayap putih. Motif ini melambangkan harapan si pemakai  kain itu akan bahagia lahir dan batin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Modul ini untuk siswa atau guru?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Istinganah (MI Giriloyo II)</p>
<p>Modul ini akan diajarkan oleh guru, dan siswanya akan diterangkan oleh gurunya. Siswa mendengarkan dan mempraktikkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Saya  menanyakan ini modul guru atau siswa karena mengacu pada penjelasan Pak  Erry tadi bahwa modul untuk siswa itu lebih baik ada banyak gambar.  Jadi, ini modul untuk guru, bukan siswa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Titi Nurjanati (SDN Jragum)</p>
<p>Kami  membuat modul mengenal wayang karena di Gunungkidul kami sering  mengadakan kegiatan Rasulan atau bersih desa. Di daerah kami, setiap  tahun biasanya menanggap wayang. Ada banyak kesenian tradisional lain,  seperti jathilan juga.</p>
<p>Wayang  ini biasanya masuk dalam mata pelajaran Bahasa Jawa. Bisa pula  dikaitkan dengan pelajaran SBK. Saya membuat RPP ini dalam dua x 35  menit, untuk SD.</p>
<p>Modul  yang kita buat, dimulai dengan pengertian wayang. Ada pengenalan  jenis-jenis wayang. Ada pengertiannya pula per jenis wayang tadi.</p>
<p>Lalu ada pengenalan wayang kulit yang akan lebih diperdalam dalam modul. Ada tokoh dan silsilah wayang kulit.</p>
<p>Kami tampilkan gambar-gambar juga. Kami jelaskan watak setiap tokoh juga asalnya.</p>
<p>Tokoh punakawan belum masuk.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Terakhir, sebelum mendengarkan tanggapan teman-teman, bisa satu lagi presentasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Darojah (SDN Bantul Manunggal)</p>
<p>Salam,</p>
<p>Kami  mengangkat pusaka budaya mengenai pranatacara basa Jawi. Kami laksanakan  setiap hari Selasa pukul 14.00 &#8211; 16.00, sebagai ekstrakurikular. Di  sini, siswa mempraktikkan di berbagai acara untuk pelepasan kelas VI,  hari-hari besar, dengan bahasa Jawa.</p>
<p>Ketika  kami membuat tugas untuk membuat modul, kami menghubungi orang yang  berkompeten. Di sini kami tuliskan ada beberapa cara untuk  mempraktikkannya. Ada 10 contoh bagaimana mempraktikkannya dalam acara  tertentu.</p>
<p>Sebenarnya  di acara kami sudah ada videonya, tapi tidak kami bawa. Kami ingin  semua acara yang dibawakan anak ini bisa kami kompilasikan dalam satu  paket.</p>
<p>Modul  ini dipakai bagi guru ekstrakurikular yang mengajar, anak langsung  praktik saat ekstrakurikular. Guru ekstrakurikular ini kami undang dari  Jogja TV; penyiar.</p>
<p>Sasaran  kami untuk program ini awalnya untuk kelas 4, 5, dan 6. Awalnya hanya  untuk lima anak. Namun, peminatnya banyak, bahkan dari kelas 1. Jadi,  kami buat beberapa paket yang disesuaikan dengan kelasnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Kita  sudah mendengarkan lima presentasi modul. Memang sebagian bukan modul  untuk pegangan siswa, ada yang untuk pegangan guru. Kita perlu  diskusikan lagi karena bahan itu harus kita olah untuk jadi bahan bagi  siswa. Bahan yang ada ternyata sebagian besar untuk pegangan guru.</p>
<p>Lebih  baik kita diskusi, jika arahnya untuk siswa, maka apa yang harus  dilengkapi. Jika yang disiapkan itu adalah modul untuk guru maka  bagaimana kita mengubahnya menjadi modul untuk siswa.</p>
<p>Apakah Pak Erry komentar dulu?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Erry Utomo</p>
<p>Terima kasih</p>
<p>Saya  lihat, ada beberapa modul yang bagus untuk anak, seperti yang dari  Tarakanita. Modul untuk guru memang sangat bagus yang sangat naratif.  Kalau modul untuk siswa harus dikemas lebih menarik dengan beragam foto  dan ilustrasi. Pada intinya anak akan lebih fokus dalam membaca dan  muncul selalu rasa ingin tahu untuk membaca.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Proporsi antara narasi dan visual?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Erry Utomo</p>
<p>Soal  komposisi, tergantung materi yang disajikan. Soal tampilan, itu akan  disesuaikan juga. Sebagai sifatnya yang informatif atau pengetahuan,  tentu ada hal yang sifatnya informatif yang perlu disajikan, secukupnya  saja. Tapi, anak SD hanya ingin membaca yang perlu saja. Untuk guru itu  hal yang lain.</p>
<p>Jika bisa ditampilkan akan lebih baik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Narasi dan bahasa perlu diperhatikan juga.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Erry Utomo</p>
<p>Konteks  bahasa anak dan mungkin karena konteksnya daerah Jawa, bisa juga  dimasukkan beberapa elemen bahasa Jawa yang umum. Jangan pula kepenuhan  gambar agar informasinya tidak hilang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Ada pertanyaan atau komentar?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Miss Aa (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Kebetulan  saya masih baru, dulu belum pernah ikut. Saya melihat seperti upaya  menampilkan wayang, bisa ditampilkan sebagai komik. Gambar ada, cerita  juga tetap ada. Saya mengusulkan bisa dibuat seperti komik. Siswa akan  seperti membaca komik biasa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Kita  memang perlu memikirkan bagaimana menampilkan semua hal itu. Soal  Kotagede kita tahu Pak Daim tahu semua. Namun, bagaimana menyampaikannya  untuk anak dan siswa, itulah yang harus dipelajari dan disiapkan.</p>
<p>Sekarang ada pula Nomik, novel komik, yang dibuat untuk mengatasi kejenuhan anak jika membaca materi narasi.</p>
<p>Pak Suhadi ada masukan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Suhadi Hadiwinoto</p>
<p>Sebelum  kita membuat beberapa bahan tadi, kita perlu memikirkan dulu bahan apa  saja yang ingin kita sampaikan ke siswa. Mungkin perlu tampil secara  lebih jelas. Tadi ada banyak bahan yang tampil dalam satu bauran yang  rumit. Kita perlu pikirkan kenapa harus tampil sedemikian rupa dan tidak  terlalu rumit. Detail bisa dikurangi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Dalam  beberapa hal kita pun harus memberanikan diri untuk tidak menyampaikan  semua hal. Ada proporsi yang bisa dipahami oleh siswa.</p>
<p>Dari Tim Kreatif ada yang mau menanggapi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Anang Saptoto</p>
<p>Selamat  siang, nama saya Anang Saptoto. Nanti saya akan sedikit banyak membantu  tim kreatif dengan teman-teman saya. Saya ingin bertanya apakah bapak  ibu guru, seberapa jauh mengenal alat-alat yang berhubungan dengan  teknologi digital?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Masnya  tadi menggertak saja kok. Namun, dalam konteks desain, memang akan  diperlukan sejauh mana bahan foto dan desain itu sudah ada atau belum.  Jika memang belum ada, tim BPPI nanti akan mencoba mengejar  mempersiapkannya. Kita harus mengadakan bahan itu sendiri.</p>
<p>Kita harus hati-hati dengan hak cipta, jika ambil foto, gambar, atau materi dari sumber lain, jangan lupa cantumkan sumbernya.</p>
<p>Masih ada waktu 5 menit.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Setelah  melihat presentasi, materi yang dikumpulkan oleh guru itu sudah luar  biasa. Namun, memang materi yang disiapkan itu lebih cocok untuk  mahasiswa atau siswa lebih dewasa. Kita harus cari langkah agar lebih  tepat yang cocok untuk menyampaikan bahan itu pada siswa. Saya sendiri,  kemarin, saya sudah coba membuat, bagaimana membuatnya dengan  membayangkan sebagai anak.</p>
<p>Namun,  ketika dibaca oleh psikolog tumbuh kembang anak, ternyata dinilai masih  cukup berat. Juga saya masih belum menemukan bagaimana menyampaikan  filosofi kepada anak.</p>
<p>Soal substansi saya tidak khawatir. Ada banyak yang bisa dieksplorasi. hanya bagaimana dikemas untuk anak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Memang tantangan besar bagi kita semua agar bisa menahan diri tidak menyampaikan semua, tapi bermain visual.</p>
<p>Saya  ini penulis, dan pernah punya pengalaman mewawancari komikus Hasmi. Saya  menuliskan banyak halaman. Padahal, informasi itu harus dikemas jadi  komik 8 halaman. Narasi untuk bahan komik itu ternyata ketika disiapkan  hanya setengah halaman saja. Jika kita ingin menyiapkan ruang visual  lebih banyak maka narasi tadi harus disiapkan secara lebih tepat.</p>
<p>Pukul 12.00</p>
<p>Istirahat</p>
<p>Pukul 13.04</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Melati Anastasia</p>
<p>Selamat siang.<br />
Kita sudah makan siang, semoga enak dan cocok.<br />
Kita masih punya lima modul untuk dipresentasikan. Silakan Mz Salim.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Masih ada lima sesi yang bisa untuk presentasi modul guru, dan dua nanti oleh Mba Melati. Silakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nuryanti (SDN Kembang Malang)</p>
<p>Salam,</p>
<p>Sekolah  kami memiliki kebun sekolah, dan kami mencoba membuat modul mengenai  tanaman obat. Kami nanti minta tolong tim BPPI untuk membuat ilustrasi  yang diperlukan. Modul yang kami siapkan ini untuk siswa.</p>
<p>Sesuai  dengan keadaan lingkungan di SD kami, ada lahan di belakang SD yang  ditanami tanaman obat, kami angkat modul pusaka jamu tradisional. Ada  tanaman dan rimpangnya, serta khasiat dari tanaman tersebut. Setelah  kami buat, kami berjanji untuk mempraktikkannya kepada siswa kami, di  kelas 4 dan 5. Pada waktu luang, ketika ujian nasional, kami gunakan  untuk menerapkan pembuatan jamu kunir asem dan beras kencur.</p>
<p>Kami sudah dokumentasikan dalam compact disc (CD).<br />
Kelas 4 membuat kunir asem dan kelas 5 membuat beras kencur. Alatnya pun  diadakan semampu kami, sesuai dengan konteks pusaka, ada lumpang dan  alu. Juga ada gandik dan pipisan.</p>
<p>Demikian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Jadi, memang dibuat satu modul untuk pegangan siswa, dan ada suplemen dokumentasi video hasil penerapannya.</p>
<p>Mba Nia, tolong tampilkan modulnya lagi, untuk melihat bagian mana yang tepat diterapkan dalam modul bagi siswa.</p>
<p>Kita  bisa baca sama-sama, mulai dari pertanyaan sederhana, apakah apotek  hidup itu. Ada penjelasannya. Jika kita lihat bahasanya, mungkin nanti  kita bisa diskusikan, agar bisa lebih komunikatif. Relatif lengkap,  sudah ada modul untuk siswa bergambar, dan ada suplemen berupa video.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Erry Utomo</p>
<p>Ya, lebih baik jika kalimatnya tidak terlalu panjang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Berikutnya? Budi Mulia?</p>
<p>Sari Wulandari (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Ya, kami Budi Mulia pakai Dua.. :p</p>
<p>Kami banyak gagasan. Namun, tidak semuanya bisa dilakukan.<br />
Karena telah makan siang dan agar tidak mengantuk kita bermain dulu.</p>
<p>Saya ada kuis untuk Pak Erry, sebagai lulusan sekolah luar negeri maka seharusnya bisa menyanyikan lagu ini.</p>
<p>Silakan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Erry Utomo</p>
<p>(menyanyikan lagu Gundul-Gundul Pacul dalam Bahasa Inggris)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sari Wulandari (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Terima  kasih Pak Erry. Presentasi selanjutnya akan disampaikan oleh Pak Yanto,  mengenai Selokan Mataram dan bisa digunakan untuk kelas V, bersifat  suplemen dan mandiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sugiyanto (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Terima kasih. Kami satu tim akan mempresentasikan dua pusaka, pusaka saujana dan pusaka kuliner.</p>
<p>Pertama,  adalah pusaka saujana selokan Mataram. Ini akan berbentuk komik. Saya  akan tunjukkan gambar dan cerita yang ada di dalamnya.</p>
<p>(membacakan narasi modul Selokan Mataram)</p>
<p>Gambar pertama adalah pada masa penjajahan Jepang, rakyat disuruh bekerja paksa.</p>
<p>Gambar kedua, Sultan HB IX sangat prihatin dan berupaya menyelamatkan rakyatnya.</p>
<p>Gambar ketiga, Sultan HB IX melaporkan pada Jepang bahwa Yogyakarta hanya daerah yang kering, hanya bisa ditanami singkong.</p>
<p>Gambar keempat, Sultan HB IX mengusulkan untuk membuat saluran irigasi yang menghubungkan Kali Opak dan Kali Progo.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Tidak perlu dibacakan semua. Namun, sebagai contoh, kalau jadi akan jadi berapa halaman?</p>
<p>Sugiyanto (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Ada 13 halaman semuanya. Di dalamnya ada materi pendidikan lingkungan dan kebersihan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Ada yang kedua yang mau dipresentasikan.<br />
Ada sumber referensi dari website yang tercantum di situ.<br />
Modul kedua, silakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aa (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Saya  akan membacakan modul mengenai Yogyakarta, dan ini karya siswa.  penyajiannya dalam bentuk komik. Ada tokoh kelas 5 SD bernama Yurna yang  tinggal di Yogyakarta dan dia memperkenalkan makanan khas di  Yogyakarta.  Dengan gambar maka anak-anak akan lebih tertarik.</p>
<p>Lalu, dikenalkan bagaimana cara membuat bakpia. Ada gambarnya.</p>
<p>Ada  pula pendidikan tata krama juga di sana, dengan krama inggil. Ada Pak  Yanto, di dalamnya, masuk sebagai karakter dalam komik, untuk  mengenalkan bahasa Jawa. Pengenalan Bahasa Jawa bisa disisipkan dalam  cerita itu.</p>
<p>Lalu, ada penjelasan mengenai bahan dan cara membuat bakpia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Seluruhnya ada berapa halaman?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aa (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Ada 14 halaman.<br />
Terakhir ada lembar tugas, meminta anak menuliskan makanan khas yang bisa ditemui di sekitarnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Modul  pertama gambarnya dibuat oleh Mas Gunarso, yang duduk di belakang sana.  Modul yang kedua dibuat oleh siswa SD Budi Mulia Dua sendiri. Jadi,  kalau ada siswa yang mampu menggambar bisa dimintai tolong untuk membuat  juga. Menarik juga, ada lembar tugas bagi siswa.</p>
<p>Kita akan diskusikan lagi apakah itu suatu model yang baik.</p>
<p>Terima kasih, nanti kita diskusikan lagi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rumiyati dan Katiti Sujimah (SDN Wonorejo I dan II)</p>
<p>Salam,</p>
<p>Terima  kasih. Saya ingin menyampaikan modul yang saya susun. Susunan bahasanya  mungkin banyak yang kurang pas. Kami berdua dari dua sekolah  menyusunnya berbarengan. Isinya mengenai jenis anyaman dan cara  membuatnya. Ada cething, wakul, tampah, tambir, tebok, tumbu, bodhak,  dan sebagainya. Ada penugasan sederhana di bagian terakhir modul.</p>
<p>Terima kasih,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Foto siapa yang bikin?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rumiyati (SDN Wonorejo I)</p>
<p>Anak saya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Ya, berarti buat sendiri. Nanti bisa dijelaskan siapa yang memotret.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rumiyati (SDN Wonorejo I)</p>
<p>Selanjutnya  dari SD Wonorejo II. Ini lanjutannya karena kami membuatnya satu  rangkaian. Jenis-jenis alat tradisional kami jelaskan di sini. Yang saya  ingin praktikkan untuk siswa kelas 4 dan 5, yakni membuat dunak. Kami  hanya menampilkan salah satu model dari alat tradisional. Untuk  membuatnya dijelaskan di sini bahan dan alatnya. Lalu dilanjutkan dengan  langkah-langkahnya. Walaupun tampaknya mudah dibuat, tapi harus dibuat  dengan perasaan.</p>
<p>Kami  menjelaskan bahwa dengan penggunaan alat dengan bahan alami ini bisa  mengurangi kerawanan yang bisa ditimbulkan dari penggunaan alat berbahan  plastik yang mengandung bahan kimia berbahaya.</p>
<p>Pada bagian akhir ada anjuran untuk orang tua dan guru karena dalam pembuatannya perlu menggunakan benda tajam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Dua SD  ini saling melengkapi, yang satu banyak mengenal dan yang kedua  mengenai memperkenalkan cara membuat salah satunya. Nanti kita bisa  evaluasi lagi isinya. Menarik juga di bagian akhir ada penugasan.</p>
<p>Ada lagi? Silakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Puji Lestari (SDN Selang)</p>
<p>Salam,</p>
<p>Jika  tadi Pak Daim tampil di awal biar ketahuan jeleknya, kami di paling  akhir juga sama. Semoga nanti bisa disempurnakan bersama.</p>
<p>Saya  membuat tiga seri modul. Pertama, seri celup ikat. Ada di kelas 5. Belum  ada gambarnya. Kami tujukan sebagai acuan untuk anak dalam mata  pelajaran SBK.</p>
<p>Kedua,  modul mengenai upacara adat Gumbregan yang mungkin tidak ada di daerah  lain. Ada penugasan untuk siswa juga di akhir modul. Upacara ini  memberikan pemahaman bahwa semua binatang itu milik Nabi Sulaiman,  sehingga masyarakat menghormati binatang.</p>
<p>Ketiga,  upacara perkawinan adat di Yogyakarta. Kami mencoba mengupas nilai  filosofi dan menanamkannya untuk anak. Kami khawatir anak tidak  mengetahui dasar pelaksanaan upacara perkawinan. Modul ini diharapkan  bisa masuk ke mata pelajaran Bahasa Jawa dan bisa pula digunakan sebagai  modul mandiri.</p>
<p>Dinas  Pendidikan dan Olahraga Gunungkidul mewajibkan satu jam membaca di  sekolah.Kami harap modul-modul yang nanti bisa saling dibagipakaikan  bisa dibaca oleh siswa di sekolah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Apakah ada sekolah yang sebenarnya sudah buat tapi belum mempresentasikan, atau belum buat sama sekali?</p>
<p>Tamansiswa yang hadir guru baru ya. Nanti bisa disusulkan.</p>
<p>Berikutnya Mba Melati akan presentasi juga mengenai modulnya. Silakan!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Melati Anastasia</p>
<p>Selamat  siang. Saya mencoba membuat modul tentang tari. Saya bongkar dari album  saya sendiri. Saya coba menulis tentang tari kraton yang putri saja.</p>
<p>Saya  mencoba melihat tari kraton putri pada sesi latihannya. Saat latihan itu  pakaian yang dikenakan itu akan berbeda dengan pakaian ketika  pementasan. Saya minta masukan ke bapak dan ibu guru juga, apakah bahasa  ini cocok untuk anak sekolah dasar. Saya jelaskan sedikit mengenai  praktik menari di sana.</p>
<p>Saya  mencoba menjelaskan tari kraton putri, mulai dari memakai pakaian dan  rias, yang perlu waktu untuk mengerjakannya. Saya tidak menjelaskan  mengenai filosofi di sini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Modul Mba Melati ini akan melengkapi modul dari bapak dan ibu guru karena belum ada yang menuliskan tari.</p>
<p>Selanjutnya  saya akan presentasi juga, dan menuliskan modul mengenai festival  keagamaan. Kata festival ini telah banyak dipakai juga untuk kegiatan  lain yang bukan bersifat keagamaan. Saya menuliskan festival keagamaan  di Nusa Tenggara, Yogyakarta, Pariaman, dan Sulawesi Selatan. Saya  menampilkannya dalam bentuk foto-foto.</p>
<p>Festival  itu menaungi banyak tradisi. Tradisi kuliner dan pakaian banyak muncul  di festival keagamaan. Juga tradisi lisan dan sebagainya. Pada bagian  akhir ada penugasan sederhana untuk siswa untuk mengamati suatu festival  keagamaan di daerahnya dan juga di daerah lain.</p>
<p>Satu  contoh, di festival orang banyak membuat makanan. Festival selalu  menarik perhatian. Juga ada foto bagaimana fotografer berebut  mengabadikan festival. Setiap upacara selalu ada kekhasan di berbagai  ragam elemennya.</p>
<p>Selanjutnya, Mba Nia silakan memulai diskusi</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Silakan beri tanggapan dari presentasi tadi, Pak Erry dan Pak Suhadi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Suhadi Hadiwinoto</p>
<p>Presentasinya  bagus-bagus dan tampak ada semangat tinggi untuk menyiapkan berbagai  materi itu. Ada sedikit catatan, bahwa bagaimana yang menarik bagi kita,  juga ada proses untuk memastikan bagaimana membuatnya menarik bagi  anak-anak.</p>
<p>Pada  kesempatan ini saya mohon izin untuk kembali menengok pada hal-hal yang  pernah kita bahas pada pertemuan di awal. Mungkin kita ingat pada saat  pertemuan pertama, mengenai mengapa kita mengadakan pendidikan pusaka.  Tujuannya, pertama, adalah untuk mengajak anak untuk mengenal keragaman  pusaka Indonesia. Kedua, mengajak anak memahami makna pusaka dalam  kehidupan. Ketiga, mengajak anak menghayati dan mencintai pusaka.  Hal-hal itu perlu muncul dalam kajian mdoul bapak ibu tadi.</p>
<p>Dalam  materi yang ada selama ini biasanya hanya pembekalan pada siswa agar  mereka tahu. Namun, tidak sampai bagaimana memahami makna dan  mencintainya.</p>
<p>Keempat, adalah mengajak anak memelihara dan melestarikan pusaka.</p>
<p>Di sini kita perlu tahu bagaimana mengukurnya.</p>
<p>Empat  hal ini perlu diperhatikan agar jelas ketika menyampaikannya akan ke  arah mana. Lalu, dulu kita juga pernah bahas bersama, jika kita  menyampaikan peljaran itu selama enam tahun, maka tahun pertama itu  banyak bersifat bermain, seperti permainan tradisional, dongeng, dan  bernyanyi berkelompk, yang sederhana dan dari daerah sendiri.</p>
<p>Kelas dua sama, tapi lebih kompleks dengan mulai mengenal budaya dari daerah lain.</p>
<p>Kelas tiga mulai mengenal tari anak, busana, dan musik serta alat musik dari daerah sendiri dan daerah lain.</p>
<p>Kelas  empat mulai mengenal alat kehidupan tradisional, bangunan tradisional,  dan kawasan bersejarah yang ada di daerah sendiri dan daerah lain. Pada  tahap ini lebih mulai mengajak siswa mengenal pusaka teraga.</p>
<p>Pada  kelas lima mulai mengenal kesenian; seni musik, teater, dan seni rupa.  Pada kelas enam, mencakup pula permukiman dan lingkungan, flora dan  fauna, serta iklim.</p>
<p>Semua hal itu jika diberikan contoh lebih jauh ada banyak yang bisa disampaikan kepada siswa.</p>
<p>Kita  perlu melihat keseluruhan pusaka itu dan kita tidak lupa ketika kita,  misalnya, fokus pada batik, kita tidak hanya fokus pada itu saja. Siswa  juga berhak mengetahui pusaka di luar itu. Pak Erry juga mengingatkan  kita kembali supaya sebelum membuat materi-materi itu kita tahu  kompetensi dasar yang diharapkan dari masing-masing materi di modul itu.</p>
<p>Kita  juga tidak bertujuan untuk mendidik siswa menjadi ahli di bidang yang  kita ajarkan. Kita mengajarkan gamelan itu tidak harus bertujuan  menjadikan mereka ahli gamelan. Namun, lebih untuk memberikan pemahaman  mengenai gamelan kepada siswa, sehingga mereka bisa menghargai gamelan.</p>
<p>Dalam  matriks ini juga ada indikator yang bisa diterakan sebagai pencapaian  hasil belajar. Bisa djelaskan kegiatan belajar apa yang dilakukan dan  berapa alokasi waktunya.</p>
<p>Kita  berharap proses ini sampai pada sisi afektf juga, agar bisa lebih  menghayati dan memahami, sebelum kemudian sampai ke sisi praktiknya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Terima  kasih Pak Suhadi. Beliau mengingatkan kembali tujuan proses yang kita  lakukan. Walaupun sekarang setiap sekolah membuat satu  modul, tapi  nanti akan digunakan secara saling melengkapi. Kita akan bergerak  sebagai satu tim.</p>
<p>Kita coba dengarkan tanggapan dari Pak Erry.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Erry Utomo</p>
<p>Terima kasih.</p>
<p>Setelah  melihat semua tampilan yang ada, saya sudah melihat banyak keragaman.  Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan karena modul ini nanti akan  digunakan di sekolah. Mohon, bapak dan ibu mengidentifikasi bahwa  modulnya akan digunakan pada muatan lokal atau pada mata pelajaran  sesuai dengan tingkatan kelas. Contoh, mba Melati, cukup komprehensif  menuliskan. Artinya, tidak semua tampilan bisa dikomikkan atau  digambarkan. Ada juga yang bisa ditampilkan melalui foto, dengan sedikit  ilustrasi dan informasi. Jika dibuat secara berseri maka di modul  berikutnya bisa dituliskan maknanya.</p>
<p>Pak Suhadi mencoba melakukan exercise mengenai SKKD, itu baik untuk muatan lokal.</p>
<p>Teknis  dalam modulnya saya tidak begitu banyak tahu bagaimana menulis modul.  Saya tergelitik bahwa judul itu jangan yang flat. Headline bisa harus  menarik agar anak bisa tertarik untuk membaca. Isinya pun juga harus  dikemas agar kita seperti berdialog dengan anak. Gunakan bahasa bermain  kata-kata dan gambar.</p>
<p>Memang  pada dasarnya ada beberapa materi yang menjelaskan prosedur. Namun,  jika dituliskan sebagai prosedur maka akan sangat membosankan. Harus ada  rasa yang baik dalam menuliskan materi menjadi lebih menarik.</p>
<p>Anjuran  juga baik disampaikan. Misal, cara penggunaan pisau, bisa diletakkan di  awal, bukan di akhir. Juga ada beberapa bagian yang bersifat suruhan.  Namun, tetap perlu diperhatikan efektivitas kalimatnya.</p>
<p>Modul  juga bisa dalam bentuk komik. Hal yang penting isinya jangan tenggelam  daripada kemasannya. Kita perlu tahu apa apresiasi anak setelah membaca  modul. Jika anak bisa melakukan sesuatu hal dengan baik sesuai dengan  muatan modul maka itu bisa menjadi penanda yang bisa diukur.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Terima kasih Pak Erry</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Erry Utomo</p>
<p>Satu  lagi. Modul itu adalah layak atau applicable. Modul itu harus bisa  diupayakan (oleh sekolah), digunakan, dan memproduksinya sendiri,  affordable.  Sekolah lain yang tertarik akan bisa menggunakannya. Hanya  saja yang berbeda itu konteksnya. Jika hanya sebatas sebagai  pengetahuan, modul itu tetap bisa dilakukan, dan modul itu bisa tetap  terpakai untuk melihat keragaman budaya nusantara.</p>
<p>Misi  dari penulisan modul ini sederhana, komunikatif, dan sesuai dengan  konteks yang diajarkan sesuai dengan KTSP dan muatan lokal yang ada.  Beratnya memang bukan main. Saya senang bapak dan ibu guru sudah bisa  menuliskannya dan menunggu untuk dikemas oleh tim kreatif. Antara  sekolah bisa dicoba untuk saling tukar dan menggunakannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Masih ada waktu 10 menit, apakah ada pertanyaan atau tanggapan? Pak Yanto?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sugiyanto (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Kami hanya ingin klarifikasi dari oleh-oleh tim BPPI yang kemarin ke Belanda, apa yang didapat dari sana.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Setelah istirahat bisa kita sampaikan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sita Adishakti</p>
<p>Menarik tadi mencermati berbagai macam gagasan mengenai modul anak.<br />
Saya ingin melihat format dari modul anak, ada nilai penting dan  sebagainya. Dalam membuat modul, itu tidak perlu dituliskan. Nilai  penting itu tidak perlu disebutkan sebagai nilai penting secara  eksplisit. Kita akan coba tidak membuat buku yang penuh berisi aturan  dan kaku. Semoga keluarannya akan jadi dekat dengan anak-anak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Nanti kita akan bagi dalam beberapa kelompok, didampingi oleh tim BPPI dan tim Kreatif untuk menyempurnakan modul yang ada tadi.</p>
<p>Nanti kita masuk lagi setelah istirahat.</p>
<p>Pukul 14.56</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Kita akan lakukan istirahat dan pembagian kamar.</p>
<p>Pukul 15.00</p>
<p>istirahat</p>
<p>Pukul 15.53</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Selamat sore, sambil kita menunggu teman yang lain, kita akan perkenalkan anggota tim kreatif untuk program ini.<br />
- Ade<br />
- Imam<br />
- Moki<br />
- Gunarso<br />
- Anang<br />
- Wigar</p>
<p>OK, ini teman-teman ini yang akan membantu penyusunan modul seri pendidikan pusaka.</p>
<p>Pukul 16.05</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Presentasi pengalaman kunjungan Tim Pendidikan Pusaka BPPI ke Belanda.</p>
<p>Sekolah</p>
<p>Toelstra;  mereka memiliki siswa banyak, 700 siswa, dan sebagian besar adalah  anak-anak imigran dari negara lain. Mereka dididik untuk bisa mengenal  budaya Belanda. Namun, dalam keseharian mereka tetap mengakui  etnisitasnya.</p>
<p>Piet  Hein; ada di Rotterdam dan ada di satu pinggir kota bekas pelabuhan.  Dalam pendidikan pusaka, mereka membuatnya secara tematik. Misal, mereka  membuat tema air. Anak-anak diminta membuat proyek yang bertemakan air.  Sebagain besar siswanya juga migran.</p>
<p>Bloomhof;  sebagian besar siswanya adalah migran muslim. Mereka sebenarnya punya  konflik, tidak hanya budaya, juga bahasa. Mereka menggunakan filosofi  judo untuk membangun kepercayaan diri, dengan penghormatan kepada diri  sendiri, sehingga bisa menghormati orang lain. Mereka membebaskan  pembelajarannya dengan latar budaya masing-masing. Misal, belajar  tentang laut, banyak anak Belanda yang tidak tahu tentang laut.  Anak-anak yang tahu laut bisa berbagi. orang tua juga bisa terlibat.  Kendala yang paling besar adalah masalah makanan, karena mereka di  sekolah dari pagi sampai sore. Untuk jaminan makanan halal maka orang  tua siswa terlibat mengelola aktivitas di sekolah. Dulu itu daerah yang  bergerak dengan kapal, karena wilayah pelabuhan, dan sekarang berubah  menjadi kota modern. Ada kesenjangan budaya, dan bisa diatasi  kesenjangannya pada anak dengan filosofi judo tadi.</p>
<p>Museum</p>
<p>Tropen, khususnya Tropen Museum Junior.<br />
Bronbeek Museum<br />
Maluku Museum<br />
Villa Zebra, sebagai museum yang dinamis dan interaktif.</p>
<p>Institusi</p>
<p>Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan<br />
Reinwardt Academy<br />
EN<br />
ANO<br />
Arsip Nasional<br />
KBRI</p>
<p>Pusaka Belanda</p>
<p>bangunan<br />
kanal<br />
transportasi<br />
lansekap<br />
bunga<br />
kulinari</p>
<p>Dari semua kelompok yang dikunjungi, saya coba rumuskan dan menemukan bahwa semua punya peran.</p>
<p>Kementerian  Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan memiliki peran sebagai  pemegang kebijakan dan penyedia dana. Menerapkan National Objective of  Education dengan mengundang dewan pakar. Tidak ada kurikulum sekolah.  Bloomhof bahkan mengaku tidak pernah belajar pakai buku paket. Ada juga  proyek Canon van Nederland.</p>
<p>Pendidikan  pusaka mendapatkan porsi yang cukup menarik dengan dukungan banyak  program. Ada cultuurcard dengan nilai yang berbeda sesuai dengan  umurnya. Kartu itu bisa digunakan untuk mengunjungi situs dan acara yang  terkait dengan pusaka.</p>
<p>Sekolah  punya peran melaksanakan pendidikan dasar untuk mencapai tujuan  nasional. Praktik pelaksanaan diserahkan ke sekolah dan sekolah membuat  model pembelajaran. Seni menjadi salah satu media pembelajaran.<br />
Sekolah mendapatkan subsidi dari pemerintah dan pemerintah kota.<br />
Pendidikan wajib dasar dimulai dari 4 tahun, ada database anak, dan bila  punya anak 4 tahun belum sekolah, orangtuanya akan kena pinalti.<br />
Pelajaran tidak banyak seperti kita, hanya bahasa, matematika, sejarah,  geografi, olahraga, dan seni. Hanya 26 jam satu minggu dan ditambah 32  jam per minggu untuk ekstrakurikular. Pendidikan dilakukan oleh guru  sekolah dan guru yang dipanggil secara khusus.</p>
<p>Reinwardt  Academy, pendidikan tinggi yang bergerak di heritage, di level vokasi  dan spesialis. Musem dan arsip digunakan sebagai sumberdaya  pembelajaran, yang dapat subsidi dari pemerintah jika menyediakan  program untuk sekolah.</p>
<p>LSM,  menjadi perpanjangan tangan pemerintah untuk merancang materi  pembelajaran dengan subsidi pemerintah. EN produknya formal, ANNO  produknya tidak formal. Villa Zebra menciptakan galeri untuki merangsang  keingintahuan, kreativitas, dan identitas pribadi.</p>
<p>Komentar  dari kunjungan tersebut, pendidikan pusaka yang diterapkan di sekolah  dasar sebenarnya lebih cenderung pada pembelajaran media seni budaya,  fokus pada modern culture. Materi pusaka levelnya masih pada ranah  kognitif, terutama melalui materi sejarah, belum sampai ranah afektif  dan kreatif.</p>
<p>Integrasi  pemerintah, sekolah, instansi, dan museum, serta arsip, serta LSM sudah  sangat baik dalam melaksanakan edukasi, termasuk menyediakan sumberdaya  pembelajaran.</p>
<p>Pusaka di Belanda menjadi media yang nyatamenghubungkan masa lalu dan masa kini.</p>
<p>Pukul 16.25</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Diskusi Kelompok Terfokus</p>
<p>Kelompok A &#8211; tema pengenalan ragam pusaka dan cara membuatnya</p>
<p>1. SD Budi Mulia Dua : Bakpia (makanan khas Yogyakarta)<br />
2. SDN Kotagede I : makanan tradisional Kotagede<br />
3. SDN Wonorejo I dan II : mengenal wadah anyaman bambu dan membuat dunak<br />
4. MI Giriloyo I dan II :  mengenal dan membuat batik</p>
<p>Kelompok B &#8211; tema kegiatan atau upacara</p>
<p>1. SD Taman Muda : Dolanan anak<br />
2. SDN Jragum: Upacara perkawinan adat, pergelaran wayang kulit<br />
3. SDN Selang: Upacara Gumbregan<br />
4. SDN Bantul Manunggal : Pranata adicara basa Jawi</p>
<p>Kelompok C &#8211; tema pusaka saujana</p>
<p>1. SDN Kotagede I : kawasan pusaka Kotagede<br />
2. SD Budi Mulia Dua : sejarah Selokan Mataram<br />
3. SD Tarakanita Tritis : jelajah saujana Merapi</p>
<p>Bahan diskusi kelompok:</p>
<p>1. Bentuk / format modul<br />
- komik<br />
- cerita bergambar<br />
- esai foto<br />
- audio visual<br />
- audio<br />
2. Isi / konten<br />
- seleksi materi<br />
- penyesuaian materi dengan kompetensi<br />
- penugasan<br />
- judul<br />
3. Bahasa<br />
- bahasa anak usia SD<br />
- interaktivitas<br />
- komunikatif</p>
<p>Pukul 17.30</p>
<p>&#8212;&#8212;-</p>
<p>Pukul 20.00</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Anang Saptoto</p>
<p>Tim kreatif terdiri dari ilusatrator dan desainer grafis</p>
<p>Modul direncanakan dalam bentuk cetak, format A5.</p>
<p>Kami  juga telah merencanakan bagaimana membuat benang merah antara modul yang  dibuat. Kami telah merencakana untuk membuat tokoh. Kami, sempat  merencanakan ide untuk membuat tokoh punakawan yang direinkarnasi  menjadi tokoh sekarang.</p>
<p>Namun,  persoalan mulai timbul. Misal, pilot project di Yogya ini selesai,  apakah punakawan ini akan tetap bisa eksis selain di Yogya. Misal,  kemudian dilanjutkan di Lampung, apakah punakawan jadi sama?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>M. Daim (eks SDN Kotagede I)</p>
<p>Jadi gajah mas</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Anang Saptoto</p>
<p>Ya, idenya pun jadi seperti itu. Bagaimana jika modul dikemas sebagai fabel.</p>
<p>Jika  misalnya penokohan diganti dengan hewan. Nah, kira-kira analoginya  seperti punakawan. Kancil, misalnya, memang cerdik. Kalau kita mau  membahas detail arsitektural, kita bisa gunakan figur seperti cecak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>M. Daim (eks SDN Kotagede I)</p>
<p>Semua daerah itu punya logo daerah. Di kamus olah raga, setiap provinsi bisa muncul logonya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Anang Saptoto</p>
<p>Itu masukan bagus.<br />
Sebetulnya dalam forum kali ini, kami harap bagi tim kreatif ada masukan  juga. Menurut kami, hewan itu bisa kita terapkan di kondisi apapun.  Kita bisa membicarakan hal yang baik dan kondisi lain pun, kita bisa  sampaikan tetap dalam status sebagai hewan yang netral, tidak  terpengaruh gender dan agama, dan sebagainnya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Saya tertarik juga dengan penggunaan tokoh hewan.</p>
<p>Kita bisa gunakan binatang lokal dan juga ikon, seperti gajah yang bisa bertemu dengan hewan-hewan lain ddi daerah lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Anang Saptoto</p>
<p>Kalau  dalam konteks hewan apa yang akan kita pilih, kami sendiri masih belum  terlalu jelas hewan apa yang akan digunakan. Setiap modul nanti akan  dipelajari dan akan keluar ikon binatang apa yang akan diterapkan di  setiap modul</p>
<p>Saya  sih fleksibel, misal dalam suatu modul akan menggambarkan seni tari apa,  tidak mungkin akan menarikan figur badak. Figur manusia tetap ada, tapi  sebagai pendukung. Misal, si binatang melihat orang sedang menari, dan  dialog tetap terjadi.</p>
<p>Elemen fotografi pun tetap bisa masuk.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Puji Lestari (SDN Selang)</p>
<p>Misal tentang wayang. Semar bisa digambarkan seperti apa? Jika modul wayang purwa itu akan jadi seperti apa?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Anang Saptoto</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Elanto Wijoyono<br />
&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Anang Saptoto</p>
<p>Moki  sempat bercerita, misal modulnya sekarang sudah jadi terus bagaimana?  Misal ada yang sudah bawa jadi akan dijadikan seperti apa?</p>
<p>Menurut  saya, itu akan bagus. Namun, kita tetap harus mengurai itu dulu apakah  informasinya yang ingin diinformasikan sudah jelas atau tidak. Walaupun  yang membuat itu murid sendiri, itu bagus sekalai. Ibarat kita beli  motor, kita bisa bongkar lagi dan bisa kita rakit lagi, agar sesuai  kebutuhan.</p>
<p>Kita pun juga harus</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Elanto Wijoyono<br />
&#8230;</p>
<p>Pukul 20.28</p>
<p>(dilanjutkan dengan diskusi kelompok)</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p><strong>Minggu, 5 Juli 2009</strong></p>
<p>Pukul 09.13</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Salam, Selamat pagi</p>
<p>Berbahagia  sekalai pagi ini bisa bertemu lagi dengan bapak dan ibu guru. Saya  lihat semua sudah semakin ceria daripada kemarin, setelah lama tidak  bertemu dan agak canggung.</p>
<p>Pagi  ini kita akan ada sejumlah acara. Pertama, ada presentasi simulasi.  Kemarin kita sudah presentasi modul. Sekarang kita akan melakukan hari  ini adalah bagaimana bapak ibu guru menjelaskan kepada siswa. Misal,  menggunakan modul membuat bakpia. Bagaimana menjelaskan modul itu kepada  siswa. Mohon kita nanti yang menjadi siswanya, jangan berpikiran  seperti orang dewasa.</p>
<p>Kita  kedatangan tamu yang sangat berkualitas yang akan memberikan masukan  kepada modul dan cara bapak dan ibu dalam menyampaikan modul itu. Ada  Pak Erry dan Pak Nazarius. Bu Gamayanti belum hadir.</p>
<p>Semalam kita sudah review modul yang sudah dibaca Pak Nazar.</p>
<p>Kemarin ada beberapa kelompok dan kelompok A adalah yang bertema keragaman dan cara membuat.</p>
<p>Bagaimana jika SD Budi Mulia Dua? Miss Aa?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Katiti (SDN Wonorejo II)</p>
<p>Terima kasih atas waktu yang diberikan kepada saya untuk mempresentasikan modul saya.</p>
<p>Saya maaf nanti pura-puranya sebagai guru.</p>
<p>Anak-anak selamat pagi!</p>
<p>Sebelumnya sudah sarapan belum? Sarapannya apa?<br />
Anak-anak sudah sarapan. Nah, tahu tidak proses membuat sarapan itu? Kan  pakai alat ya. Ibu menyiapkan sarapan, kan ada yang lauknya tempe atau  tahu dan telur.</p>
<p>Tahu nda, alat-alat yang digunakan untuk memasak? Kamu Rumiyati?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rumiyati (SDN Wonorejo I)</p>
<p>Wajan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Katiti (SDN Wonorejo II)</p>
<p>Ada  serok dan cothil. Ada masih banyak lagi untuk peralatan yang sekarang  dipakai. Ada juga yang sudah banyak dipakai terbuat dari stainless  steel.</p>
<p>Ibu  ingin mengenal bahan yang dari bambu sebagai alat rumah tangga  tradisional. Sekarang kita menaruh makanan di magic jar atau tupper  ware.</p>
<p>Pertama, tempat nasi yang terbuat dari bambu. Namanya bakul. Dalam bahasa Jawa disebut wakul.<br />
Kedua, ada jamblang, tempat nasi juga.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Kalau cething itu apa, Bu?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Katiti (SDN Wonorejo II)</p>
<p>Sama-sama tempat nasi. Tapi, istilah lokalnya.</p>
<p>M. Daim (eks SDN Kotagede I)</p>
<p>Wakul wesi, Bu!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Katiti (SDN Wonorejo II)</p>
<p>Oo, wakul wesi, bukan dari bambu.</p>
<p>Lalu  ada kukusan. Bentuknya seperti caping, ada juga yang kecil dan yang  besar. Yang besar digunakan untuk menanak nasi, ketika nasi jumlahnya  banyak. Jadi, kalau nasinya sedikit pakai kukusan besar ya tidak  praktis.</p>
<p>Kalau menggoreng telor pakai wajan dan ada seroknya, dari bambu.</p>
<p>Selanjutnya  ada kalo. Sekarang banyak dipakai dari alumunium. Ada irik juga, yang  bentuknya sama, bedanya besar dan kecilnya. Fungsinya untuk meniriskan  sayur-sayuran dalam jumlah besar.</p>
<p>Perlu  anak-anak tahu juga kalau di dusun-dusun, ada orang nepleki beras, lalu  diinteri. Kalau nepleki itu menghilangkan ketepunya. Kalau nginteri itu  diputar-putar untuk mengumpulkan gabah yang masih sisa, agar bersih.</p>
<p>Lalu  tambir, ini juga merupakan anyaman dari bambu. Juga kalau dulu saya  waktu kecil, digunakan untuk menempatkan gorengan dalam jumlah besar,  terutama waktu hajatan.</p>
<p>Selanjutnya, sama seperti tambir, tapi besar, namanya tebok. Tebok digunakan untuk membuat tempe, bisa muat 20 kilogram.</p>
<p>Lalu tumbu yang digunakan sebagai wadah hasil bumi dan untuk mususi, mencuci beras dalam jumlah besar.</p>
<p>Ada bodhag, semacam tumbu, tapi lebih besar dan lebar, terutama untuk menyiapkan tempe.</p>
<p>Tenong,  untuk kepungan, tempat makanan yang dibawa ke acara hajatan bersama,  seperti ruwahan, selikuran, dan lain sebagainya. Kalau di Gunungkidul  ada rasulan habis panen.</p>
<p>Ada  tenggok, yang sama dengan bodhag cara membuatnya. Tenggok lebih tinggi.  Dulu digunakan ibu-ibu untuk membawa hasil bumi ke pasar. Kalau sekarang  mungkin dalam satu pasar, ibu yang membawa hasil bumi pakai tenggok  tidak banyak, sekarang pakai bagor, atau sepeda motor.</p>
<p>Lalu  ada dunak, yang nanti akan dicoba membuatnya. Ini dulu untuk menaruh  nasi dalam jumalh besar. Sekarang sudah susah mencarinya.</p>
<p>Lalu,  ada porok, digunakan untuk memetik buah-buahan saat masih kecil.  Sekarang sudah jarang digunakan orang-orang desa untuk menggunakannya.  Kalau sosrok, di tempat saya itu untuk menyebut kalung orang meninggal  dan dupa.</p>
<p>Ada kronjot, untuk menempatkan buah-buahan dan sayuran.</p>
<p>Ada  kreyeng, yang digunakan untuk membawa kotoran sapi dibawa ke sawah. Dulu  ketika aku kecil, ketika menanam padi, pupuknya dari pupuk kandang dan  dedaunan. Dipikul muka dan belakang cara membawanya. Sekarang membawanya  pakai bagor.</p>
<p>Lalu ada keranjang, sampai sekarang masih banyak digunakan untuk mencari rumput.</p>
<p>Demikian  anak-anak, jenis peralatan tardisional dari bambu. Alat dari bambu ini  ramah lingkungan, karena tidak mengandung efek yang berdampak pada  kesehatan. Ada pertanyaan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Istinganah (MI Giriloyo II)</p>
<p>Ya, Bu. Tadi kan ada macam-macam. Itu bagaimana cara membuatnya, saya kok belum dong?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Katiti (SDN Wonorejo II)</p>
<p>Bocah kalau pinter ya seperti itu.<br />
Terima kasih, ini nanti sore akan ketemuan lagi untuk praktik membuat salah satu dari peralatan itu. Yang mudah saja.</p>
<p>Terima kasih</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Terima kasih</p>
<p>Tadi  ibu menjelaskan isi modul yang akan dibaca anak. Tujuannya kan  sebenarnya adalah bagaimana bapak dan ibu guru mendorong anak untuk  membaca modul tersebut.</p>
<p>Kita akan mendengarkan komentar dari Pak Erry dan Pak Nazar. Monggo Pak Nazar dulu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nazarius</p>
<p>Terima kasih, selamat pagi. Saya dari Laboratorium Dinamika Edukasi Dasar, sehari-hari di SD Eksperimentsi Mangunan.</p>
<p>Saya  akan mulai dari tanggapan ke Ibu Katiti. Kalau saya mengikuti simulasi,  saya senang bisa langsung mengetahui nama-nama alat dari bambu. Jika  saya rumuskan menjadi indikator jadi apa?</p>
<p>Siswa mengetahui jenis-jenis alat yang terbuat dari bambu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ani Sulistyawati (SD Tarakanita Tritis)</p>
<p>Siswa dapat menjelaskan salah satu peralatan yang telah dipresentasikan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nazarius</p>
<p>Fungsi alat ya?</p>
<p>Siswa mampu memberi contoh lain? Ada tadi langkahnya? tidak ya.<br />
Siswa mampu menyebutkan minimal 5 peralatan yang terbuat dari bambu? Kok  hanya lima? Itu indikator atau jadi kisi-kisi soal? Kan ada 20 jenis.</p>
<p>Ada  lagi? Bahan? Bahannya apa, kan cuma bambu, apakah perlu disebutkan  karena di judul sudah pasti dari bambu. tidak perlu ditambahkan dari  indikator ya.</p>
<p>Ketiga,  setelah fungsi, ini keunggulannya. Ya, menyebutkan keunggulan alat-alat  yang terbuat dari bambu. Ada nilai alat yang ramah lingkungan. Apakah  ramahnya sudah cukup jelas bagi kita? Belum ya.</p>
<p>Sebagai  langkah pembelajaran, yang pertama dan kedua sudah cukup bagus. Kalau  yang ketiga masih belum, masih kurang. Jika mau dikembangkan mungkin  bisa menghimbau anak bisa menggunakan. Kan dari kemarin kita sudah  mendorongkan anak untuk bisa mengembangkan sikap positif dalam  pelestarian pusaka. Tidak hanya menghimbau saja.</p>
<p>Pengantarnya tadi bagus, mulai dari sarapan, tambah atau tidak.</p>
<p>Saya  sudah membaca modul-modul yang kemarin. Modul kita kadangkala masih  terlalu jujur. Buka modul langsung mak bedundug ditawari tari. Kalau  didahului dengan narasi mengenai pengalaman anak, pengalaman yang  terbatas itu dibawa pelan-pelan ke pengalaman yang lain. Seperti  pengalaman sarapan, bisa dibawa ke pengalaman mengenal alat-alat dari  bambu. Misal, dari pengalaman jatuh, bisa dikenalkan pengalaman obat  tradisional.</p>
<p>Saya  sudah diberi catatan, modul ini akan dipakai sebagai sekadar media ajar.  Atau apakah sebagai modul yang bisa mengajar sendiri oleh siswa? Itu  tergantung penyusunannya oleh siswa. Jika modul diharapkan bisa mengajar  sendiri maka narasi di setiap gambar bisa diperkaya, minimal seperti  yang tadi Bu Katiti aturkan.</p>
<p>Dari  kejauhan tadi, jika hanya diterangkan dalam satu dan dua kalimat itu  peralatan itu akan sulit dideskripsikan. Kalau hanya dijelaskan cara  menggunakannya tanpa diperagakan akan kurang jelas.</p>
<p>Saya  usul itu bisa menjaadi standardnya, ada di setiap barang. Barangnya  dipotret dan fungsi serat cara pakainya agar tidak bingung.</p>
<p>Terima kasih</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Indikator pembelajaran modul anyaman:</p>
<p>Siswa dapat menyebutkan:<br />
1. jenis/ragam alat dari anyaman bambu<br />
2. fungsi<br />
3. nilai alat yang ramah lingkungan</p>
<p>&#8212;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Saya kira apa yang disampaikan Pak Nazar itu berlaku untuk semuanya.</p>
<p>Selanjutnya komentar dari Pak Erry, silakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Erry Utomo</p>
<p>Terima  kasih. Kita sudah mendengar dari Pak Nazar, bahwa di modul perlu ada  pengetahuan awal yang disampaikan, tidak langsung masuk ke pokok materi.</p>
<p>Saya tanya, ini untuk muatan lokal atau mata pelajaran yang lain?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rumiyati (SDN Wonorejo I)</p>
<p>Kalau yang pakai untuk mata pelajaran, masuk SKKD kelas 5. Untuk keterampilannya pada muatan lokal sore hari.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Erry Utomo</p>
<p>Saya  tidak tahu, apakah itu harus ditulis karena modul itu harus digunakan  oleh sekolah. Jika akan dipakai dalam mata pelajaran maka harus masuk  dalam SKKD. Jika muatan lokal maka akan dikaitkan dengan konteks wilayah  kabupaten atau kota. Apakah harus dicantumkan Pak Nazar?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nazarius</p>
<p>Saya  tidak mengikuti kesepakatan kemarin. Saya lihat modul yang  kita buat  punya keluwesan yang luar biasa, bisa masuk mata pelajaran, bisa masuk  ekstrakurikular, bisa pula lepas secara mandiri. Modul ini juga bisa  dimasukkan ke dalam perpustakaan kelas.</p>
<p>Misal,  kita bicara ragam tari tradisional. Kita bisa sampaikan ke anak-anak,  kalau mau tahu tentang tari bisa baca di sana, atau cukup tunjukkan  bukunya bahwa ada buku tentang tari yang bisa dibaca.</p>
<p>Jika anak-anak semua membaca modulnya, bisa diperkaya oleh guru sesuai dengan indikatornya.</p>
<p>Ada  link dengan KD juga, perlu juga ditulis di balakang modul, di bawah  anjuran kepada guru dan orang tua. Saya tidak usulkan dituliskan di  depan, agar tidak terlalu birokratis dan anak yang melihatnya sebal  duluan. Di belakang akan lebih efektif.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Erry Utomo</p>
<p>Masukannya  baik sekali, jika terkait dengan mata pelajaran pokok bisa dikaitkan  dengan SKKD dan dituliskan di modul. Akan diterapkan pada kelas berapa  dan apa indikatornya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Terima kasih. Selanjutnya, silakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aa (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Sebelum saya mulai, pura-puranya komik ini berjumlah banyak, sejumlah anak.</p>
<p>Salam,</p>
<p>Selamat pagi, anak-anak? Semangat ya. Siapa hari ini yang belum sarapan?</p>
<p>Biar lebih semangat, kita tepuk dulu ya. Tepuk 1.. Tepuk 2 .. Lumayan semangat.</p>
<p>Sekarang  Miss Aa akan menyebutkan dua jenis makanan. Jika Miss Aa menyebutkan  makanan bersifat nabati anak-anak tepuk 1, kalau yang hewani kalian  tepuk 2. Saya mau tes, sudah konsentrasi belum.</p>
<p>Sudah tahu nabati kan di mata pelajaran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sari Wulandari (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Yang salah diapain, Bu?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aa (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Disuruh menyanyi Jowo</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>M. Daim (eks SDN Kotagede I)</p>
<p>Miss Aa tadi kan salah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aa (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Ya, menyanyi Suwe Ora Jamu</p>
<p>Lalu mempraktikkan tepuk 1 dan 2.</p>
<p>Pak Daim salah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>M. Daim (eks SDN Kotagede I)</p>
<p>Menyanyi Gundul-gundul Pacul.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aa (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>(melanjutkan permainan tepuk)</p>
<p>Tanya makanan khas.</p>
<p>Siapa pernah makan rujak cingur, bagaimana rasanya?<br />
Kalau makan khas, kota yang biasa ada andong dan batiknya? Yang lebih  khusus lagi. Gudeg ada di mana? Siapa yang kemarin liburan ke  Yogyakarta?</p>
<p>Miss AA mau tanya, Yanto, makanan khas dari Yogya yang paling kamu sukai apa?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sugiyanto (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Saya suka yang manis-manis, geplak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Miss Aa (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Ada yang mau cerita lagi, yang mencicipi makanan khas dari Yogya. Ada yang mau cerita pengalamannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ani Sulistyawati (SD Tarakanita Tritis)</p>
<p>Selamat pagi Bu Guru dan teman-teman.</p>
<p>Kemarin  saya liburan 2 minggu ke tempat eyang di bantul. Di sana ada banyak  emping, gula jawanya asli sekali. Di sana dua hari, dan katanya jadi  cewek romantis, rono rene mangan gratis. Di rumah tidak pernah masak,  tapi bisa makan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aa (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Tadi kan sudah ada cerita makanan dari liburannya.</p>
<p>Sekarang  Miss AA punya komik. Sudah baca kan ya. Miss AA akan membagikan ini  satu per satu. Saya kasih waktu 5 menit untuk membacanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>M. Daim (eks SDN Kotagede I)</p>
<p>(membagikan komik)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ani Sulistyawati (SD Tarakanita Tritis)</p>
<p>Kok mataharinya pakai kacamata?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aa (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Sudah baca komiknya?<br />
Sekarang saya kasih tugas. Kan anak-anak tadi liburan. Nanti tugas di  rumah, kalian menanyakan ke bapak atau nenek, makanan khas apa yang ada  di sutau kota. Kalian bisa menuliskan, menggambarkannya, bagaimana cara  membuatnya.</p>
<p>Kalian mengerjakan di buku gambar. Yang tidak punya, kalian maju ke depan, kalian bisa bawa pulang untuk dikerjakan di rumah.</p>
<p>Kalau yang tidak liburan, ada yang mau bantu?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sari Wulandari (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Kan kalau di sawah makan juga, tulis saja resep yang dimakan di sawah waktu bantu ibu. Tidak harus makanan khas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aa (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Bisa juga.</p>
<p>Kalian  membuat resep makanan, bebas apa saja. Misal, yang tadi berlibur di  Surabaya, bisa menulis resep rujak cingur. Yang tidak pergi bisa menulis  resep makanan yang habis dia makan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rumiyati (SDN Wonorejo I)</p>
<p>Kalau membuat makanan yang ada di komik saja, saya males kalau harus tanya ke bapak ibu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aa (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Ada yang usul ada yang praktik saja buat yang ada di komik. Setuju yang mana?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sari Wulandari (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Aku pingin bikin poster resep masakan, habis itu praktik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aa (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Bisa juga. Bagaimana anak-anak?</p>
<p>(Permainan Tepuk 1 dan Tepuk 2)</p>
<p>Terima kasih anak-anak.</p>
<p>Daim, Miss AA bisa minta tolong lagi dikumpulkan.</p>
<p>Jadi, itu tugasnya, minggu depan dikumpulkan ya. Semoga anak-anak bisa senang di sekolah.</p>
<p>Salam,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Gurunya bersemangat dan siswanya semangat juga sampai ngeyel-ngeyel.</p>
<p>Saya  gambarkan Miss AA mendorong menggunakan modul yang sudah dibuat. Siswa  membaca dan didorong untuk membuat puilihan lain. Modul ini jadi self  learning material bagi siswa.</p>
<p>Monggo komentar dari Pak Nazar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nazarius</p>
<p>Terima kasih</p>
<p>Kalau  saya punya guru seperti Miss Aa, kelas pasti jadi meriah. Menarik yang  disampaikan. Jika kita mengikuti pelajaran, kita belajar tentang apa?  Apa yang kita bawa pulang?</p>
<p>Resep  makanan? Dibawa pulang dan diketahui kapan? Pada langkah pada saat  setelah membaca komik. Indikatornya apa? Siswa mampu menyimak, membuat  resep, melalui bacaan. Membuat atau mengenal atau menjelaskan resep?  Atau mempraktikkan?</p>
<p>Baru tahu dulu dari membaca komik.<br />
Kalau begitu kata operasionalnya, setelah membaca komik, siswa mampu apa? Di komik ada berapa resep? Ada satu.<br />
Kalau menyebutkan kan berarti untuk data atau paparan data-data kecil,  kalau paparan, itu menjelaskan. Kalau kegiatan itu mendeskripsikan  langkah-langkah pembuatan bakpia. Itu tadi bicara resep atau  langkah-langkah membuat bakpia? Resep dan langkah atau langkah dan  resep? Jadi, bisa dipecah lagi ya, setelah membaca komik anak bisa  menjelaskan resep membuaat bakpia dan menyebutkan langkah membuat  bakpia.</p>
<p>Tugas, dapat menyusun resep.</p>
<p>Kalau kita menggunakan tiga indikator ini cocoknya pada mata pelajaran ini?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ani Sulistyawati (SD Tarakanita Tritis)</p>
<p>Bahasa Indonesia, dan membuatnya bisa di PKK dan SBK</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nazarius</p>
<p>Kalau Bahasa Indonesia, KD-nya anak dapat mendeksripsikan atau menerangkan cara membuat sesuatu.</p>
<p>Saya  lihat sangat luwes masuk Bahasa Indonesia. Kalau mendengarkan: petunjuk  tentang. Kalau membaca: membaca petunjuk tentang. Posisi modul ini tidak  masalah, luwes.</p>
<p>Dari proses kegiatan belajar mengajarnya, pesannya lebih lama dari intinya. Lebih suka interaktif.</p>
<p>Pengantar  memang bagus kegiatan yang menggairahkan. Namun, maaf, saya kehilangan  tautannya. Dari sarapan lalu tepuk, tidak jelas kaitannya. Lalu cerita  pengalaman kepada anak. Ada tumpukan informasi di depan yang tidak fokus  dan tiba-tiba membagi komik dan tugas.</p>
<p>Bisa juga langsung ditanyakan siapa yang dari Yogya atau pernah makan bakpia, lalu komik disebar.</p>
<p>Saya  tidak lihat ketika anak membaca dan setelah membaca anak disuruh apa.  Lalu apa produk dari langkah membaca. Misal, setelah membaca, coba  diminta merangkum. Dari langkah itu ada produk belajarnya.</p>
<p>Lalu,  ada membuat resep makanan, saya kira tidak terlalu mudah bagi anak,  membuat resepo atau bertanya kepada orang tua. Tugasnya berarti bertanya  kepada bapak dan ibu mengenai resep. Saya temukan di modul, kita tidak  sadar dengan alur logika yang tiba-tiba melompat.</p>
<p>Catatan saya pertama, apakah alur berpikir modul itu fokus.<br />
Kedua, tugas-tugas hendaknya selaras dengan apa yang akan dipelajari.</p>
<p>Tentang komiknya saya belum lihat, dan bayangan saya akan berisi prosesnya</p>
<p>Terima kasih.</p>
<p>&#8212;-</p>
<p>Indikator pembelajaran modul bakpia:</p>
<p>Siswa dapat:<br />
1. menjelaskan resep membuat bakpia<br />
2. mendeskripsikan langkah-langkah membuat bakpia<br />
3. menyusun resep</p>
<p>&#8212;-</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Terima kasih Pak Nazar</p>
<p>Semakin  banyak presenter yang maju semakin banyak pengetahuan yang berkembang.  Semoga ini sangat berguna bagi bapak ibu guru. Ketika menjadi guru dan  berperan menjadi murid ternyata susah juga.</p>
<p>Ada tanggapan dari yang lain? Rekan-rekan guru yang mau berkomentar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rumiyati (SDN Wonorejo I)</p>
<p>Ini  belajar untuk kita semua. Karena ini proses membuat bakpia maka inti  pembelajarannya adalah membuat bakpia. Siswa di sini akan lebih baik  jika mencoba. Paling penting adalah membuat dan pengemasannya dan juga  merasakannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Terima kasih, apakah ada masukan lagi?</p>
<p>Baiklah,  kita sudah melihat modul mengenai keragaman. Kita akan melihat modul  dengan tema lain, ada dolanan anak, upacara tradisional, dan pranata  adicara basa Jawi.</p>
<p>Silakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Darojah (SDN Bantul Manunggal)</p>
<p>Selamat pagi anak-anak. Ngantuk, ya?</p>
<p>Tadi sama Miss Aa sudah ada pelajaran apa? Masih ingat tepuk tangan tadi?</p>
<p>Tadi  sudah dikasih tau cara membuat bakpia. Sekarang ibu akan memberikan  pelajaran budaya Jawa. Pernah liat upacara di kanan kiri atau di  televisi, atau di tetangga?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sugiyanto (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Pernah, ada kenduren, Bu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Darojah (SDN Bantul Manunggal)</p>
<p>Kalau kenduren itu dimulai tiba-tiba atau ada yang menuntun acara?<br />
Kita harus tahu budaya kita ya, kita harus bisa menjunjung budaya Jawa. Yanto tadi sudah bilang ada beberapa upacara.</p>
<p>Sekarang Ibu mau menjelaskan bahwa di acara itu ada pembawa acara. Acara itu bisa pada mantenan, ulang tahun, atau apa.<br />
Bisa kasih contoh mba Istinganah?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Istinganah (MI Giriloyo II)</p>
<p>Salam,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Darojah (SDN Bantul Manunggal)</p>
<p>Bagus.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>M. Daim (eks Kotagede I)</p>
<p>Kalau di upacara itu namanya apa? Kan ngga pakai salam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Darojah (SDN Bantul Manunggal)</p>
<p>Kalau di upacara tidak perlu salam, tapi harus bahasa yang baik dan benar.</p>
<p>Dalam berbahasa di acara kita harus bisa membawakan dengan unggah ungguh basa. Selain salam. Urutannya apa?</p>
<p>Di hadapan pak lurah dan tamu lainnya, bagaimana?</p>
<p>Ingkang kinurmatan utawa napa?</p>
<p>Pranatacara  boleh, pranata adicara boleh. Di perpustakaan sekolah ada banyak, ada  modul yang bisa dibaca tata caranya. Sekarang saya beri tugas, setelah  istirahat, anak-anak ke perpustakaan mempelajari tata cara menjadi  pranatacara.</p>
<p>Ada  banyak contoh yang mau dilakukan, dalam acara apa. Anak-anak saya beri  waktu membacanya, bukunya boleh dibawa pulang dua hari. Besok di  pelajaran bahasa praktik ya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>M. Daim (eks SDN Kotagede I)</p>
<p>Saya anak Irian boleh tidak ikut?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Darojah (SDN Bantul Manunggal)</p>
<p>Kamu boleh pakai Bahasa Indonesia. Yang penting kamu bisa menjadi pembawa acara.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aa (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Saya belum dong. Disuruh ngapain?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Darojah (SDN Bantul Manunggal)</p>
<p>Ngobrol sendiri ya? Sekarang Aa nyanyi, terus saya jelaskan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aa (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Sebelum saya nyanyi, ibu nyanyi dulu.<br />
(berdebar). Ya sudah nyanyi deh.</p>
<p>(menyanyi Gundul Gundul Pacul)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Darojah (SDN Bantul Manunggal)</p>
<p>Pinter, bisa nyanyi basa Jawa.</p>
<p>Saya  ulangi ya, kan di perpustakaan ada banyak buku cara menjadi pranatacara.  Kamu bisa baca dan dua hari di mata pelajaran bahasa bisa praktik.</p>
<p>Terima kasih</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Menarik. Ibu sudah mendorong anak untuk membaca dan kapan mempraktikkannya. Monggo Pak Nazar!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nazarius</p>
<p>Terima kasih.</p>
<p>Di rumah buka warung, Bu? Pelajarannya diakhir dengan tawar menawar.</p>
<p>Nuwun sewu, isi modulnya apa saja?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Darojah (SDN Bantul Manunggal)</p>
<p>Latar belakang<br />
Tujuan<br />
Contoh-contoh urutan membawa acara</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nazarius</p>
<p>Itu urutan acara atau apa?<br />
Atau apa yang harus dilakukan oleh pranatacara?</p>
<p>(baca modulnya langsung)</p>
<p>Saya baru paham. Ya, disampaikan dalam Bahasa Jawa. Disimulasikan dalam pelajaran Bahasa Jawa ya mestinya.</p>
<p>Baik,  tadi konteksnya dalam mata pelajaran Bahasa Jawa. Lalu belajar  pranatacara. Modul ini dperlakukan sebagai bahan utama atau hanya  pengayaan atau hanya referensi? Akan jadi bahan utama, karena ibu  mengatakan ibu sudah punya tuntunannya dan siswa baca sendiri.</p>
<p>Sasaran bagi siswa apa? Bisa menjadi pranatacara.<br />
Apakah dengan membaca saja sudah bisa?<br />
Jika melihat karakteristik tugas tadi, setelah istirahat ke perpustakaan baca modul dan dua hari lagi dipraktikkan.</p>
<p>Dari  simulasi tadi anak akan pulang dan membaca contoh tadi. Apakah ibu  menggaransi dengan membaca contoh tapi anak siap praktik?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Darojah (SDN Bantul Manunggal)</p>
<p>Yang siap semampu anak akan kita minta maju</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nazarius</p>
<p>Kita  tidak bisa seperti itu. Kita harus tahu pasti tingkat apa kesiapan anak.  Misal, kita bisa minta anak menghafalkan bagian modul tertentu, dan  nanti dipraktikkan hafalannya di depan kelas. Karena di modul ada banyak  acara yang harus dibaca.</p>
<p>Jika mengajak menjadi pranatacara, itu harus diajarkan bagaiman asikap menjadi pranatacara.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Darojah (SDN Bantul Manunggal)</p>
<p>Pada paparan saya seperti itu. Tadi saya singkat saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nazarius</p>
<p>Ya, tadi tidak disampaikan.</p>
<p>Apakah  modul ini hanya menjelaskan pranatacara dan juga mengajarkan anak bisa  menjadi pranatacara. Kalau bisa jadi, isinya nanti bisa seperti modul  bakpia tadi.</p>
<p>Ibu  tadi menggunakan metode tanya jawab, mulai dari pembukaan sampai  intinya. Di pembukaan bisa jadi contoh yang baik, hingga masuk ke inti  pranatacara.</p>
<p>Mestinya  harus sabar, sampai masuk ke pranatacara, agar prosesnya tidak hilang.  Tidak muncul pertanyaan MC atau host, ketika prosesnya hilang. Tadi  tiba-tiba disampaikan akan belajar budaya Jawa. Lebih baik berangkat  dari pengalaman keseharian anak, lalu dibawa ke teaching material.</p>
<p>Dalam  metode tanya jawab, penting diberi penegasan. Misal syarat MC, harus  bisa ngomong dan bisa pegang mic. Syarat itu harus harus ditegaskan,  tidak hanya itu saja syaratnya. Pasti syaratnya bisa menguasai bahasa  Jawa krama.</p>
<p>Lalu,  ada sampaikan sekarang baca sendiri. Makanya AA tadi nesu, setelah baca  terus disuruh apa? Mergo tidak tahu malah dihukum. Tanya itu mergo  cerdas.</p>
<p>Itu  muncul karena perintah bacalah itu tidak jelas. Bacalah itu agar kenapa,  ya bacalah dan pilih salah satu dan hafalkan. Itu akan jelas. Atau  bacalah dan catatlah. Harus jelas lembar kerjanya. Jika tidak, tidak  akan menghasilkan sesuatu yang spesifik.</p>
<p>Terakhir,  ibu kok boleh pakai pranatacara pakai bahasa sendiri. Kalau pranatacara  itu harus bahasa Jawa atau bagaimana? MC dan pranatacara itu sama  tidak?</p>
<p>Kalau  pranatacara itu kan spesifik dengan bahasa Jawa. Kalau MC itu belum jadi  pusaka. Kalau pranatacara itu kan mulai ditinggalkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Darojah (SDN Bantul Manunggal)</p>
<p>Kalau anak Irian dipaksakan pakai bahasa Jawa?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nazarius</p>
<p>Ya, tadi kasus jika ada anak dari Irian.</p>
<p>Terima kasih. Proviciat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Semakin panas, sila Pak Erry untuk memanaskan atau mendinginkan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Erry Utomo</p>
<p>Modul  ini kalau dipresentasikan, saya tidak mengerti. Kalau bisa tadi  dipanggil dua orang kalau pranatacara. Tidak ya? Atau dipanggil satu  orang dan diperlihatkan isinya.</p>
<p>Ini  standard bahasa Jawa yang benar atau belum diuji? Harus belajar bahasa  yang baik dan benar. Baik itu sesuai konteks dan benar itu sesuai kaidah  bahasa. Harus dipastikan karena akan dibaca banyak orang.</p>
<p>Secara  umum sudah disampaikan Pak Nazar. Saya belum lihat di semua modul,  nilai apa yang akan disampaikan. Anak harus belajar sendiri mencarinya.  Itu harus disampaikan, misal kalau kita memakai kayu, dan menebang  sembarangan apa yang akan menajdi dampaknya. Harus ada suatu nilai yang  harus dijelaskan pada akhir pelajaran, sehingga akhirnya bagus. Misal,  pranatacara ini pesan akhirnya apa.</p>
<p>Lalu  juga, misal penilaian dan evaluasi itu tolong lebih dicermati lagi agar  kita bisa meminta anak melakukan sesuatu. Kalau ini self learning  material, apakah perlu ada kunci jawaban. Apakah kalau dalam pengetahuan  apakah perlu?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nazarius</p>
<p>Tidak  usah di dalam tidak mengapa. Kalau sifatnya investigatif, kriteria atau  syarat saja. kalau evaluasi dalam pengertian soal tanya jawab, itu tidak  diserta kunci jawaban. Namun, disiapkan untuk dipegang guru.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Erry Utomo</p>
<p>Jawaban  jangan disertakan, tapi modul dilengkapi dengan petunjuk yang jelas  karena akan dibaca dan digunakan oleh siswa. Pesan dan nilai harus ada  dalam modul. Jangan sampai lepas, dan jangan lupa di akhir dikaitkan  apakah modul ini berkaitan dengan mata pelajaran apa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sugiyanto (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Seperti  yang sudah disampaikan oleh guru yang lain, ini adalah pembelajaran  bagi kita semua. Dari keterangan dari Pak Nazar dan Pak Erry, kami  tegaskan ini dalam konteks pusaka. Dari konteksnya ini tidak hanya dari  prantacaranya saja, tapi dari bahasa Jawa yang benar itu pusaka. Apalagi  ini khusus untuk anak. Jadi, modul ini diganti bukan pranatacara, tapi  presenter Bahasa Jawa, sehingga bisa digunakan dalam konteks apapun  dengan Bahasa Jawa. Jika pranatacara itu bisa abstrak bagi siswa karena  bisa ada banyak acara juga. Terima kasih.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Terima kasih atas masukan Pak Yanto.<br />
Kita sudah kedatangan pakar psikologi tumbuh kembang anak. Dr. Indira  Laksmi Gamayanti. Semoga pengetahuan kita semua di sini semakin lengkap.</p>
<p>Ibu Gamayanti, kami sudah memulai simulasi bagaimana modul guru diterapkan oleh guru kepada siswanya.</p>
<p>Kita lanjutkan? Pak Daim?</p>
<p>Pak Daim akan menjelaskan kawasan Kotagede.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>M. Daim (eks SDN Kotagede I)</p>
<p>Salam,</p>
<p>Anak-anak  mari kita belajar tentang sejarah. Ini adalah bagian dari Ilmu  Pengetahuan Sosial (IPS). Kemarin sampai di mana? Kemarin kita kita  sampai, man?</p>
<p>Saya absen dulu ya kalian.</p>
<p>Seperti  yang kalian tahu di papan pengumuman, kita akan ada hiking menyusur  daerah mana ya.. Kita akan naik bus TransJogja menuju daerah dekat  terminal, menyusur Kotagede. Itu besok hari Kamis ya.</p>
<p>Siapa pernah ke Kotagede?</p>
<p>Pernah liat apa di Kotagede?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Anang Saptoto</p>
<p>Kenapa tidak pakai andong?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>M. Daim (eks SDN Kotagede I)</p>
<p>Mahal, Mas. Saya naik andong jarane ngentut piye hayo?</p>
<p>Kotagede  dulu ibukota kerajaan Mataram Islam didirikan oleh Panembahan Senopati.  Bisa membayangkan kraton seperti apa? Tahu alun-alun seperti apa?</p>
<p>Dari  alun-alun itu kita melihat ke selatan ada kraton. Melihat ke barat ada  apa? Masjid nggih, pinter. Kita akan melihat ke utara, ada apa? Gunung  Merapi, jauh ya? Ada kantor pos, ada tugu. Benteng bisa ya. Ada pasar  ya, Beringharjo. Setiap kraton Islam, di Indonesia, mesti harus ada  empat komponen. Nek cara jawa catur gatra, catur itu empat, gatra itu  komponen.</p>
<p>Satu, kraton, lalu alun-alun, masjid, dan pasar. Coba kita ulangi ya.</p>
<p>Mas Yanto coba</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sugiyanto (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Kraton, alun-alun, masjid, pasar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>M. Daim (eks SDN Kotagede I)</p>
<p>Kalau di Kotagede bagaimana, ya?<br />
Pasar itu untuk jualan ya. Pasar itu adalah kegiatan ekonomi, bertemunya  penjual dan pembeli. Dan copet ya. Jangan dikira copet itu tidak  berpikir tentang ekonomi. Copet itu juga masuk ke tatanan ekonomi.</p>
<p>Ada yang mau tanya?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ani Sulistyawati (SD Tarakanita Tritis)</p>
<p>Perak ada ya. Emas ada tidak?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>M. Daim (eks SDN Kotagede I)</p>
<p>Ada. Namun, tidak kita bahas lebih dalam. Saya akan ke kelas 4, kelas 5 nanti.</p>
<p>Ini  ada buku kecil tentang buku kecil tentang Kotagede dan sejarahnya. Nanti  bisa dilihat sendiri, banyak yang menarik. Nanti anak-anak pelajari  sendiri dan bukunya hanya terbatas, kiriman dari BPPI, belum bayar. Bisa  dipinjam di perpustakaan. Cukup buku 1 untuk 2 orang, gantian yang  baca. Maaf saya akan segera ke kelas 4, kebetulan bu guru kelas 4 sedang  layat. Sampai dengan pak guru yang datang jangan ramai ya. Ketua kelas,  tolong ambil bukunya di perpustakaan. Jumlahnya berapa?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Puji Lestari (SDN Selang)</p>
<p>Tugasnya?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>M. Daim (eks SDN Kotagede I)</p>
<p>Ini  kaitannya dengan pelajaran IPS. Namun, besok kita jalan-jalan. Kalian  akan lebih tahu budaya di sana, dengan baca dulu dari buku kecil. Nanti  kita lihat bentuk sebenarnya. Tidak usah dibayangkan, dibaca saja.</p>
<p>Cukup ya, mari kita akhiri pelajaran ini. Ingat, nanti jangan ramai sampai pelajaran berikutnya.</p>
<p>Salam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Terima kasih atas presentasi Pak Daim.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nazarius</p>
<p>Bagus, Pak! Gurunya guru kelas yang bersangkutan berhalangan dan beliau lewat kelas itu dan memberi pelajaran.</p>
<p>Saya  tidak melihat penggunaan modulnya, kecuali baca sendiri untuk modal  jalan-jalan. Selebihnya adalah orientasi. Menarik penjelasan di awal.  tekniknya luar biasa, dari tanya pengalaman siswa datang ke wilayah  kraton, atau menonton sekaten. Itu indah sekali.</p>
<p>Namun,  muaranya, minta siswa baca sendiri dan ditinggal. Pokoknya kaitannya  dengan IPS. Saya mendukung modul ini karena tidak pasti harus mengatakan  ini kaitannya dengan pelajaran apa. Saya rasa baik kita bisa tahu  Kotagede dan dengan sendirinya bisa tahu ada apa di Kotagede.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Terima kasih.</p>
<p>Kita  tadi sudah membahas berbagai macam detail dan sebagainya. Bu Gamayanti  siap memberikan komentar atau lanjut lagi? OK Pak Erry? Ok kita  lanjutkan dulu ya. Bu Gamayanti juga perlu dapat gambaran.</p>
<p>Selanjutnya? Miss Wulan, silakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sari Wulandari (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Salam</p>
<p>Kok belum semangat menjawabnya? Selamat pagi anak-anak?<br />
Kalau di bawah jam 12 pagi saja, ya?</p>
<p>Siapa yang tidak masuk angkat tangan!</p>
<p>Kemarin kita sudah selesai materi penjajahan Jepang. Sekarang kita mau ulangan atau game? Ya biar adil kita game dulu.</p>
<p>Berhitung dulu ya. Sekarang yang nomor ganjil di sebelah kiri Miss Wulan dan nomor genap di sebelah kanan Miss Wulan.</p>
<p>(3 orang per kelompok) tentukan bunyi bel-nya ya.</p>
<p>kanan:<br />
- Subur<br />
- Katiti<br />
- Daim</p>
<p>kiri:<br />
- Tukiman<br />
- Rumiyati<br />
- Risna</p>
<p>Kanan  mbek, kiri Moo. yang dapat nilai, aturannya pencet bell, tidak boleh  menjawab sebelum ditunjuk. Kalau tidak, soal dibatalkan.</p>
<p>Pertanyan pertama:<br />
Subur dan TKM (Tukiman) maju</p>
<p>Berapa lama Jepang menjajah Ina? 3,5 tahun.</p>
<p>Pertanyaan kedua:<br />
Katiti dan Rumiyati: di kota mana Jepang pertama kali mendarat di Indonesia?<br />
jawab: tidak ada yang menjawab</p>
<p>di Tarakan ya</p>
<p>Pertanyaan ketiga:<br />
Daim dan Risna maju. Apa nama tentara pemuda Indonesia yang membela Jepang?<br />
daim: Peta</p>
<p>mbek dapat poin lagi.</p>
<p>Pertanyaan keempat:<br />
TKM dan Subur, apa nama kerja paksa jaman Jepang?<br />
TKM: romusha</p>
<p>10 poin utk Moo</p>
<p>Silakan duduk, skornya, Moo dapat 10 poin, mbeek 20 poin.</p>
<p>Apakah kalian senang belajar? Belajar dengan senang?</p>
<p>Pertanyaan  terakhir tadi tentang romusha. Miss Wulan ada cerita tentang Romusha.  Kalian tahu selokan Mataram yang ada di selatan sekolah kita. Ternyata  Selokan Mataram ada hubungan dengan Romusha.</p>
<p>Tahu ngga apa hubungannya?</p>
<p>Coba temukan jawabannya sendiri, ada buku yang bisa kalian baca, dan nanti ganti kalian yang ceritakan ke Miss Wulan.</p>
<p>Miss Wulan kasih waktu 5 menit untuk membacanya. Cukup waktu lima menit? Sudah?</p>
<p>Ada yang mau cerita tidak, apa sebenarnya hubungan antara romusha dan sekolan Mataram?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>M. Daim (eks SDN Kotagede I)</p>
<p>Orang Jepangnya metenteng, orang-orang kita membuat sungai, dan itu hubungan agar orang Jepang bisa jadi mandornya orang Jawa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sari Wulandari (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Di buku seperti itu?</p>
<p>Coba Aa!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sugiyanto (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Hubungannya ada kerja paksa waktu membuat selokan Mataram.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sari Wulandari (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Memang  benar ternyata di masa Jepang itu Sri Sultan Hamengku Buwono IX punya  akal yang sangat cerdik, yakni mengajukan usul kepada Jepang untuk  membuat saluran air, seperti yang ada di buku yang kalian pegang tadi.</p>
<p>Ada pertanyaan dari situ? Oo gambarnya bagus.. iya. Gambarnya siapa? Temannya Miss Wulan.</p>
<p>Sekarang  kita belajar tentang romusha dan selokan Mataram. Tadi saya sudah  bicara sama Miss Nia, guru Bahasa Indonesia. Untuk acara tujuh belasan,  nanti kita akan tampilkan drama. Kalian bisa buat kelompok, dan  berlatih.</p>
<p>Kamu boleh mengembangkan ceritanya dan kostumnya seperti apa, bicarakan dengan kelompoknya.</p>
<p>Salim,  dengar?! Kamu mau jadi apa? Mau jadi Jepang. Kelompoknya Salim siapa,  siap ya. Kalian akan berlatih selama dua minggu dan akan dinilai oleh  Miss Nia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wigar</p>
<p>Ada yang bisa bahasa Jepang?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sari Wulandari (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Kamu bisa Wigar? Kamu bisa dijadikan tentara Jepangnya.<br />
Sudah, sekarang itu saja. Ada pertanyaan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>M. Daim (eks SDN Kotagede I)</p>
<p>Yang perempuan suruh apa?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sari Wulandari (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Ya tidak apa-apa, dandan jadi laki-laki.<br />
Ada yang bisa berperan di bawah panggung juga, tidak harus semua main. Jelas, Daim?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>M. Daim (eks SDN Kotagede I)</p>
<p>Ya, tapi besok di dekat selokan, Bu?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sari Wulandari (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Ide bagus untuk ditampilkan di sebelah selokan Mataram. Setuju? Ada lagi yang mau ditanyakan?</p>
<p>Kalau  ada pertanyaan kalian boleh tanya ke Miss Wulan setelah ini. Silakan  berkumpul dengan kelompok sendiri. Masih perlu bukunya, bisa dibawa  dulu, tapi harus dikembalikan. Sudah dulu ya.</p>
<p>Terima kasih</p>
<p>Salam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Terima kasih Miss Wulan, menarik sekali.<br />
Wulan tanya apakah yang menarik dari buku yang dibagikan. Ada yang menjawab gambarnya bagus. Itu bagus untuk ditanyakan.</p>
<p>Kami undang sekali lagi Pak Nzar untuk memberikan komentarnya dan sesudah itu Ibu Gamayanti.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nazarius</p>
<p>Pertama, yang penting yang saya tahu selokan Mataram itu yang bikin dari masa Jepang.</p>
<p>Terima  kasih. Sama juga menugaskan anak untuk membaca modul dan dari situ  menyusun naskah drama dan mementaskannya. Kira-kira akan dikaitkan  dengan pelajaran apa? IPS dan Bahasa Indonesia, ya? Properti bisa masuk  ke keterampilan. Budi Mulia Dua biasa memakai pendekatan tematik.</p>
<p>Dalam  simulasi ini saya tidak tahu, jika dikatakan Bahasa Indonesia, maka  siswa akan diajarkan untuk memilah isi teks modul dan menjabarkannya  dalam teks drama. Jika dalam IPS, modul bisa dibacakan dan siswa bisa  mengidentifikasi siapa tokoh pentingnya dan apa pesannya. Kalau pesan  saya, kalau orang Jawa tidak dipaksa ya tidak akan bikin apa-apa. Jika  bisa sampai ke sana, apa yang disampaikan oleh Pak Erry bisa masuk.</p>
<p>Kecenderungan  memasukkan pesan dalam modul itu ditempelkan saja. Namun, tidak ada  deksripsi yang memaparkan betapa lihainya leluhur itu bisa melakukannya.  Siswa hanya bisa tahu bahwa leluhur pandai, tapi tidak bisa mencecap  kelihaaian leluhur yang terdeksripsikan. Kecerdasan itu harus dipaparkan  agar hal itu bisa muncul dalam diri siswa.</p>
<p>Saya  tidak tahu apakah karena grogi, ada beberapa slip tongue.. seperti yang  tidak datang silakan tunjuk jari dan siapa pemenangnya. Memang disengaja  ya, agar menarik. Mas Salim ada masukan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Soal  konten, adalah menyeleksi konten mana yang layak masuk dan mana yang  tidak. Kasus selokan menjadi menarik karena harus diperiksa lagi apakah  itu benar romusha atau bagaimana. Sultan sebenarnya mau menyelamatkan  tenaga kerja yang mau dijadikan romusha ke Saigon. Saya hanya ingin itu  dicek dan dipastikan agar infomrasinya penting.</p>
<p>Bambu  juga harus dicek, bahwa anyaman itu tidak selalu terkait dengan kultur  bambu. Jika anyaman diselamatkan, harus ada langkahj bahwa bambu itu  juga harus diselamatkan tanamannya. Itu saja catatannya. Terima kasih</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Terima  kasih Pak Salim atas masukannya. Setelah sesi ini kita sampai pukul 12.  Setelah ulasan dari Bu Gamayanti kita ada waktu untuk diskusi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gamayanti</p>
<p>Salam,</p>
<p>Selamat  siang. Mohon maaf saya baru muncul di sini karena saya dan rombongan  saya sedang menyelenggarakan outbound bersama anak berkebutuhan khusus  untuk bisa mengendalikan emosi dan perilakunya. Sungguh tidak mudah  mengatur mereka untuk meminta mereka mengikuti perintah.</p>
<p>Menarik  sekali dan saya terima kasih pada teman-teman yang mengundang saya  untuk bergabung. Jika membuat modul untuk anak, saya kira memang ada  beberapa poin yang bsia disampaikan.</p>
<p>Pendidikan  di dalam kelas memang kita selalu mengacu pada koginitif, pemahaman.  Dalam hal ini saya sarankan ana-anak mengalami dulu dan merasakan.  Setelah itu memahami, setelah itu menggali lebih lanjut, mengeksplorasi  dan menyimpulkan. Akhirnya anak diharapkan memproduksi. Jadi, apa yang  dilakukan akan melekat. Apalagi yang dilakukan akan disisipkan dalam  kurikulum yang sudah ada. Hal seperti ini akan lebih enak jika tematik,  tidak terlepas.</p>
<p>Pertama,  saya atertarik, pada saat saya datang Pak Daim sudah di depan. Pak Daim  sudah menyampaikan dengan sangat menarik. Gaya bapak tetap sebagai  guru. Tema belajar sambil bermain belum tampak masuk. Lalu, saya masih  agak terbengong.</p>
<p>Untuk  Mba Wulan, saya kira kalau kita memulai dengan tebak tepat dulu, apakah  memang yang disampaikan yang sudah diajarkan. Tampaknya muridnya pada  bengong. Kemudian, saya kira dengan tebak tepat tadi temanya belum kena.  Mungkin yang diambil keyword yang akan diajarkan dan hal yang umum  dulu, misal siapa yang pernah ke Selokan Mataram. Tampaknya itu lepas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sari Wulandari (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Di  awal ada negosiasi, apakah mau ulangan atau game. Mungkin karena siswa  bukan mungkin yang sesungguhnya jadi tidak selaras. Waktu saya bagikan,  memang tidak kena karena tidak semua belum baca. Padahal intinya mereka  menceritakan kembali apa yang sudah mereka baca.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gamayanti</p>
<p>Pada  intinya dengan memancing melalui apa yang sudah pernah mereka alami,  seperti &#8220;Siapa yang sudah pernah kecemplung selokan?&#8221; Juga hati-hati  dengan anak membuat anak membuat naskah drama sejarah. Jika sudah  tertulis dan terperagakan dan datanya salah, maka pemahaman mereka akan  salah. Harus hati-hati agar pemahaman anak tidak terbelokkan, agar  kreativitas yang muncul tidak membelokkan fakta. Atau ada suatu cerita  sejarah yang bisa diaplikasikan dari fakta dulu orang membuat selokan  Mataram.</p>
<p>Lalu  juga penggunaan bahasa. Saya melihat guru selalu jadi panutan untuk  anak. Jika memakai Bahasa Indonesia, silakan membuat Bahasa Indonesia  yang baik dan benar, juga jika memakai bahasa Jawa. Misal, ada anak  memakai kata omah, omahe Sri Sultan. Itu harus diluruskan karena itu  salah. Dalam bahasa terkandung budaya dan pola pikir. Sementara mungkin  itu, dan bisa kita lanjutkan. Saya kembali selalu anak-anak merasakan.  Saya juga berpikir jika anak dimulai dengan memulia sesuatu, seperti  memilih mana kencur dan jahe, lalu menanamnya, juga merasakan, dan  menceritakan manfaatnya. Bisa juga dikelompokkan dalam kelompok kunir  dan jahe, dan jika dikelompokkan jadi jamu apa.</p>
<p>Terima kasih</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Terima kasih.</p>
<p>Memang  tujuan pendidikan pusaka adalah tidak hanya memberikan aspek kognitif,  tapi juga bisa mendorong anak bisa lakukan untuk aktif dalamn  pelestarian. Anak bisa dimulai dengan mulai merasakan sendiri.</p>
<p>Bapak  ibu guru bisa menerapkan modul sesuai masukan semua tadi dan menilai  efektivitasnya. Kami sangat ingin tahu seberapa dalam pengaruhnya jika  anak itu tahu dari teori dulu dan dari mulai dari merasakan pengalaman  dulu. Bapak ibu sekalian, ada waktu sekitar 10 menit.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Elanto Wijoyono</p>
<p>(resume)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nazarius</p>
<p>Saya beri sedikit catatan pada modulnya sendiri</p>
<p>Saya komentari apotek hidup dulu.<br />
Langgam tuturnya bagus untuk anak SD. Anak seperti diceritani. Akan  lebih optimal jika tidak masuk di awal dengan konsep, tapi dengan  pengalaman. Bisa dijembatani dengan pengalaman anak.</p>
<p>Kedua,  jika nanti judul akan dihilangkan, harus waspada pada perbedaan antar  paragraf. Jangan sampai satu paragraf terlalu penuh muatannya. Bisa  dipecah dalam beberapa paragraf.</p>
<p>Dalam  konteks jamu, tidak perlu nenek moyang. Bisa dengan nenek atau kakek  saja, tidak terlalu jauh masanya. Juga hati-hati dengan miss-concept.  Misal, jamu mudah didapatkan di pedesaan. Di kota juga cukup mudah  didapatkan dari yang penjual keliling.</p>
<p>Jangan  lupa tambahkan deskripsi umum per jenis tanaman atau jamunya. Apalagi  jika fotonya tidak sangat jelas. Kemudian, berkaitan dengan ini tadi,  kunyit dipakai untuk penyakit apa. Saya yakin, anak hanya akan berhenti  sebagai pengetahuan. Anak harus melukiskan campakmu seperti apa, dan  anak akan tergerak untuk melakukan sesuatu dengan tanaman obat itu.  Dibantu dengan ilustrasi akan sangat konkret.</p>
<p>Saya kira itu catatan dan bisa jadi masukan.</p>
<p>Tugas, di modul ada tugas, format lembar kerja bagus untuk disiapkan, sehingga modul bisa lebih optimal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gamayanti</p>
<p>Baik,  saya rasa untuk anak akan sangat menarik untuk mengalami dulu. Jadi,  penulisan modul bisa dimulai dari tugas. Misal, anak diminta bawa kencur  dan jahe dari rumah atau kebun sekolah.</p>
<p>Satu  modul yang menarik mengenai sakit campak dan sebagainya. Bisa dimulai  dari gejala yang ringan dulu, seperti pegal-pegal, atau batuk. Akan  lebih menarik bagi anak dengan ilustrasi. Dengan seperti ini, narasi  saja, kesannya akan sangat kognitif. Kurikulum kita sangat kognitif  sekali, afektifnya tidak pasti terkena, juga psikomotoriknya. Jika  dimulai dari pengalaman dulu rasanya akan lebih masuk ke anak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nazarius</p>
<p>Memang  belum ada kesepakatan model yang tunggal, luwes. Lebih banyak modul  sebagai referensi yang bisa dipelajari sendiri. Jai, saya beri masukan  dalam konteks seperti itu. Usulan Bu Gamayanti bagus untuk memberi  variasi standard dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM)-nya.  Kecuali bahwa modulnya sekaligus modul proses KBM. Jika langsung sebagai  modul KBM maka yang disampaikan oleh Bu Gamayanti tadi harus  disampaikan secara rinci.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gamayanti</p>
<p>Mengenai  tugas, walaupun anak dengan sistem Kurkulum Berbasis Kompetensi (KBK)  dengan tugas, anak tetap belum bisa dilepas dalam membaca sendiri. Anak  tetap memerlukan tangga pengalaman dan bimbingan dari orang dewasa untuk  belajar. Kemampuan anak pun dari teori perkembangan kognitif, anak  masih dalam fase operasional konkret, masih tetap harus dibantu, belum  bisa dilepas.</p>
<p>Matur nuwun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Terima kasih kepada tiga orang pembahas, Pak Erry, Pak Nazar, Pak Gamayanti.</p>
<p>Silakan untuk istirahat dan kembali kumpul pada pukul 13.00</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Pukul 12.09</p>
<p>Istirahat</p>
<p>Pukul 13.13</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Kita  akan lanjutkan dulu dengan diskusi bersama Ibu Gamayanti. Kita bisa  bahas apakah metode pengajaran itu sudah tepat belum diterapkan.</p>
<p>Apakah  dalam membuat modul itu kita juga pelru membuat ujicoba dan merekam  pendapat anak. Modul ini akan dibuat oleh seniman, tapi ada juga yang  digambar oleh siswa sendiri. Menurut pakarnya, bagaimana dampaknya  secara psikologis bagi anak.</p>
<p>Kita  juga memiliki beberapa format untuk modul, seperti cerita bergambar,  komik, atau esai foto. Menurut Ibu Gamayanti apakah setiap bentuk itu  memberi dampak pada siswa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gamayanti</p>
<p>Matur Nuwun</p>
<p>Saya  akan kembali pada awal bahwa anak-anak pada proses belajar penting untuk  mengalami, memahami, dan memproduksi. Jika memangapi mana yang lebih  baik, dari yang dibuat anak dan seniman? Semuanya baik, tergantng pada  tujuannya. Tujuannya agar anak tertarik. Akan sangat baik jika anak  kemudian mampu memproduksi. Anak yang sudah mampu memproduksi sesuatu  pasti pemahaman atas pengetahuan itu sudah lebih baik.</p>
<p>Apakah  modul perlu diujicobakan, jawabnya pasti. Orang dewasa sering melihat  dari sisi kita. Seberapa jauh anak memahami, belum tentu. Kita perlu  cobakan apakah anak menyenangi. Senang belum tentu paham. Paham pula  belum tentu senang. Saya kira demikian.</p>
<p>Contoh  saja, saya membuat satu modul untuk mensisitivasi emosi anak. Anak-anak  kita kurang asertif mengekspresikan emosinya. Kita cobakan pada anak  berapa tahun bisa paham pada modul tersebut, misal cocok untuk anak 6  tahun ke atas. Lalu, apakah cocok untuk anak usia remaja? Ternyata tidak  karena remaja menganggap modul itu kenak-kanakan. Bahasa dan topiknya  harus diubah.</p>
<p>Menurut saya, perlu ditentukan untuk anak usia kelas berapa. Itu penting.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hairus Salim</p>
<p>Lalu caranya menguji metodenya seperti apa?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gamayanti</p>
<p>Sama seperti uji validitas sebuah alat ukur atau kuesioner. Kita uji validitas tampang dan uji bahasa.</p>
<p>Modul  Bakpia SD Budi Mulia Dua, untuk kelas V ya rencananya. Ini perlu dicoba.  Kita tanyakan pada anak kelas IV, menurut mereka bagus dan menarik apa  tidak. Jika mereka bilang bagus, kita bisa tanya apa lagi yang perlu  ditambahkan agar lebih menarik.</p>
<p>Lalu apakah mereka bisa memahami isinya? Lihat dari segi bahasanya.</p>
<p>Untuk  melihat validitas isinya, perlu diujcobakan pada anak misalnya satu  kelas. Kita lalu tes pemahaman mereka apakah memang sudah tahu. Jika  kita tes pemahamannya, kembali lagi kita lihat kognitif saja, sedangkan  kita tidak mau hanya melihat hal itu. Tergantung konteksnya pula. Misal,  pelajaran Bahasa Jawa, yang anak tidak terlalu suka karena terlalu  banyak hafalan. Hal yg penting adalah aplikasinya sehari-hari.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Ada  lagi yang ingin menanyakan mengenai kasus yang ditemui selama KBM di  sekolah? Modul ini memang belum diujicobakan kepada siswa, mungkin ada  pengalaman lain?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gamayanti</p>
<p>Saya  juga belum menemukan padanan kata hiking. Mungkin kata jelajah bisa  dipakai. Jika kita mau berbahasa asing, harus dengan bahasa asing yang  baik dan benar juga.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>M. Daim (eks SDN Kotagede I)</p>
<p>Tanya  mengenai kecenderungan gambar, bahwa anak itu sekarang cenderung kartun  yang lebih menarik. Secara esensial, anak berapa anak senang gambar  seperti itu dan kapan anak senang gambar dengan gaya lain. Apakah itu  selera atau tata umur?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gamayanti</p>
<p>Anak  usia dini memang banyak dipahamkan dengan fabel, personifikasi beinatang  lebih mudah. ini untuk menghindari labeling, karena anak kadang masih  susah memisahkan kehidupan anak. Anak kadang masih sulit memilahkan itu.</p>
<p>Bentuk-bentuk  yang diwujudkan dalam binatang memang menarik untuk anak. Belakangan  ini menarik pula untuk kartun. Orang dewasa pun banyak yang suka. Saya  belum melakukan penelitian yang mendalam tentang kartun. Biasanya, hal  yang penting adalah karakterisasi dari kartun, binatang, atau wayang.  Itu tergantung dalangnya kan pak. Jika Sponge Bob itu sangat digemari  karena karakterisasinya yang hebat dan teknik menyampaikannya yang baik  dan tepat dapat diterima oleh anak-anak kita.</p>
<p>Jika  kita bisa buat karakter kartun wayang yang bagus, anak-anak bisa suka  juga. Kadang kalau kita bicara wayang terkadang sangat terlalu serius  dan berat buat anak. Kita bisa masukkan wayang dengan bahasa anak dan  nilai filosofisnya.</p>
<p>Kartun itu digemari dari anak dan orang dewasa.</p>
<p>Dalam  filosofi wayang, sebenarnya, ada karakter punakawan juga agar plesetan  dan ajaran yang sifatnya lepas dan bebas bisa masuk di sana. Jadi, tidak  terlalu mengikuti pakem yang ada.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>M. Daim (eks SDN Kotagede I)</p>
<p>Jadi,  dalam wayang memang Semar adalah personifikasi orang nusantara yang  penuh. Semar memang sulit ditata karakternya. Kecerobohan para dalang  yang tidak sadar banyak karakter yang bersifat kartun juga, tapi tidak  banyaak terpopulerkan seperti punakawan. yang berani menokohkah karakter  itu kebetulan Enthus. Namun, ketika dia menampilkannya, secara pakem  wayang tidak salah. Namun, penataan Enthus diubah proporsinya. Wayang  besar ke kecil dan kecil ke besar di kelirnya. Sacara pakem tidak salah,  tapi publik tidak terima. Kreativitas seni tercampur dengan tata hukum  dan tata kesopanan, sehingga  menutup kreativitas dalang yang sebenarnya  juga dagelan, sehingga mematikan unsur kreativitas. Jadi, wayang jadi  seperti terkubur tanpa sentuhan dagelannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gamayanti</p>
<p>Komentar  saya, Pak Enthus, sarunya yang kebablasan. Namun, saya setuju jika  muncul Pak Daim Dalang yang bisa memunculkan tokoh-tokoh wayang yang  menampilkan kisah Kotagede. Anak akan senang jika anak diajak bertualang  secara imajinatif. Saya coba membuat buku mengajarkan anak  mengekspresikan perasaannya. Saya membuat tokoh, saya akan bertualang  bersama Dodo. Dodo ini biasa saja, tapi kita bisa mengikuti  petualangannya sehari-hari. Misal, Dodo dinakali temannya dan dia bisa  mencari tahu apakah boleh marah atau tidak. Pak Daim bisa jadi dalang  tanpa harus dengan gaya sebagai guru mengajari siswanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Ada bentuk modul yang ingin dibuat, komik, cergam, dan esai foto. bagaimana dampaknya?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gamayanti</p>
<p>Kita  harus kaya teknik agar bisa saling melengkapi. Komik sangat asyik dan  setuju jika anak didorong membuat komik. Namun, harus disadari tidak  semua anak punya bakat dan kemampuan imajinasi tinggi untuk membuat  komik. Anak yang punya hobi fotografi, kita bisa meminta dia membuat  esai foto. Anak yang pandai bermain drama, bisa membuat skenario drama.</p>
<p>Pada sisi yang lain, pada asaat memberikan materi pada anak. Saya sarankan semua teknik ini dipakai agar lebih lengkap.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Ada lagi yang mau ditanyakan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sari Wulandari (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Anak-anak  biasanya suka sesuatu yang imajinasi. Sejauh mana kita bisa mengajak  anak berimajinasi, dengan kehati-hatian agar tidak terlalu jauh?  Imajinasi yang positif seperti apa?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gamayanti</p>
<p>Hati-hati  dalam konteks sejarah, agar jangan sampai anak memplesetkan cerita  sejarah, sengaja atau tidak sengaja, sesuai dengan persepsi dia. Konten  harus selalu di cek dan ricek agar tidak hilang. Namun, bagaimana anak  berkreasi itu kita bebaskan. Misal, dia mau menceritakan Kraton  Yogyakarta pada abad XVIII dan dipakaikan jeans mungkin tidak tepat.  Menurut saya jadi tidak lucu jika itu salah. Namun, dari apa yang di  masa lalu dan anak diimajinasikan jika terjadi di masa kini itu bisa  saja dan perlu kitatampung. Jika sudah keluar rel bisa kta kumpulkan  lagi dan kembalikan lagi. Beberapa anak memang ada yang imajinasinya  liar dan lepas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Terima kasih. Apakah tim kreatif juga akan menanyakan sesuatu?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sari Wulandari (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Seperti  di komik saya, ada beberapa yang satu diikuti dengan tugas meminta anak  menghasilkan sesuatu. satu lagi, kampanye dan mengajak. Dari segi  psikologi anak, tugas yang direkomendasikjan itu seperti apa sebagai  tindak lanjut dari membaca modul itu tadi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gamayanti</p>
<p>Kampanye  dan mengajak itu sah saja. Namun, ketika membuat modul itu pasti ada  tujuannya untuk apa dan sampai ke mana. Jika mengenalkan selokan Mataram  apakah hanya akan berhenti sampai anak athu sejarah selokan mataram,  atau hingga memancing anak memecahkan masalah yang kasusnya mungkin  serupa dengan kisah Selokan Mataram.</p>
<p>Saya  juga menambahkan jika kita menggambarkan yang dulu, anak juga suka  dengan romantisme masa lalu. Segala sesuatu yang pada zaman dahulu kala  itu sangat suka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Anak suka dongeng</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gamayanti</p>
<p>Anak jika sampai mengatakan jadul dalam konotasi maka pasti ada yang salah dengan cara penyampaian kita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Kita  sampai mendekati bahwa anak harus bisa mengambil kesetaraan antar apaa  yang ada di modul dengan yang ada di kenyataan di sekitarnya. Dengan  penjelasan Ibu Gamayanti kita akan bisa paham mengapa kita belajar  sejarah selokan Mataram dan ternyata itu pemecahan masalah bisa juga</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gamayanti</p>
<p>Kreativitasnya  bisa dilihat dari strategi Sultan yang daripada rakyatnya jadi romusha  maka dialihkan. Ini adalah kearifan dalam memecahkan masalah. Jadi,  belajar sejarah tidak hanya abelajar tahun saja. Belajar tahun untuk  relevansinya dalam kehidupan sehari-hari itu tidak ada. Lebih baik  mencari relevenasi nilai, bahwa pemimpin itu harus bijaksana dan tahu  kebutuhan rakyatnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Itulah pentingnya kenapa nilai-nilai harus dilestarikan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gamayanti</p>
<p>Kalau  buat soal sejarah, jangan sampai menanyakan angka tahun. Kecuali jika di  SMA atau jurusan sekolah. Paling tidak kurun waktunya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Ada lagi, semoga semakin tergali?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Suhadi Hadiwinoto</p>
<p>Pada  kehidupan di masa lalu, selalu ada muatan yang baik dan buruk. Dalam  berbagai agenda yang disampaikan kepada anak kadang kita lupa menyaring.  Kadang ada bagian yang tidak baik dan tidak sesuai dengan keadaan  sekarang untuk anak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gamayanti</p>
<p>Saya  kira benar, pelajaran sejarah memang harus melihat nilai-nilai yang  dipakai sampai sekarang. pusaka yang hanya disimpan di lemari dan  dikunci maka hanya akan jadi barang loakan. Pusaka harus dipegang terus  agar nilainya bisa dipakai terus.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Apakah dari tim BPPI ada masalah yang belum terpecahkan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Erry Utomo</p>
<p>Mengenai, dari tipografi untuk melihat kemampuan anak SD membaca, font yang tepat dan sebagainya?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gamayanti</p>
<p>Saya  tidak bisa menjawab pasti. Namun, untuk anak usia sampai kelas 3-4 itu  senang dengan gambar besar dan tidak banyak tulisan. Guru pun bisa  memancing anak untuk bercerita dengan gambar besar. anak sekarang banyak  yang takut untuk mengarang, dan banyak yang bingung. Kita orang dewasa  yang mungkin kurang waktu mendengarkan anak-anak bercerita,  mengekspresikan imajinasinya.</p>
<p>Ketika anak sudah bebas menyampiakan secara verbal, maka dia akan lebih mudah menyampaikannya secara tertulis.</p>
<p>Saya  juga mengamati komik-komik, terutama komik jepang. Komik dari Jepang itu  banyak yang terlalu penuh, dalam satu halaman dan alurnya bebas sekali.  Itu akan mempengaruhi alur berpikir anak untuk memusatkan perhatian.  Anak yang kesulitan memusatkan perthatian karena banyak stimulus yang  tidak teratur.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Tambahan lagi ilmunya, semoga bisa jadi masukan bagi tim kreatif untuk menerapkannya bisa mempertimbangkan segala masyukan tadi.</p>
<p>Ada lagi yang ingin ditanyakan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Darojah (SDN Bantul Manunggal)</p>
<p>Setelah  beberapa penjelasan, ada gambaran. Tentunya kita semua harus memikirkan  bahwa kita nanti bisa untuk diPRkan untuk membuat untuk usia kelas 1  dan 2 dan seterusnya. Tidak harus berkumpul, dan bisa digunakan untuk  belajar mempraktikkannya. Sebagai penulis, guru membuat draftnya, dan  nanti disempurnakan oleh tim BPPI.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gamayanti</p>
<p>Saya kira tidak hanya SD, TK pun juga penting.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aa (SD Budi Mulia Dua)</p>
<p>Mungkin  tidak berhubungan dengan modul. Studi kasus saja, saya punya siswa,  yang punya kecenderungan pasti tidak selesai ketika mengarang. Dia punya  gangguan konsentrasi. Saya dapat ilmu untuk selalu menyebutkan namanya  untuk mengingatkan. Namuan, ketika dipraktikkan tidak cukup efektif.  Apakah ada cara untuk menanggulanginya?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gamayanti</p>
<p>Untuk  anak yang punya gangguan pemusatan konsentrasi, perlu dilihat apakah  anak ini lebih dominan pada kemampuan verbal atau visualnya? Mengarang  itu termasuk mengekspresikan diri, dan termasuk tingkat tinggi. Jika  kita kita menuntut dia, maka bisa jadi terlal tinggi untuk dia. Mungkin  kit ameminta dia membuat kolase dulu, jiak tidak bisa menggambar, yang  bisa membentuk sebuah sekuen cerita untuk membantu dia meruntutkan alur  pikir dulu.</p>
<p>Lalu,  setelah itu, kita minta dia menceritakannya, dan kemudian bisa kita  minta dia menuliskannya. Anak yang kesulitan dalam bahasa teks, akan  menuliskannya sepotong-sepotong dulu, sangat deskriptif. Pelan-pelan  baru dikembangkan. Berkaitan dengan proses berpikir tentunya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Tampaknya di awal tidak terkait dengan modul tapi bisa dikaitkan dengan pemberian tugas dari modul untuk siswa ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gamayanti</p>
<p>Anak  sangat senang dengan kolase. Guru bisa menyiapkan setumpuk koran atau  majalah bekas. Anak bisa diminta mencari gambar mengenai pusaka  Indonesia dari sana, menempelkannya, dan kemudian menceritakannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Cara yang bisa kita lakukan ternyata cukup beragam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gamayanti</p>
<p>Tidak  cuma koran dan majalah. Bisa juga diminta untuk membawa jarik simbah  yang sudah lama untuk dibawa ke sekolah dan diceritakan di sekolah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Hal  itu sudah dilakukan di sekolah, ya Bu Puji. Ada lagi yang punya  pengalaman lagi yang mungkin bisa dikembangkan dalam program ini?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gamayanti</p>
<p>Mungkin saya ganti diajari?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nia Nugrahani</p>
<p>Jika sudah tidak ada lagi, mungkin ilmunya sudah banyak sekali.</p>
<p>Terima kasih kepada Ibu Gamayanti</p>
<p>Pukul 14.00</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Elanto Wijoyono dan Nia Nugrahani</p>
<p>Rencana Tindak Lanjut:</p>
<p>Juli:<br />
- kunjungan ke sekolah untuk mengumpulkan data acuan ilustrasi dan  dokumen profil SKKD sebelum gabung dalam program Pendidikan Pusaka</p>
<p>Agustus:<br />
- kunjungan ke sekolah untuk distribusi modul</p>
<p>Oktober:<br />
- Pertemuan Forum Guru Pendidikan Pusaka (Sabtu, 3 Oktober 2009 di SD Budi Mulia Dua, Sleman)</p>
<p>Desember:<br />
- Pertemuan Forum Guru Pendidikan Pusaka (Sabtu, 5 Desember 2009, tempat  ditentukan kemudian) &#8230; sekaligus sebagai pertemuan evaluasi akhir  sebelum Simposium Internasional di bulan Januari 2010</p>
<p>Tim Formatur Forum Guru Pendidikan Pusaka</p>
<p>Ketua: M. Daim (eks SDN Kotagede I, SDN Suryodiningratan II)<br />
Anggota (wakil per wilayah):<br />
- Sleman: Sari Wulandari (SD Budi Mulia Dua) &#8230; menggantikan Ibu Heppy Wijayanti (SD Tarakanita Tritis) yang tidak hadir<br />
- Kulon Progo: Nuryanti (SDN Kembang Malang)<br />
- Gunungkidul: Ganang Mursitandoyo (SDN Jragum)<br />
- Bantul: Kasmini (SDN Bantul Manunggal)<br />
- Kota Yogyakarta: Larah (SD Taman Muda Ibu Pawiyatan) &#8230; menggantikan Ibu Wahyu Nugraeni (SDN Ungaran I) yang tidak hadir</p>
<p>Pukul 15.07</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Suhadi Hadiwinoto</p>
<p>Penutup</p>
<p>Semoga  semangat ini bisa kita pelihara terus. Saya kira ada beberapa hal yang  perlu kita garap sebagai pekerjaan rumah (PR). Kita sudah jalan sejak  setahun yang lalu. Satu hal saya kira, bapak dan ibu sudah menerima buku  hijau, berisi gagasan pendidikan pusaka dan berbagai pemikiran mengenai  isi materi. Saya kira, sebelum kita melangkah lebih jauh lagi, kita  perlu komentar atas isi buku itu. Apakah memang baik diterapkan atau  terlalu mudah. Tanpa itu kita akan sulit untuk maju ke langkah  berikutnya.</p>
<p>Selain  menyelasikan PR sebagai sambungan pelatihan ini, bapak dan ibu guru  bisa menuliskannya dan menyampaikannya kepada kami. Bisa disampaikan ke  Mba Nia atau Mas Joyo.</p>
<p>Juga  penting untuk mengumpulkan profil silabus dan RPP di sekolah agar kita  tahu kemajuan yang kita lakukan di setiap sekolah. Kita perlu sadari  pula bahwa yang perlu kita jalani itu masih banyak sekali. Kami  persilakan melihat lagi pada buku hijau yang ada beragam gagasan di  sana. Semoga dalam bulan Agustus bisa kita tuntaskan.</p>
<p>Pembentukan  forum guru juga sangat penting karena akan jadi ujung tombak gerakan  pendidikan pusaka. Tadi telah dijelaskan bahwa ini tim persiapan  pembentukan forum guru. Di dalam itu silakan berembug lagi siapa yang  akan paling dianggap tepat menjadi pengurus. Diharapkan pembentukannya  bisa dideklarasikan pada akhir Juli besok pada saat seminar pendidikan  pusaka. Apa bentuknya lalu bisa menjelaskan tujuannya apa, agar jelas  kegiatannya. Semoga ada suatu draft sangat pendek mengenai anggaran  dasar. Saya bayangkan tidak cepat dilakukan, tapi paling tidak ada  pemikiran untuk mempersiapkan itu.</p>
<p>Terima kasih atas kehadiran teman-teman guru, Pak Erry, tim BPPI Yogyakarta, dan tim kreatif, semoga bisa berlanjut dengan baik.</p>
<p>Salam,</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendidikanpusaka.org/news/rekam-proses-pelatihan-penerapan-modul-seri-pendidikan-pusaka-untuk-anak.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agenda Pelatihan Penerapan Modul Pendidikan Pusaka untuk Anak</title>
		<link>http://pendidikanpusaka.org/agenda/agenda-pelatihan-penerapan-modul-pendidikan-pusaka-untuk-anak.html</link>
		<comments>http://pendidikanpusaka.org/agenda/agenda-pelatihan-penerapan-modul-pendidikan-pusaka-untuk-anak.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 11:23:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elanto Wijoyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>
		<category><![CDATA[desain]]></category>
		<category><![CDATA[modul pendidikan pusaka]]></category>
		<category><![CDATA[pelatihan]]></category>
		<category><![CDATA[tim kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendidikanpusaka.org/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Program Kerjasama Badan Pelestarian Pusaka Indonesia – Erfgoed Nederland Hari, tanggal: Sabtu – Minggu, 4 – 5 Juli 2009 Tempat: Ruang Pertemuan Wisma Magister Manajamen Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Peserta: guru dari 13 sekolah dasar peserta program di D.I. Yogyakarta Hari, tanggal Pukul Acara PIC Kebutuhan Catatan Sabtu, 4 Juli 2009 08.00 – 09.00 Daftar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Program Kerjasama Badan Pelestarian Pusaka Indonesia – Erfgoed Nederland </strong></p>
<p>Hari, tanggal: Sabtu – Minggu, 4 – 5 Juli 2009<br />
Tempat: Ruang Pertemuan Wisma Magister Manajamen Universitas Gadjah Mada Yogyakarta<br />
Peserta: guru dari 13 sekolah dasar peserta program di D.I. Yogyakarta</p>
<table border="0" cellspacing="0" frame="VOID" rules="NONE">
<colgroup>
<col width="131"></col>
<col width="102"></col>
<col width="275"></col>
<col width="130"></col>
<col width="177"></col>
<col width="108"></col>
</colgroup>
<tbody>
<tr>
<td width="131" height="29" align="CENTER" valign="MIDDLE" bgcolor="#ffcc99"><strong>Hari, tanggal</strong></td>
<td width="102" align="CENTER" valign="MIDDLE" bgcolor="#ffcc99"><strong>Pukul</strong></td>
<td width="275" align="CENTER" valign="MIDDLE" bgcolor="#ffcc99"><strong>Acara</strong></td>
<td width="130" align="CENTER" valign="MIDDLE" bgcolor="#ffcc99"><strong>PIC</strong></td>
<td width="177" align="CENTER" valign="MIDDLE" bgcolor="#ffcc99"><strong>Kebutuhan</strong></td>
<td width="108" align="CENTER" valign="MIDDLE" bgcolor="#ffcc99"><strong>Catatan</strong></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="6" height="17" align="CENTER" valign="MIDDLE"></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="27" height="749" align="LEFT" valign="TOP" bgcolor="#e6e6e6"><strong>Sabtu, 4 Juli 2009</strong></td>
<td rowspan="3" align="LEFT" valign="TOP">08.00 – 09.00</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">Daftar ulang</td>
<td rowspan="3" align="LEFT" valign="TOP">Sinta Carolina, Yeni Paulina</td>
<td rowspan="3" align="LEFT" valign="TOP">daftar hadir, fotokopi jadwal acara, petunjuk ke arah kamar dan ruang pertemuan</td>
<td rowspan="3" align="LEFT" valign="TOP">Modul guru dikumpulkan (file/cetak) untuk diperbanyak (print dan fotokopi) sebelum acara</td>
</tr>
<tr>
<td align="LEFT" valign="TOP"><em>Check-in peserta</em></td>
</tr>
<tr>
<td align="LEFT" valign="TOP"><em>coffee morning</em></td>
</tr>
<tr>
<td align="LEFT" valign="TOP">09.00 – 09.10</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">Pembukaan</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">Anggi Minarni</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">microphone</td>
<td align="LEFT" valign="TOP"></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" align="LEFT" valign="TOP">09.10 – 09.30</td>
<td rowspan="2" align="LEFT" valign="TOP">Presentasi: Penyusunan Modul Seri Pendidikan Pusaka untuk Anak</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">D.S. Nugrahani</td>
<td rowspan="2" align="LEFT" valign="TOP">laptop, LCD proyektor, screen, microphone</td>
<td rowspan="2" align="LEFT" valign="TOP"></td>
</tr>
<tr>
<td align="LEFT" valign="TOP">Elanto Wijoyono</td>
</tr>
<tr>
<td align="LEFT" valign="TOP">09.30 – 10.00</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">Presentasi: Standard Kurikulum Pendidikan Dasar untuk Pendidikan Pusaka</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">Erry Utomo</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">laptop, LCD proyektor, screen, microphone</td>
<td align="LEFT" valign="TOP"></td>
</tr>
<tr>
<td align="LEFT" valign="TOP">10.00 – 10.30</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">Diskusi</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">Moderator: Melati Anastasia</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">microphone</td>
<td align="LEFT" valign="TOP"></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" align="LEFT" valign="TOP">10.30 – 12.00</td>
<td rowspan="2" align="LEFT" valign="TOP">Presentasi Panel: Modul Pendidikan Pusaka untuk Anak</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">Guru</td>
<td rowspan="2" align="LEFT" valign="TOP">laptop, LCD proyektor, screen, microphone</td>
<td rowspan="2" align="LEFT" valign="TOP">@ 15 menit = 5 modul</td>
</tr>
<tr>
<td align="LEFT" valign="TOP">Moderator: Hairus Salim</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="4" align="LEFT" valign="TOP">12.00 – 13.00</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">Istirahat</td>
<td rowspan="4" align="LEFT" valign="TOP">Sinta Carolina, Yeni Paulina</td>
<td rowspan="4" align="LEFT" valign="TOP">petunjuk ke arah kamar, ruang makan, dan mushola</td>
<td rowspan="4" align="LEFT" valign="TOP">Peserta yang belum check-in dipandu</td>
</tr>
<tr>
<td align="LEFT" valign="TOP">Sholat</td>
</tr>
<tr>
<td align="LEFT" valign="TOP">Makan siang</td>
</tr>
<tr>
<td align="LEFT" valign="TOP"><em>Check-in peserta</em></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="3" align="LEFT" valign="TOP">13.00 – 15.00</td>
<td rowspan="3" align="LEFT" valign="TOP">Presentasi Panel: Modul Pendidikan Pusaka untuk Anak</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">Guru</td>
<td rowspan="3" align="LEFT" valign="TOP">laptop, LCD proyektor, screen, microphone</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">@ 15 menit = 5 modul</td>
</tr>
<tr>
<td align="LEFT" valign="TOP">Hairus Salim dan Melati Anastasia</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">@ 15 menit = 2 modul</td>
</tr>
<tr>
<td align="LEFT" valign="TOP">Moderator: Hairus Salim</td>
<td align="LEFT" valign="TOP"></td>
</tr>
<tr>
<td align="LEFT" valign="TOP">15.00 – 15.30</td>
<td align="LEFT" valign="TOP"><em>Coffee break</em></td>
<td rowspan="2" align="LEFT" valign="TOP"></td>
<td rowspan="2" align="LEFT" valign="TOP">petunjuk ke arah mushola</td>
<td rowspan="2" align="LEFT" valign="TOP"></td>
</tr>
<tr>
<td align="LEFT" valign="TOP"></td>
<td align="LEFT" valign="TOP">Sholat</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="3" align="LEFT" valign="TOP">15.30 – 17.00</td>
<td rowspan="2" align="LEFT" valign="TOP">Tinjauan Modul Seri Pendidikan Pusaka untuk Anak</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">Suhadi Hadiwinoto</td>
<td rowspan="3" align="LEFT" valign="TOP">laptop, LCD proyektor, screen, microphone</td>
<td rowspan="3" align="LEFT" valign="TOP"></td>
</tr>
<tr>
<td align="LEFT" valign="TOP">Erry Utomo</td>
</tr>
<tr>
<td align="LEFT" valign="TOP">Diskusi</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">Moderator: Hairus Salim</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="3" align="LEFT" valign="TOP">17.00 – 19.00</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">Istirahat</td>
<td rowspan="3" align="LEFT" valign="TOP"></td>
<td rowspan="3" align="LEFT" valign="TOP">petunjuk ke arah ruang makan dan mushola</td>
<td rowspan="3" align="LEFT" valign="TOP"></td>
</tr>
<tr>
<td align="LEFT" valign="TOP">Sholat</td>
</tr>
<tr>
<td align="LEFT" valign="TOP">Makan malam</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" align="LEFT" valign="TOP">19.00 – 21.00</td>
<td rowspan="2" align="LEFT" valign="TOP">Pendampingan penyelesaian Modul Seri Pendidikan Pusaka untuk Anak</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">Guru</td>
<td rowspan="2" align="LEFT" valign="TOP">13 laptop untuk setiap sekolah, 1 laptop untuk tim kreatif, printer, scanner, kamera digital, fotokopi draft modul yang sudah siap (untuk pembahasan),  white board, spidol besar, kertas plano, kertas HVS, materi referensi</td>
<td rowspan="2" align="LEFT" valign="TOP"></td>
</tr>
<tr>
<td align="LEFT" valign="TOP">Fasilitator: Tim Pendidikan Pusaka BPPI dan Tim Kreatif</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="6" height="17" align="CENTER" valign="MIDDLE"></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="14" height="399" align="LEFT" valign="TOP" bgcolor="#e6e6e6"><strong>Minggu, 5 Juli 2009</strong></td>
<td align="LEFT" valign="TOP">08.00 – 09.00</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">Makan pagi</td>
<td align="LEFT" valign="TOP"></td>
<td align="LEFT" valign="TOP"></td>
<td align="LEFT" valign="TOP"></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="4" align="LEFT" valign="TOP">09.00 – 12.00</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">Presentasi dan Ujicoba Simulasi Penerapan Modul Pendidikan Pusaka untuk Anak hasil penyelesaian Hari I</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">Guru</td>
<td rowspan="3" align="LEFT" valign="TOP">laptop, LCD proyektor, screen, microphone</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">@ 1 jam = 3 simulasi modul oleh sekolah yang paling siap</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" align="LEFT" valign="TOP">Tinjauan atas ujicoba simulasi modul</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">Gamayanti</td>
<td align="LEFT" valign="TOP"></td>
</tr>
<tr>
<td align="LEFT" valign="TOP">Nazarius</td>
<td align="LEFT" valign="TOP"></td>
</tr>
<tr>
<td align="LEFT" valign="TOP">Diskusi</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">Moderator: D.S. Nugrahani</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">microphone</td>
<td align="LEFT" valign="TOP"></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="3" align="LEFT" valign="TOP">12.00 – 13.00</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">Istirahat</td>
<td rowspan="3" align="LEFT" valign="TOP"></td>
<td rowspan="3" align="LEFT" valign="TOP">petunjuk ke arah ruang makan dan mushola</td>
<td rowspan="3" align="LEFT" valign="TOP"></td>
</tr>
<tr>
<td align="LEFT" valign="TOP">Sholat</td>
</tr>
<tr>
<td align="LEFT" valign="TOP">Makan siang</td>
</tr>
<tr>
<td align="LEFT" valign="TOP">13.00 – 13.30</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">Peresmian Forum Guru Pendidikan Pusaka – Yogyakarta dan pembagian sertifikat</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">Moderator: Elanto Wijoyono</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">microphone</td>
<td align="LEFT" valign="TOP"></td>
</tr>
<tr>
<td align="LEFT" valign="TOP">13.30 – 15.00</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">Perencanaan Penerapan Kegiatan Semester II (kickoff meeting)</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">Moderator: Elanto Wijoyono</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">microphone</td>
<td align="LEFT" valign="TOP"></td>
</tr>
<tr>
<td align="LEFT" valign="TOP">15.00 – 15.30</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">Penutup</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">Suhadi Hadiwinoto</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">microphone</td>
<td align="LEFT" valign="TOP"></td>
</tr>
<tr>
<td align="LEFT" valign="TOP">15.30 – 16.00</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">Peserta check-out dan pulang</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">Sinta Carolina, Yeni Paulina</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">daftar peserta</td>
<td align="LEFT" valign="TOP"></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" align="LEFT" valign="TOP">16.00 – 18.00</td>
<td rowspan="2" align="LEFT" valign="TOP">Pertemuan Teknis Tim Pendidikan Pusaka BPPI dan Tim Kreatif</td>
<td align="LEFT" valign="TOP">Tim Pendidikan Pusaka BPPI</td>
<td rowspan="2" align="LEFT" valign="TOP">laptop, LCD proyektor, screen, microphone, white board, spidol besar, kertas plano, kertas HVS, draft modul per sekolah, materi referensi</td>
<td rowspan="2" align="LEFT" valign="TOP"></td>
</tr>
<tr>
<td align="LEFT" valign="TOP">Tim Kreatif</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendidikanpusaka.org/agenda/agenda-pelatihan-penerapan-modul-pendidikan-pusaka-untuk-anak.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pertemuan Tim Kreatif Pendidikan Pusaka</title>
		<link>http://pendidikanpusaka.org/news/pertemuan-tim-kreatif-pendidikan-pusaka.html</link>
		<comments>http://pendidikanpusaka.org/news/pertemuan-tim-kreatif-pendidikan-pusaka.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 11:17:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elanto Wijoyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Liputan]]></category>
		<category><![CDATA[desain]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<category><![CDATA[modul]]></category>
		<category><![CDATA[tim kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendidikanpusaka.org/?p=95</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin sore, Senin (29/06/2009), ada pertemuan lagi dengan tim kreatif untuk produksi seri modul pendidikan pusaka. Dari tim pendidikan pusaka ada aku (Elanto Wijoyono), Mbak Melati, Mbak Sinta, dan Mbak Yeni. Teman-teman tim kreatif kita yg datang ada 5 orang; Anang, Imam, Wigar, Ade, dan Moki. Kami merapat selama dua jam, pukul 16.30 &#8211; 18.30 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kemarin sore, Senin (29/06/2009), ada pertemuan lagi dengan tim kreatif untuk produksi seri modul pendidikan pusaka. Dari tim pendidikan pusaka ada aku (Elanto Wijoyono), Mbak Melati, Mbak Sinta, dan Mbak Yeni. Teman-teman tim kreatif kita yg datang ada 5 orang; Anang, Imam, Wigar, Ade, dan Moki. Kami merapat selama dua jam, pukul 16.30 &#8211; 18.30 di CHC Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada. Kami sudah mempelajari karakter ilustrasi dan desain dari setiap calon anggota tim kreatif ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasil rapat meliputi:<br />
1. Konsep modul akan diproduksi dengan pendekatan cerita binatang (fabel). Setiap materi dari setiap modul akan dikemas sebagai fabel utk narasi utama, dengan tetap menampilkan karakter manusia dan latar belakang saujananya yg saling melengkapi.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Tim akan meninjau draft materi setiap judul modul pada tanggal 5 Juli 2009, usai workshop. Hasil tinjauan itu akan menentukan suatu modul akan diproduksi sebagai cerita bergambar, komik, atau tipe lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">3. Pembagian tugas tim kreatif:</p>
<p style="text-align: justify;">Storyboard/guideline artist: Anang Saptoto<br />
Ilustrator: Ade, Moki/Prihatmoko Catur, Wigar, Imam Nazaruddin<br />
Desainer grafis: Anang Saptoto, Carlos Iban<br />
Scriptwriter (untuk komik): Ria Papermoon<br />
Editor: Sinta Carolina</p>
<p style="text-align: justify;">4. Setiap satu judul modul akan dibuat oleh satu ilustrator utama, dibantu oleh tim ilustrator lainnya, berdasarkan storyboard/guideline yangg sudah disediakan di awal.</p>
<p style="text-align: justify;">5. Tim kreatif akan bekerja selama bulan Juli, mulai dari keikutsertaan mereka dalam workshop tanggal 4-5 Juli 2009. Tim kreatif wajib hadir dalam workshop 2 hari itu agar mereka bisa dapat pembekalan prinsip pengajaran materi untuk anak, dan bisa berkomunikasi langsung dengan guru dan tim penulis modul. Setelah itu, tim akan bekerja sesuai bagian kerja masing-masing dan bekerja bersama di ruang CHC JUTAP UGM (lantai bawah) pada setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat pada jam kerja (selama bulan Juli 2009).</p>
<p style="text-align: justify;">6. Review akan dilakukan pada setiap minggu sekali, dipimpin oleh aku dan Mba Sinta bersama tim kreatif.</p>
<p style="text-align: justify;">7. Dijadwalkan ada minimal 2 (dua) kali roadshow keliling SD dan daerah sekitarnya untuk mengumpulkan referensi foto dan gambar selama bulan Juli 2009. Tim kreatif ikut dalam roadshow tersebut untuk bisa mendapatkan referensi langsung yang diperlukan untuk ilustrasi modul. Jadwal akan ditentukan kemudian, usai workshop, sesuai dengan kebutuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">8. Minggu I Agustus 2009 ditargetkan dummy modul sudah terbentuk dan siap cetak.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampun</p>
<p style="text-align: justify;">Elanto Wijoyono</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendidikanpusaka.org/news/pertemuan-tim-kreatif-pendidikan-pusaka.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peninjauan Penerapan Program (16 Mei 2009)</title>
		<link>http://pendidikanpusaka.org/news/peninjauan-penerapan-program-16-mei-2009.html</link>
		<comments>http://pendidikanpusaka.org/news/peninjauan-penerapan-program-16-mei-2009.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 May 2009 11:03:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Liputan]]></category>
		<category><![CDATA[Kulon Progo]]></category>
		<category><![CDATA[Sleman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendidikanpusaka.org/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[Tim yang maju ke medan kunjungan lapangan kali ini adalah Mbak Anggi, Mbak Dwita, Yeni, Shinta, Nia, Melati, Joy, dan Mas Salim (hehehe kali ini Joyo punya saingan, biasanya dia paling guanteng&#8230;) Agenda tinjauan lapangan: 1.  sosialisasi guideline penulisan modul murid (seri pusaka untuk anak) 2.  monitoring pelaksanaan HED 3.  sosialisasi agenda HED ke depan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">Tim yang maju ke medan kunjungan lapangan kali ini adalah Mbak Anggi, Mbak Dwita, Yeni, Shinta, Nia, Melati, Joy, dan Mas Salim (hehehe kali ini Joyo punya saingan, biasanya dia paling guanteng&#8230;)</p>
<p style="text-align: justify">Agenda tinjauan lapangan:</p>
<ol style="text-align: justify">
<li>1.  sosialisasi <em>guideline</em> penulisan modul murid (seri pusaka untuk anak)</li>
<li>2.  monitoring pelaksanaan HED</li>
<li>3.  sosialisasi agenda HED ke depan : rencana workshop; implementasi modul murid, internasional seminar</li>
</ol>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Rombongan paling besar berangkat dari ndalem Mangkubumen, jam 05.45 pak Budi (driver) sudah siap dengan L-300 nya yang berwarna ijo pupus (pak Budi pinter pilih warna yang seger, kaya jus alpukat!), jam 6.10 kita sudah bergerak menuju utara,  menjemput Yeni, lalu Dwita, dan terakhir Shinta. seneng deh&#8230;karena semua sudah ready saat dijemput&#8230;.yuk, mulailah perjalanan panjang ke Turgo. Angin sejuk membuat semua bersemangat, meskipun ada yang sedikit kantuk karena harus bangun pagi-pagi, mas Salim bahkan belum sempat tidur karena semalam ronda&#8230;..</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify"><strong>SD Tarakanita Tritis, Sleman</strong></p>
<p style="text-align: justify">Sekolah yang pertama kita kunjungi adalah SD Tarakanita Tritis. Walau udara masih dingin, ketika kami sampai, tetapi anak-anak di SD Tritis sudah beraktivitas, ada yang belajar di kelas (antara lain sedang belajar Bahasa Jawa) dan ada juga yang di luar kelas, belajar menari di halaman sekolah.Seperti biasa, anak-anak menyambut kami, juga bapak dan ibu guru yang lain, bahkan bapak pengurus rumah tangga sekolah. Kami disambut bu Ani, yang selalu manis, hangat dan renyah&#8230;. (kali ini bapak kepala sekolah tidak hadir, karena sedang ada acara). hehehe teh-nya juga manis dan hangat&#8230;membuat kita semua jadi melek dan segaaa&#8230;r!</p>
<p style="text-align: justify">Bu Ani sudah siap dengan draf Modul Pusaka untuk anak, judulnya Jelajah Pusaka ke Bukit Turgo&#8230;.modulnya menarik dan lucu, karena dibuat dengan format komik. Bu Ani bekerjasama dengan bapak guru yang mengajar melukis di sekolah. Tidak hanya itu, beliau berdua juga menciptakan tokoh-tokoh yang menjadi tokoh utama di dalam komik modulnya&#8230;..saya yakin anak-anak pasti akan senang membacanya (terima kasih ya bu Ani dan pak &#8230;?). Mungkin Shinta bisa tambahkan foto komik yang dibuat bu Ani dan koleganya. Bu Ani masih merencanakan untuk menulis modul yang lain, yaitu Jelajah Pusaka Alam di Kebun Salak- yang menjadi unggulan agrowisata di Sleman- dan Toga (tanaman obat keluarga)&#8230;.kami tunggu ya bu.</p>
<p style="text-align: justify">Selain sosialisasi guideline penulisan modul, kami juga melakukan monitoring pelaksanaan heritage education (HED)</p>
<ol style="text-align: justify">
<li>1. Rencana bulan Mei (memasak makanan tradisioal) tidak dapat terlaksana, karena pada bulan itu semua guru terfokus pada persiapan untuk menghadapi UAS</li>
<li>2. Pertanyaan dari Yayasan: Yayasan merasa gamang, apakah ada sesuatu dibalik program HED, karena Yayasan menganggap objektif HED belum jelas. Walaupun diakui bahwa substantif HED sejalan dengan program Yayasan yang bekerjasama dengan Kanopi.</li>
<li>3. Pertanyaan lain muncul dari korcam (UPTD): apakah HED sudah mendapat persetujuan dari Dinas?</li>
<li>4. Atas dasar kegamangan tersebut (poin 2 dan 3) maka sekolah memutuskan tidak mengagendakan HED dalam rancangan pembelajaran 2009-2010. Bila sudah ada acc dari Dinas, maka tahun ajaran berikutnya (2011-2012) dapat diagendakan.</li>
<li>5. Untuk pelaksanan workshop diusulkan tanggal 4-5 Juli.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify">Setelah berdiskusi tentang berbagai hal, dan tentu saja menikmati teh hangat yang manis, <em>klethikan</em> yang renyah, juga kue klepon-jadah-baceman yang legit, kami harus melanjutkan perjalanan ke Kulon Progo, yang jaraknya lumayan jauh dari Turgo. Perjalanan dari Turgo ke Kulon Progo telah merubah colt hijau pupus menjadi ruang sidang DPR yang dihangatkan oleh diskusi berbagai topik&#8230;.mulai dari mode, kuliner, hingga berbagai pemikiran kenegaraan&#8230;.Saking serunya, tidak terasa sampailah rombongan ke SD Wonorejo I (kalau disuruh menjelaskan route Turgo-Wonorejo ?  hehehe &#8230;&#8230;. <em>pokoke pejah gesang nderek</em> pak Budi deh!)</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify"><strong>SDN Wonorejo I dan II, Kulon Progo</strong></p>
<p style="text-align: justify">Di Wonorejo I kita disambut sejumlah bapak dan ibu guru, paling bersemangan tentu ibu Rumiyati. Ibu Katiti dari SD Wonorejo II juga bergabung. Untuk Modul Murid, baik ibu Rumiyati mauun Ibu Katiti belum siap, tapi beliau berdua siap menulis modul tentang seni anyaman tradisional di Kulonprogo.  Ibu Rumiyati akan menulis  cara membuat berbagai anyaman (sudah diajarkan dalam SBK), sedangkan ibu Katiti akan menulis   berbagai jenis barang anyaman yang digunakan dalam kehidupan masyarakat Kulon Progo. Sebagai masyarakat yang berbasis pertanian, berbagai wadah dari anyaman bambu memegang peranan penting, karenanya layak untuk diketahui oleh murid. Keberadaan berbagi jenis anyaman berkait erat dengan kelestarian tanaman bambu, yang juga terkait dengan aspek lain, misalnya konservasi sumber daya air.</p>
<p style="text-align: justify">Ibu Rumiyati menunjukkan berbagai karya murid, ada berbagai topeng yang dibuat dari kardus bekas. Topengnya lucu-lucu&#8230;.saking menariknya, tak satupun anggota bala roadshow yang melewatkan acara berpose dengan topeng&#8230;.ibu Rumi dan ibu Katiti tak mau kalah juga, berpose bersama Joyo dengan mengenakan topeng! Karya lain yang tak kalah menaiknya adalah pemanfaatan berbagai biji-bijian untuk membuat karya seni, juga pelajaran menyanyam dengan kertas! Wayang kardus buatan istri bapak kepala sekolah yang disungging oleh beberapa murid sangat luar biasa&#8230;..terlebih, wayang tersebut (terdiri atas tokoh Arjuna dan Punokawan) digunakan sebagai peraga untuk mengajarkan Bahasa Jawa dan Unggah-ungguh. Rasanya tepat sekali&#8230;.dapat dibayangkan bagaimana para Punakawan berbicara dengan majikannya Arjuna dan sebaliknya.</p>
<p style="text-align: justify">Pelaksanaan HED di kedua sekolah tersebut agak tersendat, terutama yang direncanakan pada bulan April-Mei, karena sekolah memfokuskan diri pada persiapan UAS. Perlu diketahui bahwa kedua ibu yang tergabung dalam FGP2 (Forum Guru Pendidikan Pusaka) adalah guru kelas 6, sehingga menjelang UAS tidak dapat melaksanakan program HED yang sudah direncanakan. Kartinian di SD Wonorejo I, yang direncanakan menjadi media HED untuk tema pusaka pakaian tradisional tidak terlaksana. Sementara di Wonorejo II, ibu Katiti hanya meminta sepasang muridnya untuk mengenakan pakaian tradisional pada saat hari Kartini, sehingga ibu Katiti dapat menjelaskan seluk-beluk pusaka pakaian tradisional Jawa. Program lain yang menjadi bagian dari pelajaran SBK adalah karawitan, tari, dan tanjidor yang akan digalakkan setelah ujian akhir daerah, akan dipentaskan pada acara perpisahan sekolah. Di Wonorejo I ibu Rumiyati giat mengajarkan pusaka keluarga, menurut beliau murid-murid dapat menggambar berbagai jenis pusaka keluarganya.</p>
<p style="text-align: justify">Sosialisasi HED di lingkungan kedua sekolah tersebut belum pernah dilaksanakan, sehingga pelaksanaannya masih bertumpu pada guru yang tergabung dalam FGP2. Kepala sekolah mendukung, tetapi UPTD tidak tahu menahu, shingga tidak ada keberatan. Keberatan masih sebatas undangan yang tidak melalui Dinas. Kedua sekolah setuju, kalau workshop diadakan pada tanggal 4-5 Juli.</p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify"><strong>SDN Kembangmalang, Kulon Progo</strong></p>
<p style="text-align: justify">Sekolah beikutnya yang kami kunjungi adalah SD Kembangmalang. kami disambut sapa ramah bapak kepala sekolah dan senyum renyah ibu Nur dan Ibu Ero&#8230;.tentu beberapa ibu dan bapak guru lainnya. Kami diterima di ruang tamu di teras belakang, dengan latar kebun apotik hidup&#8230;.. yang jadi unggulan sekolah ini, dan menjadikan SD kembangmalang menjadi SD Adiwiyata. Kami langsung &#8216;pomah&#8217; (<em>feel at home)</em>&#8230;. karena suasananya sangat nyaman, apalagi ditemani teh manis hangat dan kue-kue legit yang mengundang selera (lapar!).</p>
<p style="text-align: justify">Bapak kepala sekolah dengan semangat menyatakan dukungannya terhadap program HED, karena substansi HED sebenarnya sudah mereka miliki, meskipun fokusnya masih lebih berat kepada pusaka alam. Dengan adanya program HED, sekolah mempunyai kesempatan untuk memberikan porsi yang seimbang kepada pusaka budaya, dan mulai menyentuh pusaka saujana. Dalam progran jelajah pusaka ke Makam Giriganda, ibu Nur tidak hanya mengenalkan unsur pusaka budaya teraga, tak teraga, tetapi juga pusaka alam, bahkan pusakan saujana kepada murid-muridnya.</p>
<p style="text-align: justify">Ibu Nur sudah siap dengan draft modul murid tentang pusaka alam, judulnya adalah Apotik Hidup dan Pengobatan tradisional. Pada saat kami berkunjung, kami diajak ke kelas Ibu Nur yang sedang belajar tentang karawitan. Karena sekolah ini belum mempunyai gamelan, maka pelajaran karawitan diawali dengan pengenalan berbagai jenis gamelan. Pelajaran ini menempel pada pelajaran menggambar, sehingga dalam pelajaran menggambar murid-murid diberi tugas untuk menggambar berbagai jenis gamelan dengan sumber acuan buku Modul Rincian Gamelan. Tahap selanjutnya adalah menabuh gamelan, yang akan dilaksanakan dengan melibatkan peran serta warga masyarakat, yaitu Ibu Gito (istri dalang Sugito) yang tinggal tidak jauh dari sekolah, yang mempunyai gamelan serta mengizinkan gamelannya untuk belajar murid-murid SD Kembangmalang.</p>
<p style="text-align: justify">Dalam kelas ibu Nur (kelas 5) kami juga disuguhi karya murid, berupa pemanfaatan sampah plastik gelas air kemasan. Gelas bekas air kemasan telah disulap menjadi tutup makanan yang sangat cantik. Juga kalung-kalung cantik yang dibuat dari sampah kertas. Tidak heran jika sekolah ini pernah mendapat piala Adiwiyata. Sekolah ini juga punya tempah sampah yang sudah dipilah-pilah lho, sampah kerta dipisahkan dari sampah botol (kaca), kaleng, dan yang lainnya&#8230;&#8230;.keren ya?.</p>
<p style="text-align: justify">Pelaksanaan HED belum ada kendala, bapak kepala sekolah sangat mendukung. Beliau juga menjadi juru bicara tentang HED kepada UPTD. UPTD belum ada penolakan, tetapi juga belum menyatakan dukungannya.</p>
<p style="text-align: justify">Setuju kalau pelaksanaan workshop pada tanggal 4-5 Juli. Setelah puas berkeliling melihat kebun apotek hidup, akhirnya kami harus pamit.  Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30. Sudah saatnya warga sekolah kembali ke rumah masing-masing, karena hari Sabtu. Demikian juga kami&#8230;..perjalanan kali ini agak sunyi (ada yang lapar, ada yang kenyang&#8230;.dan ada yang mulai mengantuk!). Perjalanan diakhiri dengan makan siang yang asam dan pedas, hehehe jadi langsung melek deh&#8230;..sekian!</p>
<p style="text-align: justify">Nia Nugrahani</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendidikanpusaka.org/news/peninjauan-penerapan-program-16-mei-2009.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelepasan Tim Pendidikan Pusaka ke Belanda</title>
		<link>http://pendidikanpusaka.org/agenda/pelepasan-tim-pendidikan-pusaka-ke-belanda.html</link>
		<comments>http://pendidikanpusaka.org/agenda/pelepasan-tim-pendidikan-pusaka-ke-belanda.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Apr 2009 10:47:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendidikanpusaka.org/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Sekretariat Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) mengundang ibu/bapak untuk berkenan menghadiri acara pelepasan tim BPPI &#8211; Pendidikan Pusaka yang akan berangkat ke Belanda pada 18 &#8211; 26 April 2009, yaitu: 1. Suhadi Hadiwinoto (koordinator penulis modul Program Pendidikan Pusaka) 2. Erry Utomo (Pusat Kurikulum Pendidikan Pusaka) 3. Nia Nugrahani (penulis modul pendidikan pusaka bidang tangible) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sekretariat Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) mengundang ibu/bapak untuk berkenan menghadiri acara pelepasan tim BPPI &#8211; Pendidikan Pusaka yang akan berangkat ke Belanda pada 18 &#8211; 26 April 2009, yaitu:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>
<ol>
<li>1. Suhadi Hadiwinoto (koordinator penulis modul Program Pendidikan Pusaka)</li>
<li>2. Erry Utomo (Pusat Kurikulum Pendidikan Pusaka)</li>
<li>3. Nia Nugrahani (penulis modul pendidikan pusaka bidang <em>tangible</em>)</li>
<li>4. Elanto Wijoyono (Koordinator Lapangan Program Pendidikan Pusaka)</li>
<li>5. Muhammad Daim (Koordinator Forum Guru Pendidikan Pusaka D.I. Yogyakarta)</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Acara akan dilaksanakan pada:<br />
Hari, tanggal: Sabtu, 18 April 2009<br />
Pukul: 11.00 &#8211; 14.00 WIB<br />
Tempat: BPPI Jl Veteran I no. 27 Jakarta 10110<br />
Agenda:</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>
<ul>
<li>- pembukaan oleh Dewan Pimpinan BPPI diwakili oleh Ibu Pia Alisjahbana</li>
<li>- laporan persiapan keberangkatan tim oleh Koordinator Program Pendidikan Pusaka Ibu Laretna T. Adishakti.</li>
<li>- presentasi perkembangan program Pendidikan Pusaka oleh tim Pendidikan Pusaka BPPI.</li>
<li>- makan siang (nasi ulam Miss Jaya).</li>
<li>- pelepasan team oleh Direktur Eksekutif BPPI Catrini P. Kubontubuh.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian dapat disampaikan, kehadiran ibu dan bapak sangat diharapkan untuk memberikan motivasi dan semangat.</p>
<p>Catatan: selain rombongan yang akan berangkat tanggal 18 April dari Jakarta, maka akan ikut dalam kunjungan adalah Bapak Hairus Salim (penulis modul pendidikan pusaka bidang <em>intangible</em>) yang menyusul langsung di Amsterdam, serta Ibu Hasti Tarekat selaku dewan pimpinan serta representatif BPPI yang berdomisili di Amsterdam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendidikanpusaka.org/agenda/pelepasan-tim-pendidikan-pusaka-ke-belanda.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

